happy thesis : all my dramas are here



Hari ini saya ingin cerita tentang tesis, atau skripsi, atau sejenisnya. Kalau di luar negeri thesis itu ya skripsi, atau biasanya disebut bachelor thesis. Soalnya mereka tidak punya kata skripsi.
Tentu kalau di Indonesia semua kampus akan meminta kita untuk mengerjakan tesis ketika menyelesaikan pendidikan magister, namun tidak di luar negeri. Ada beberapa kampus tidak mewajibkan untuk mengerjakan tesis, eitsss ini untuk beberapa kampus tertentu ya. Dan di kampus saya, tesis adalah sebuah kewajiban ketika engkau hendak mendapatkan selembar ijazah yang ukurannya lumayan lebar saudara-saudara.

Mengerjakan tesis tentunya akan menguras tenaga, pikiran dan juga perasaan. Saya kehilangan beberapa kilogram berat badan saya dengan pola makan dan pola tidur yang tidak teratur. Kemudian, saya juga merasa ada ketakutan yang muncul tiba-tiba ketika mengerjakan tesis ini, contohnya ketakutan membuka email. Tentunya hal ini mengganggu mood saya.

Di tulisan kali ini, saya tidak akan menggurui, saya hanya ingin berbagi pengalaman yang saya lihat dan dengar dari teman-teman saya mengenai cara manajemen tesis mereka.


Jaga pola hidup sehat

Saya tahu ini sedikit terdengar berat wahai mahasiswa semester akhir khususnya yang kuliah di luar negeri. Misalnya soal makanan, mau makan di luar lumayan mahal, sekali makan bisa (anggaplah) 3-5 euro (ini mah cemilan doang kayaknya macam roti gitu), nah kali 3 kali makan, itung sendiri dan konversikan ke rupiah. Kalau mau berkorban dan gak sayang duit (tapi sayang diri) sih, oke-oke aja jajan di luar. Tapi... bagi yang mahasiswa yang sedang menabung (khususnya teman-teman saya yang sedang berusaha menghalalkan "ehem" calon ketika pulang nanti) tentu mereka akan berusaha membagi jatah bulanan dengan tabungan. Mau tabungan gak kerogoh sedikit demi sedikit, ya kudu irit di makanan. Caranya? Masak! Dan kurangi jajan.

Sebenarnya, mengatur makan memang bisa dibilang gampang-gampang susah sih. Jadi kalau dari saya seperti ini, minimal kalian punya persediaan roti, sereal, susu, selai, dan buah-buahan untuk dikonsumsi pada saat sarapan. Makan siang? Bolehlah jajan di luar. Nah, kalau sempat sih masak walaupun cuma serba sayuran rebusan plus telor ceplok (tambah taburan merica dan boncabe) tapi bisalah divariasikan dengan telur rebus atau sayuran tumis yang mudah dibuat. Makan malam, sembari mengistirahatkan pikiran bisa nih bereksperimen di dapur. Eitssss tapi jangan sampe masaknya 3-4 jam ya :)



Itu baru soal makanan, gimana soal yang lain??? Khususnya nih tidur.
Nah, kamu juga harus tahu bahwa waktu tidur itu sangat penting. Saya mengalami sleep problem selama mengerjakan tesis ini, dimana saya tidur pukul 4 pagi dan harus bangun pagi-pagi untuk solat terus setelah itu tidur lagi hehe. Kurangnya waktu tidur tentu akan mempengaruhi kinerja kita, semangat dan mood, dan tentunya manajemen waktu kita untuk belajar akan buruk. Saya sampai berkonsultasi untuk masalah ini dan saya juga mendapatkan beberapa saran seperti:
  • Mengurangi paparan dengan radiasi komputer atau telepon selama 30 menit menjelang tidur, semakin lama kamu mantengin layarnya, akan mempengaruhi juga (kata dia sih)
  • Melakukan kegiatan fisik juga penting
  • Kalau bisa relaksasi sebelum tidur seperti minum susu hangat atau mandi biar seger.

