#JalanRandom : Marhaba, Morocco!



Kami tiba di Bandara Madrid amat sangat tepat waktu, kami harus pindah dari terminal empat (T4) ke terminal satu (T1) bandara dengan menggunakan bus yang disedikan oleh pihak bandara. Kami menyempatkan untuk mengisi perut dengan membeli fish burger di King Burger bandara sebelum akhirnya masuk ke dalam untuk check-in. Sesaat sebelum check-in saya menyadari suatu hal yang saya lupakan. Ketika melewati scanning, tidak ada pengecekan dan segalanya aman. Laila berkata, "It is fine, Isti." Lalu perasaan saya tidak enak, "No, Laila. It is not fine. I forget my skin care stuffs in the airbnb room!"

Yap, saya melupakan semua peralatan skincare, sikat gigi, pasta gigi, dan juga sunblock disana. Setelah memasuki ruangan demi ruangan, saya pun segera menghubungi pihak airbnb kiranya ketika menemukan bisa segera mengirimkan barang-barang saya yang tertinggal tersebut ke alamat housing saya. Sayangnya, mereka mengatakan bahwa tidak menemukan apapun. 


Masuk di bandara Madrid khususnya untuk perjalanan menuju ke Maroko, saya harus melakukan pengecekan demi pengecekan. Saat itu, pesawat kami delay dari pukul 21.00 malam menjadi pukul 23.30. 
Sembari menunggu waktu kami mengatur ulang lokasi tujuan kami. Awalnya saya cuma ingin naik unta saja dan keliling di kota Marrakesh, sedangkan Laila yang memang bertugas untuk membuat list destination places kami, memasukkan list beberapa lokasi yang terkenal seperti :
  • Chefchouen (Blue City)
  • Ait Ben Haddou (Lokasi syuting Games of Thrones)
  • Erg Chebi (Saharian Erg untuk lokasi nginap di gurun sahara)
  • Casablanca
Setelah menghitung anggaran yang tidak mencukupi dan waktu yang terbatas kami pun memutuskan untuk mengunjungi Chefchouen saja dan Marrakesh serta memasukkan list menunggangi unta sebagai salah satu opsi yang harus kami lakukan di sini.

Kami membuat rute bahwa esok hari tanggal 18 Juli, kami harus berangkat ke Chefchouen dengan jalur kota Fez dan saya pun menghubungi Andhina untuk membayarkan penginapan di Fez dengan paypal dia. 

Lalu,

Saya nyaris saja tidak bisa masuk ke pesawat karena petugas mengatakan bahwa saya tidak memiliki visa entry ke Maroko. Akhirnya saya bilang bahwa Indonesia masuk ke dalam free visa ke Maroko, dan mereka melakukan pengecekan ulang. Saya pun masuk bersama Laila ke dalam pesawat namun dengan posisi duduk yang berbeda. 

Karena terlalu lelah, sesampai di dalam pesawat saya pun langsung tertidur. Namun, alangkah herannya saya ketika mendengar suatu kebisingan yang terjadi. Saya pikir saya berada di dalam bus malam, atau pesawatnya yang belum berangkat juga. Saya pun membuka mata. Beberapa orang terlihat berdiri, mengeraskan suara satu sama lain untuk mengobrol. Ibu-ibu dan beberapa perempuan usia saya dengan pakaian seragam kaus hitam berbincang-bincang layaknya mereka tengah berada di restauran dan sedang mengadakan reunian bersama. WTH! Terus terang saya tidak nyaman akan situasi ini. Ini pertama kalinya saya naik pesawat dengan suasana segaduh ini. Waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Pramugari pun terlihat tidak peduli. Mereka beriklan, menawarkan jualan, berlalu lalang, dan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Mungkin saya saja yang belum pernah merasakan suasana pesawat seribut ini. Dari semua perjalanan saya di summerbreak ini, jujur perjalanan Madrid ke Maroko merupakan yang termahal untuk tiket pesawat, dan saya merasa sangat kecewa dengan fasilitas kenyamanan yang jauh berada di bawah standar seperti ini. Beberapa penumpang juga terlihat lelah dan kesal mendengar kegaduhan tersebut. Anak-anak bebas berlarian di dalam pesawat. Orang dewasa bebas bersuara keras layaknya tidak ada penumpang lain. Saya memulai perjalanan ke Maroko dengan perasaan sungguh mengesalkan.

