#harikedelapanpuluhlima

Halo,
Kemarin adalah #harike84
Saya akhirnya menuliskan bahwa saya sakit. Beberapa orang bertanya, "Sakit apa?"
Sejujurnya, untuk menuliskan bahwa saya sakit adalah seperti 'bukan saya'. Bahkan saya sendiri sulit untuk menjelaskan bahwa sakit apa yang saya alami. Lebih tepatnya, saya takut diketahui sakit apa. Saya takut kalian akan menjauhi saya. 
Biar rasa penasaranmu muncul dan cukuplah sampai engkau tahu bahwa sakit. 
Jika peduli, cukup berada di samping saya.


Sejak beberapa bulan terakhir saya belajar membagi kehidupan saya, mana yang seharusnya saya bagi ke sosial media dengan mana yang saya hanya akan cerita ke teman-teman terdekat. Bahkan untuk IGs dan WAs saya benar-benar batasi saat ini. Mohon maaf beberapa nomor tidak saya simpan. Saya harap orang-orang yang saya pilih sebagai 'teman terdekat' tersebut adalah orang-orang yang benar-benar saya harapkan menjadi penolong saya di masa depan. Setidaknya, memang tidak enak menyimpan sendiri, kadang kita butuh teman untuk cerita tapi, yaa bukan berarti saya akan cerita ke semua orang secara detail. 

Jika kalian tidak bisa membaca story-story saya, maka dengan kerendahan hati saya mohon maaf. 

Baiklah, saya ingin cerita kenapa akhirnya saya berobat.
Sebenarnya saya sudah lama ternyata mengalami sakit, seingat saya dulu jaman kuliah strata satu pernah juga dikasih obat sejenis, dan saya abaikan. 
Mungkin ada sekitar 8 tahunan saya sudah mengalami sakit, sampai akhirnya selama 2018 benar-benar saya mulai merasakannya, dan selama empat bulan terakhir Januari sampai April, rasanya semakin parah. Saya mulai benar-benar merepotkan orang lain karena saya sendiri tidak bisa. Buat yang bilang bahwa saya tidak ada usaha sembuh, I do. I survive until now. Sampai bulan April, ketika saya melakukan internship di Indonesia, saya beranikan ke dokter. Awalnya saya ragu, apakah harus saya ke dokter? Saya nyaris lari ketika sebentar lagi nama saya dipanggil. Namun, teman saya yang seorang dokter yang tengah menempuh pendidikan dokter spesialisnya mencoba menyakinkan saya bahwa saya termasuk sudah berani ke dokter dan berada di depan pintu. 
Saat itu, saya pikir akan sayang sekali uangnya kalau saya mundur. Saya pun memberanikan diri masuk. Itu pertama kalinya saya didiagnosis sakit oleh dokter. Saya diberikan dua jenis obat, dan selama saya konsumsi rasanya semakin tidak membaik. Entah obatnya yang tidak cocok untuk saya mungkin. 
Beberapa minggu kemudian, saya pun mengganti dokter dan saya pilih di dokter perempuan. Dan sama beliau, saya diberikan tiga jenis obat. Dan, saya didiagnosis bukan cuma satu sakit namun ada dua. Saya sengaja mengambil tes juga. 
Tapi, saya mulai merasa baikan sekarang. Hari ini ketika saya menulis tulisan ini, adalah hari ke delapan puluh lima saya menjalani perawatan (jalan). Semoga sakit saya tidak kumat lagi sehingga tidak mengganggu perkuliahan saya yang tersisa ini.

Teman-temanku, terima kasih sudah mulai memahami saya :')

Cheers,

isti

PS: Ku gak sakit terlalu parah kok tapi emang butuh perawatan supaya sembuh, bisa bulanan hingga tahunan :)

No comments:

Post a Comment