Oh yaa, dengan menjaga pola hidup 'sehat' tentu harapannya kesehatan kita bisa terjaga juga. Kalau sakit kan akan susah berkonsentrasi dan akan menganggu kita nesis. Saya juga terkadang melarang diri saya sakit selama Senin hingga Jum'at. Saya bilang ke diri saya, kalau mau sakit tolong hari Sabtu atau Minggu saja, ketika Senin harus pulih kembali. Memang sedikit memaksa, tapi dengan adanya ini, saya tidak semata-mata melarang diri saya sakit, tapi saya juga harus merawat kesehatan diri saya; makan yang sehat, istirahat yang cukup dll.

Kalau sudah mulai terasa sakit, segera minum vitamin, atau biasanya saya akan beristirahat penuh satu hari, minum teh jahe campur lemon plus makan buah yang banyak.

Kata teman saya, tubuh kita akan memberi sinyal kalau mulai lelah, jangan paksakan :)


Manajemen Waktu

Nah, saya belajar dari Bapak-Bapak rekan saya yang kuliah di sini, beliau semua sudah bekerja dan sedang mengambil cuti untuk pendidikan. Rutinitas ngantor mereka yang berangkat pagi dan pulang petang ternyata bagus dijadikan kebiasaan. Awalnya saya berangkat ke kampus nanti ketika pukul 1 siang dan pulang pukul 10 malam. Tapi estimasi waktu yang benar-benar saya gunakan ke tesis sekitar 4-5 jam, sisanya saya pakai ngobrol, main YouTube, main sosmed, ngobrol, makan, ngobrol dll.


Akhirnya ada masa saya merubah pola ini, saya harus ke kampus jam 9 pagi dan ada waktu minimal 2 jam saya gunakan di pagi hari belajar dan sisanya saya lanjutkan pukul 1 siang hingga malam. Bisa dianggap waktu saya belajar sedikit bertambah.

Selain itu, saya juga berusaha untuk mengurangi jatah ngobrol di kampus ketika tengah mengerjakan tesis (Mungkin teman-teman akan merasa bahwa saya judes sekali karena gak negur orang dan cenderung pakai headset, bahkan kadang-kadang saya gak gubris orang). Ini semua saya lakukan agar saya benar-benar memaksimalkan waktu saya buat tesis. Saya mengestimasi waktu 3 bulan untuk menulis laporan tesis saya dan waktu tiga bulan itu ternyata tidak lama gaes! Singkat banget!!!
Ingat, apa prioritasmu saat ini.
Apakah tesis, ataukah hal yang lain?
Penting juga kamu sadar bahwa dirimu termasuk tipikal yang bisa multitasking atau tidak.



Untuk manajemen waktu sendiri, saya membuat catatan di kamar mengenai apa target saya per bulan. Meskipun targetnya sudah mundur sebulan tapi alhamdulillah masih bisa terkontrol dengan baik. :)

Selain waktu belajar, saya juga menyediakan waktu istirahat saya seperti nonton, masak-masak, sepedaan keliling, berenang, dan juga (kembali) untuk panahan. Waktu-waktu spesial ini sangat perlu untuk menjaga mood kita dan mengurangi perasaan tertekan dengan adanya tesis.

Pssttt. Ada waktu dimana saya mengorbankan Sabtu-Minggu saya loh! Biasanya Sabtu-Minggu benar-benar saya akan off dari tesis, tapi karena ada saat dimana tesis saya benar-benar butuh perhatian lebih, makanya saya harus mengorbankan jatah liburan saya ini. Alhamdulillah, jatah liburan ini bisa terganti ketika saya sudah mensubmit revisian. Setidaknya ada waktu "free after submitting". (Apaan yaa :) )


Revisian banyak? Dosen killer!