Tiba di kota Marrakesh

Kami tiba pukul 02.00 dini hari. Bandara Marrakesh benar-benar memberikan pemandangan yang cantik dimata kami. Kerlap lampu yang menyala, warna dan corak khas timur tengah, benar-benar membuat para pengunjung merasa takjub. Saat itu, saya segera menghubungi Siham, sebagai pemilik kamar airbnb tempat kami menginap. Oh ya, dia juga menawarkan makan malam tapi karena berhubung karena pesawat kami delay saya pun bilang ke dia untuk tidak menyediakan apa-apa karena kami sudah membeli makanan selama di bandara. Siham sangat baik, dia membalas dengan cepat pesan-pesan kami. Saya pun bertanya tentang ongkos yang harus saya bayar untuk ke tempat dia. Oh ya sebelumnya saya dan Laila menukarkan uang di bandara Madrid namun kursnya sangat rendah sekitar 1 euro = 8 dirham, kami hanya menukarkan uang sebesar 50 euro saja di sana. Sampai di Bandara Maroko kami juga menukarkan uang, dan kursnya lumayan bersahabat sekitar 1 euro 10.58 dirham. Mungkin ini bisa menjadi tips untuk teman-teman, cek terlebih dahulu nilai tukar uang kalian dengan mata uang negara tujuan. 

Atas saran Siham, kami pun membayar sebesar 200 dirham menuju rumah dia. Siham menunggu kami dengan sabar. Kami bercerita tentang rencana kami akan berangkat ke Chefchouen esok hari. Kami beristirahat sekitar pukul 03.30 pagi dan bangun pukul 06.00 pagi.

























Kami bangun dengan hidangan khas sarapan ala Maroko; roti goreng, selai, mentega, olive, madu, sejenis pancake tapi bukan pancake, jus jeruk dan juga teh khas Maroko. Setelah selesai sarapan, kami pun dihenna oleh Siham dengan membayar 50dirham per-tangan.

Oh ya, Siham ternyata khawatir dengan rute perjalanan kami. Awalnya kami akan berangkat ke Fez dengan kereta pukul 10.20 pagi, Siham menyarankan untuk mengambil kereta malam dan melewati jalur Tangier karena dari Tangier ke Chefchoen hanya memakan waktu kira-kira 2 jam lebih, sedangkan dari Fez ke Chefchouen bisa menghabiskan 4 hingga 5 jam. Tanpa mandi terlebih dahulu, kami mengikuti saran Siham, berkeliling Pasar di Medina, membeli beberapa souvenir dan juga sebelum pergi jauh kami membeli kartu internet Orange, sebenarnya kami bisa saja menggunakan kartu provider Lebara namun biaya yang harus kami keluarkan sebesar 9euro/MB dan itu adalah biaya yang cukup mahal untuk ukuran kami. Oh ya, saya lupa bilang bahwa seluruh perjalanan saya ini bertemakan low budget traveller. Jadi, kami membeli kartu internet dan kuota dan membayar sekitar 130dirham. Kami menggunakannya bersama-sama. Saya dan Laila juga berpatungan untuk uang yang bisa digunakan bersama selama perjalanan, dimana uang tersebut kami gunakan untuk membeli kartu internet, tiket bus kota, air minum dan juga tisu

Kami harus merelakan biaya penginapan airbnb di Fez!

Oh ya kami tidak mandi karena di rumah Siham tidak tersedia kamar mandi, dan saat itu kami tidak ahu jika kami harus mandi di Hammam alias kamar mandi bersama (khusus perempuan) yang berada di gang luar rumah Siham. Kami juga meninggalkan koper dan menitipkannya pada Siham, dengan tas ransel kami bersiap untuk perjalanan ke Kota Biru, Chefchouen. 

kami makan siang dengan roti yang kami bawa dari Granada
depan mesjid Koutobia
Kami mengunjungi pasar dan juga Mesjid Koutobia di daerah Jemaa el-Fna, di mesjid ini kami menyempatkan untuk tidur siang dan Laila juga sholat disitu. Menjelang pukul 4 sore kami singgah di KFC Koutobia dan membeli paket dinner seharga 54dirham (isinya ayam tiga potong, kentang, roti burger). Oh ya, hal penting yang Siham sarankan pada kami adalah : disini banyak jasa fake tour guide, percayalah pada google maps. Kota Marrakesh dengan bangunan yang nyaris mirip bisa jadi membuat kalian tersesat di sini. Beruntung saya dan Laila bisa bergantian membaca maps untuk memudahkan kami menuju lokasi yang kami inginkan. 


