#RandomTalk : Pendapat tentang Makanan tidak Halal?

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, apa yang saya rasakan. Semoga bisa dilihat dari posisi yang netral.

Sedikit Bercerita

Sejak sebelum saya tinggal di negara minoritas ini, saya sudah memiliki lumayan banyak teman dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Ketika saya SD pun saya berada di lingkungan yang amat sangat bercampur dan hidup berdampingan dengan beragam perbedaan. Agama Islam, Hindu dan Kristiani hidup damai di desa tempat saya kecil. Bahkan lokasi Gereja dan Mesjid hanya dibatasi dengan pagar saja. Demikian pula dengan Pura, hanya beberapa ratus meter dari dua tempat beribadah lainnya. Di dekat kuburan umum, terdapat satu pura kecil yang nampaknya digunakan sebagai tempat beribadah juga. Tiap malam anjing di rumah-rumah warga Kristiani dan Hindu menggonggong, saya tidak pernah mendengar ada yang meributkan tentang hal ini. 


Versi wikipedia bisa dilihat di sini : Haram "Wikipedia"

Ketika saya melanjutkan pendidikan di Belanda, pertama yang menjadi kekhawatiran saya adalah soal makanan. Alhamdulillah, makanan halal begitu mudah saya temukan, toh pilihannya paling mentoknya adalah makan sayuran, telur dan ikan saja. Namun, terkadang ada hal yang sedikit mengusik saya persoalan halal dan haram makanan. Bagi orang Islam tentu makan Babi dan hewan-hewan yang tidak dipotong secara halal merupakan larangan. Tapi, ketika ada beberapa teman yang "menjijik-jijikkan" makanan haram ini, ada perasaan kesal di dalam diri saya. Saya tahu itu haram, tapi cukup sampai disitu dan tidak usah dimakan. Ketika ada yang menawari makan babi atau daging (khususnya teman-teman bule yang belum paham tentang halal haram), saya cuma bisa bilang, "Saya tidak bisa makan," dan mereka tidak memaksa. Sama konsepnya ketika menawari orang vegan atau vegetarian untuk makan daging, bagi mereka itu adalah pilihan hidup dan gaya hidup (ini pemahaman secara sederhana, karena saya malas debat, ribut, dan menjelaskan dalam kata-kata yang lebih panjang dan ribet dll).

Ada beberapa kata-kata teman-teman yang sangat membekas diingatakan saya ketika tahu ada teman (yang bukan Islam) makan babi, 
"Ih, itu haram." Penggunaan kata 'IH' saja sudah tidak enak didengar, tapi memang betul haram sih. 
"Jijik," Saya cuma akan menggunakan kata ini pada sampah atau sesuatu yang jorok bukan pada makanan
"Iyek atau Iyuh." Ini yang paling ekstrim, dan tipikal orang yang merespon makanan dengan kata ini adalah orang-orang yang saya tidak sukai.

Oh ya kembali ke tempat tinggal saya, Abah saya sering sekali mendapat undangan acara hajatan dari teman-temannya yang non-muslim. Orang tua saya tetap menghadiri acara tersebut ketika beliau bisa menghadiri. Terus disana makan gak??? Nah, soal ini sebenarnya bukan rahasia umum, karena kami hidup di lingkungan yang beragam agama, jadi semua orang saling memahami. Orang tua saya hadir namun tidak makan, hanya mengambil minuman air putih kemasan yang disajikan oleh yang punya hajatan.

Kenapa saya tidak suka sama orang yang mencela makanan?

Jangankan makanan halal dan haram, makanan kedaerahan pun saya pernah mengalami hal seperti ini. Maka dari itu, saya pun agak enggan mengeluarkan dan tidak suka mendengar kata-kata yang terkesan menghina makanan. Hal tersebut membuat mood rusak dan selera makan hilang, dan bisa jadi "kamu" baru saja membuka gerbang untuk orang tidak menyukai tabiatmu tersebut yang menghina makanan. 
Makanan daerah timur "papeda/sinonggi/kapurung", contohnya, saya sering sekali mendengar orang mengatakan, "Oh makanan yang mirip ingus itu ya?" WHATTT!!! Siapa yang berselera makan kalau makanan tersebut disamakan dengan ingus???
Atau ini, ketika ada teman yang tanya tentang bahan-bahan yang digunakan untuk bikin coto Makassar, dan saya menjawab salah satunya adalah "air cucian beras" (ini bukan cucian beras pertama saudara-saudariku, air cucian beras yang bersih pokoknya), dan apa respon salah satu teman saya, "Ih, jijik sekali." Spontan saya sedikit emosi, apalagi teman saya tersebut sering makan coto Makassar.
Terus terang saya kesal sama mereka saat itu, tapi itu menjadi pembelajaran juga bagi saya untuk tidak melakukan hal yang sama khususnya kepada teman-teman saya yang lain baik yang pecinta makanan kedaerahan yang unik dengan bumbu dan proses yang unik, maupun teman-teman saya yang beragama berbeda yang bisa dengan lahap makan makanan dari bahan babi dan lain-lain.

Oh ya, saya pernah mendapatkan artikel tentang hadits yang berhubungan dengan mengomentari makanan.


Lebih lengkap silahkan dibaca di sini : https://konsultasisyariah.com atau googling dan bertanyalah pada orang yang lebih paham tentang apakah boleh menghina makanan. 

Tips dari saya

  1. Yang namanya makanan ya makanan. Mau itu halal, haram, terbuat dari proses yang sedikit "berbeda", bahan-bahannya sedikit "unik", ya sudah itu makanan. Kalau tidak suka, tidak bisa makan, ya sudah cukup diam dan tidak makan (nolak secara halus), tidak usah komentar apalagi menghina makanan. 
  2. Belajarlah menghargai perbedaan. Tidak semua orang itu "sama". Contoh sederhananya, saya dan adik saya yang notabene makan yang sama dari kecil pun banyak perbedaan. Saya penyuka telur ceplok sedangkan adik saya suka telur dadar. Tapi kita tidak pernah saling hina menghina.
  3. Cobalah untuk sedikit membuka ruang "pertemanan", supaya kita tidak kaget ketika dihadapkan dengan sesuatu yang berbeda. 
  4. Berkatalah terus terang ketika kamu tidak bisa makan makanan tertentu.
Terimakasih sudah membaca sedikit cerita hidup saya, alhamdulillah sejauh ini saya bisa mendapatkan makanan halal, bisa berbaur semeja dengan teman yang makan yang tidak halal (caranya gimana? Nanti saya posting di tulisan selanjutnya.)

Salam,

Isti. (Setelah berpikir sedikit lama akhirnya berani nulis ini)

No comments:

Post a Comment