Gimana yaa dengan masalah ini?
Eh bukan masalah sih sebenarnya. Sebenarnya saya pun merasakan banyaknya revisian, khususnya masalah grammar, apalagi grammar saya yang ancur sekali :(
Tapi yaa gaes mau gimana lagi, soalnya kan ini bukan bahasa kita juga, maksud saya kita bukan orang asli yang menggunakan bahasa Inggris kan yaa, jadi saya merasa ya udahlah (meskipun merasa belajar IELTSku jauh sekali ternyata dari realita sekolah di luar negeri, pengen nangis tuh kadang-kadang.) tetap positif dan berusaha mengurangi kekesalan dalam hati

Ketika mendapat revisian banyak, maka hal yang saya lakukan adalah ... nonton film kemudian tidur. Saya merasa cukup bertemu dosen dan mendengarkan komen dan coretannya di kertas saya. Saya butuh menenangkan diri hahah :)
Keesokan harinya baru deh, dengan perut yang sudah terisi sarapan, dengan mood yang lumayan baik, saya buka pelan-pelan kertas yang penuh komentar tersebut. Pelan-pelan saya berusaha merangkai apa yang dimaksud dosen saya. 
Psstt... kalau mau revisi pas lagi mumet lihat coretan di sana sini jadi gak mood gaes. 

Oh ya, hal yang sering terlupakan, sebenarnya saya kurang paham dengan situasi teman-teman, tapi karena kedua orang tua saya latar belakang pengajar, saya selalu menganggap dosen pembimbing adalah "orang tua" saya sendiri. Jadi, artinya, apapun komentarnya, masukan dari mereka itu yang terbaik kok untuk kita.
Mari berusaha berpikiran "positif" kepada dosen pembimbing, tidak boleh mencela, ngedumel boleh tapi jangan kelamaan dan sampai menghina beliau. Gimana mau nyampai ilmu dosennya kalau kita berperilaku seperti itu kepada mereka.

Ada banyak hal mungkin yang terlintas dipikiran kita mengenai problematika tesis dan dosen pembimbing ini, seperti:

Salah pilih dosen pembimbing? 
No!!! Dosen kalian adalah orang keren dan pintar, gimana ceritanya bisa salah, emang bakal ngajar salah? Enggak kan? Dan juga, sebelum memilih beliau menjadi dosen pembimbing, kalian sudah tahu kan latar belakangnya, tentu kalian memilihnya karena latar belakang yang sama dengan topik penelitian kalian. (eitsss ada latar belakang lain?)

Dosennya banyak maunya! 
Apakah kamu wajib mengikuti semua yang dia sarankan? Kalau di saya alhamdulillah enggak, beliau memang memberikan saran tapi kembali apakah saran tersebut akan saya ambil atau tidak tergantung saya, asal alasannya kuat loh kenapa gak mau mengikuti saran beliau.
Tapi menurut saya, di tesis kamu ada "wajah" dosen pembimbingmu khususnya ketika kamu mau publish buat jurnal atau buat presentasi dan sidang akhir, dosen juga ingin kalian mengerjakan yang terbaik, makanya beliau banyak memberikan saran dan masukan untuk kalian. 

Dosennya sibuk, gak ada waktu!
Wajar dong. Saya ketemu dosen saya sebulan sekali loh man-teman. Tapi yaa karena beliau punya 10 orang mahasiswa bimbingan, ditambah jadwal mengajar, ditambah jadwal konferensinya, ditambah jadwal keluarga dan mengurusi organisasinya. Saya percaya, sesibuk apapun mereka akan menyediakan waktu untuk kita, buktinya saya minimal bimbingan sebulan sekali :)


Menjaga kesehatan fisik dan mental

Sejujurnya saya punya permasalahan dengan kepanikan, ketika deadline saya bisa panik sekali. Tidak bisa makan dll. Apalagi ketika serangan panik saya kambuh entah karena salah kirim, telat kirim dan dosen email, atau apalah, rasanya jantung berdetak kencang sekali sampai sesak napas dan mual. 

Untuk mengontrol itu semua, baru beberapa minggu saya lakukan sih untuk mengurangi panik saya ini dengan banyak-banyak "istighfar" atau ngomong gak jelas seperti "aal iss well" pokoknya semuanya akan baik-baik saja Isti.

Memberikan waktu untuk otak, fisik dan perasaan beristirahat tentunya sangat penting. Ingat kalian bukan robot, kalian manusia, wajar kalau pusing dan lelah. Solusinya, istirahat.




Hilang motivasi dan mood nesis?