Saya juga sempat mengabadikan beberapa momen di Medina. Banyak atraksi ular dengan suara seruling dan tabuhan gendang yang terdengar bersahutan. Kami ditegur ketika mengambil gambar. Segalanya harus dibayar di kota ini. 


Bersiap ke Chefchouen

Nyaris pukul 6 sore kami bergegas menuju Gare de Marrakesh (Marrakesh Train Station) dengan menggunakan bus dan membayar 4 dirham per-orang. 


Sampai di Station, kami mengambil sejumlah uang, karena menurut kasaran perkiraan saya dari hasil internetan biaya yang kami butuhkan sebesar;
  • Tiket kereta Marrakesh - Tangier 216 dirham per orang
  • Biaya taksi Tangier - Chefchouen 450-700 dirham (pp: kali dua saja)
  • Tiket kereta Tangier - Marrakesh 216 dirham per orang
Kami akhirnya mendapatkan tiket setelah melewati banyak drama, sebenarnya kami berencana menggunakan atm Laila untuk menarik sejumlah uang, namun ternyata atm Laila sedikit bermasalah di tiga mesin yang berbeda, saya pun menarik sebanyak 1000 dirham untuk kebutuhan selama perjalanan ini.

Pukul 18.30 kami baru diijinkan masuk ke kereta. Suasana dalam kereta bisa dibilang sedikit berbeda dengan kereta-kereta sebelumnya. Kami bisa memilih duduk dimana saja. Oh ya, kami mengambil kereta kelas dua. Awalnya kami berencana untuk mencharge hape dan powerbank di dalam kereta, namun sayangnya fasilitas di kereta yang kurang memadai. Tidak ada colokan maupun AC dan saat itu malam di Maroko akan dimulai pukul 21.00 malam. Jadi, ketika kami pergi masih keadaan terang benderang dan juga lumayan sedikit menyengat.


Waktu sedikit terasa melambat di Maroko, perjalanan 10 jam di kereta terasa begitu lama. Jika saya bandingkan dengan taksi atau mobil bisa jadi hanya memakan waktu 6 jam menurut google maps. Di perjalanan kami menyempatkan untuk makan sepotong ayam KFC dan bertahan dengan sebotol air minum ukuran besar untuk berdua. Saat itu, kami bertahan untuk tidak berkomunikasi dengan hape. Saya mematikannya selama perjalanan dan kami berencana akan mencharge ketika sampai di Stasiun Tangier. 

Pagi pukul 07.00 kami sampai Tangier. Oh yaa saya kan kehilangan segala isi perkakas wajah dan bebersih diri, jadinya sampai di Tangier saya baru gosok gigi. Selama di rumah Siham, saya hanya berkumur dengan pasta gigi Laila. Sungguh mengenaskan! Satu hal yang membuat kami terkejut, Tangier Station sedang dalam underconstruction, dan hanya ada gedung kecil tanpa stop contact di sana. Kami membersihkan diri dengan cuci muka dan gosok gigi di toilet Tangier station. 

Kacau balau rencana dan harapan kami, kami pun pergi berjalan ke arah tempat Petit Taxi dan menanyakan biaya taksi ke Chefchouen. Awalnya kami mendapatkan taksi dan harus membayar 700 dirham sekali jalan. Harga segitu sangat mahal bagi kami, dan kami pun mencari taksi lainnya. Beruntung kami menemukan taksi yang baik yang menyarankan kami mencari Grand Taxi khusus ke Chefchouen. Kami membayar 5dirham untuk ke lokasi yang dimaksud. 

*) saya sangat sarankan untuk ambil taksi yang ukuran seperti berwarna kuning (krem) tersebut dari pada taksi berukuran berwarna biru. Kedua taksi ini akan diisi oleh 6 orang penumpang jadi bisa dibanyangkan betapa sesaknya ketika mengambil taksi yang berukuran kecil.

Di terminal tersebut, kami akhirnya menemukan grand taxi dan berangkat ke Chefchouen dengan membayar 70dirham perorang. Harga yang amat sangat murah dibandingkan dengan sebelumnya 700dirham. Perjalanan dua jam lebih pun kami tempuh, kami tertidur. Rute perjalanan sedikit berkelok dengan jurang-jurang di tepi jalan. Pukul 09.00 pagi tibalah kami di kota Biru ini. 