Ini adalah pertanyaan yang teman thesis ring saya ajukan. Memang sih ada waktu dimana kita kehilangan dan benar-benar lelah dengan tesis. Wajar gaesss. Saya pun demikian kok, bukan dikau seorang. Ada beberapa tips yang saya bisa rangkumkan dari hasil diskusi saya dan teman-teman saya.
  1. Ganti suasana nesis. Nesis di tempat yang sama pasti bisa jadi menimbulkan kejenuhan. Nah, ganti suasana. Ada teman saya yang nesis di kafe, di perpustakaan, di kampus, di taman, di bawah pohon dan bahkan pergi ke kampus lain untuk mencari suasana baru. Harapannya dengan nesis di tempat baru akan menyegarkan pikiran kita juga. Intinya pilih lingkungan yang kondusif buat kamu nesis.
  2. Ingat ketika kamu memulai tesis ini. Ingat kembali ges.
  3. Kamu punya jadwal? Nah bisa juga dilihat-lihat tuh jadwal kalian bulan ini apa targetnya. Kalau teman saya malah membuat target harian dan mingguan. Kembali lagi, waktu 6 bulan nesis itu ternyata singkat sekali. Sejujurnya saya yang ngerjain tesis dari pertengahan Agustus hingga sekarang Maret berarti sudah tujuh bulan lebih gaes nesis. (kaget sendiri pas ngitung)
  4. Beri hadiah kecil untuk dirimu yang sudah mensubmit deadline per chapter atau per findings. Misal seperti saya, ketika saya sudah submit revisian, saya akan makan enak ke kafe kah atau nonton sepuasnya. Emang sedikit receh ya :)
  5. Tulis walau hanya sebaris. Jangan pernah berhenti nulis. Apapun yang terlintas segera catat!


Teman belajar dan diskusi

Alangkah lebih baiknya ketika kita punya lingkungan teman yang sama-sama sedang mengerjakan tesis. Di kampus saya disediakan ruangan untuk nesis dan juga thesis ring, jadi teman-teman segrup tesis (chair group) saya bisa kerja bersama di sana, saling berdiskusi, dan membantu satu sama lain kalau butuh bantuan. Dengan adanya teman yang sedang berjuang bersama, setidaknya kita bisa termotivasi untuk mengerjakan tesis. Masa iya teman lainnya tatap-tatapan dengan lembaran tesis, kita malah stalking-in artis eh atau mantan #uppss



Jangan lupa, minta didoakan sama orangtua dan keluarga.

Jadi tuh yaa, karena tesis saya di "rumah", dimana orang tua yang nganter kemana-mana, jadi mereka alhamdulillah tahu proses saya nesis. Bahkan sampai di Belanda pun mereka selalu menanyakan, "Sudah sampai chapter berapa Nak?" 
Pertanyaan ini sebenarnya oke-oke saja sih, tapi bisa jadi tekanan kalau ditanyakan saat kita sedang tertekan dengan beban tesis dan revisian yang banyak. Yang saya lakukan adalah membalas, "Mohon doakan semoga lancar-lancar," Ingat gaes, doa orang tua lintas benua pokoknya, insyaa Allah! Walau pun jauh, doakan dan restunya akan selalu sampai. 


Selain itu, jangan lupa juga mendoakan dosen pembimbing apalagi pas konsultasi dan ujian, seperti minta dilembutkan hatinya untuk menerima alasan kita ketika diskusi. Minta dimudahkan lisan kita ketika menjawab dan berdiskusi. Ingat Allah itu asik dan Maha Baik, Dia punya segalanya.

Saya yakin, tesis ini adalah salah satu ujian buat kita naik tingkat jadi orang yang lebih baik. Dan, pasti kita akan bisa melewatinya kok :)

Semua orang yang mengerjakan tesisnya tentu memiliki drama yang berbeda-beda, kita tengah menjalani sebuah skenario nih. Percaya saja kita mampu kok, ada keluarga dan teman yang menyemangati, bahkan ada Allah yang akan bantu :)

Kusuguhkan engkau kisah mereka

Saya pernah melihat Nunuq yang kehilangan data-datanya di komputer dan dia belum sempat menyimpan data tersebut. Reaksinya? Dia berusaha untuk tenang. Kalau saya diposisi dia mungkin sudah menangis bombay dan marah-marah tidak jelas.

Ada Pak Eko yang harus mematikan ponselnya untuk bisa berkonsentrasi ketika menulis laporan tesis. Bahkan untuk menghubungi istrinya pun (dengar-dengar) menggunakan email. Oh ya, beberapa teman saya harus meng-uninstall aplikasi sosial media. Kata mereka sih, lumayan mengganggu waktu nesis. Apalagi kepoin IGS orang.

Lain cerita dengan Mbak Hanum, gimana yaaa... dia itu seorang mahasiswa namun seorang Ibu dan istri, kewajibannya bertambah kan. Saya selalu penasaran bagaimana dia bisa mengatur waktunya.

Rahma, teman saya yang berapa kali gagal eksperimen di laboratorium sehingga harus mengulang lagi dari nyaris awal. Tapi dia cuma ngedumel sebentar, tidak lama, kemudian dia berusaha untuk ambil positifnya. Dan voilaa!!! Kerjaan di laboratoriumnya sudah selesai. Semangat menulis reportnya Rahma.

Rika, dari latar belakang sosial yang berhubungan dengan masyarakat, kini demi mengejar keinginannya menjadi ahli toksikologi, dia pun harus berjuang di laboratorium. Mulai menimbang larutan dan sebagainya. Berinteraksi dan mengamati hewan ujinya. Dan tbh, uji toksisitas itu susah gaes.

Rifky yang satu chapter bisa lebih dari 3 kali revisi, tapi alhamdulillah dia berusaha tenang dan mengambil positifnya.

Pak Ikhsan, yang harus mengulang matkul statistik nyaris 4 atau 5 kali dan hasilnya... tesisnya dapat A. Beliau ini selalu berangkat 8.30 dan pulang ketika petang. Orang yang sangat teratur dalam hal manajemen waktu.

Yulia yang senantiasa memposting kebahagiaan menikmati proses tesisnya di status-status sosial medianya, padahal ketika bertemu langsung, wajah lelah yang akan terlihat. Semangat terus dan sebarkan hal positif Yulia.

Kak Adlien, yang tengah merasakan trimester awal, harus menahan rasa mual dan sensitif terhadap bau-bauan. Kini tengah berjuang "berlari" untuk tesisnya. Semangat buat para bumil-bumil di luar sana, yang bekerja, yang di rumah, yang sedang sekolah, kalian semua luar biasa. Kupikir hamil mual  ngidam itu "sederhana" namun tidak, ternyata prosesnya indah :')

Raissa dan Daniel, yang dulunya semasa di S1 lebih banyak berkegiatan di laboratorium namun kini, mereka harus belajar dari awal bagaimana sabar dalam melakukan penelitian sosial. Banyak jurnal yang harus dibaca. Banyak email permohonan interview yang harus dikirimkan. Banyak dan jauh rute perjalanan yang harus ditempuh untuk narasumber.

Dan teman-teman saya lainnya yang luar biasa, maaf saya tidak bisa menyebutkan satu per satu.

Semua orang punya kisah masing-masing.

Dan...
Demikian apa yang bisa saya bagi ke teman-teman semuanya. Saya menulis ini bukan berarti saya baik-baik saya dalam proses pertesisan. Nangis gaes, kadang teriak-teriak gak jelas dan bercucuran air mata kerjakan tesisnya, tapi alhamdulillah one step closer untuk final draft
Oh ya mohon doa, moga saya bisa dimudahkan dalam tahap revisian, duh kemarin revisian sampai gak kebaca lagi tulisan saya :')

Insyaa Allah kalau tidak ada halangan (lagi), minggu depan saya colloquium alias seminar hasil terbuka, dan minggu berikutnya lagi saya ujian tesis.
Semoga lisan saya dimudahkan ketika menjabarkan apa yang hendak saya sampaikan.
Semoga penguji dan teman-teman dilembutkan hatinya :')

Bismillah!!! Semangat untuk kita semua




Ditulis di kamar, Asserpark 44
Pukul 23:35
Wageningen, 13 Maret 2019 




No comments:

Post a Comment