Sesampainya di sana, kami mencari mesjid untuk sekedar mencuci muka. Beruntung kami bertemu dengan nenek-nenek yang baik hati. Bahasa Arab ala kadar yang saya gunakan lumayan berguna untuk menanyakan lokasi tempat wudhu wanita kepadanya, sayang saat itu mesjid sedang ditutup. Kami pun berjalan ke cafe di depan Rumah Sakit Chefchoeun dan memesan jus alpukat. Di sana saya bertemu dengan traveller perempuan dari Jepang, saya menanyakan lokasi foto yang bagus di kota ini, dan beruntungnya dia sangat baik dan memasukkan nama Chez Aziz dalam lokasi google maps saya. Di cafe ini saya dan Laila membersihkan diri, mencuci muka, dan juga mencharge ponsel, kamera dan powerbank, serta makan ayam KFC yang tersisa.

Chefchouen, kota ini tidak hanya memanjakan mata dengan nuansa yang biru namun juga penduduk sekitar yang mat sangat ramah. Saya nyaman di kota ini. Jujur, memang sedikit berbeda dengan suasana di Marrakesh. Berbekal dengan menunjukkan foto di ponsel, orang-orang akan dengan senang hati memberikan petunjuk. Kami juga diperbolehkan untuk mengambil foto jualan warga. 



masuk di lokasi ini kalian harus membayar sebesar 5 dirham saja

air yang bisa langsung diminum




Menjelang pukul 14.00 kami segera kembali ke pangkalan Grand Taxi untuk pulang ke Tangier. Ketika diperjalanan, memasuki kota Tetouen, sayangnya mobil yang kami tumpangi dilarang masuk area tersebut dan kami harus pindah ke taksi lokal dan membayar ekstra sebesar 10dirham. Kami tiba di Tangier pukul 16.00 sore, dengan keterbatasan baterai kami pun mencari MD untuk mencharge dan selama disana kami membeli tiga minuman yang diminum bersama sebelum berjalan ke stasiun pukul 23.00 malam, dan kami makan the last piece of our chicken! Kereta yang kami tumpangi akan meninggalkan Tangier pukul 23.45. 

Oh ya, Tangier sendiri merupakan kota yang berada di utara dan memiliki jalur pelabuhan ke Eropa. Sebenarnya Siham bercerita bahwa banyak traveler yang mengambil rute utara ke selatan atau Selatan ke Utara, sayangnya karena kami tidak tahu makanya kami bolak balik. 


Sebelum meninggalkan kota ini, saya mencari penginapan untuk besok dan juga mencoba menghubungi beberapa agen untuk jasa tour riding camel. Beruntung saya mendapatkan jasa tour dengan biaya 300dirham perorang. Segera kami juga membagi uang yang kami miliki saat itu untuk riding camel, taksi ke bandara, dan juga shared food dihari terakhir.

Hey, riding Camel here!

Kami tiba di Marrakesh keesokan harinya pukul 10 pagi. Kami segera menghubungi Siham untuk mengambil barang-barang sebelum akhirnya kami pindah ke ruangan airbnb lainnya. Kami berpamitan pada Siham. Bagaimana pun dia sangat baik dan membantu mengarahkan rute perjalanan kami. 


Dan, dengan berjalan kaki sekitar 1 kilometer kami tiba di riad (hostel) kami yang baru. Di hostel ini akhirnya kami mandi untuk pertama kali. Kami sempat beristirahat juga. 

Sebelum kami dijemput oleh agen tour, kami pun mencari makan dengan bekal uang 100dirham kami membeli lagi paket dinner KFC untuk dimakan malam ini dan esok hari plus kebab yang terpaksa kami bagi berdua. Total pengeluaran 70dirham. 


Pukul 19.00 mobil yang menjemput kami datang, dan kami pun dengan sangat excited bersiap untuk bertemu dengan unta untuk pertama kalinya!



Hari-hari saya di Maroko sangat berkesan. Terutama keseruan selama perjalanan dengan sisa tenaga ala kadar kami bisa memenuhi apa yang kami inginkan di negara ini. Sebelum meninggalkan hostel esok harinya, saya pun menanyakan pada Karim (pemilik hostel yang baru) tentang ongkos yang harus saya siapkan untuk taksi dari hostel ke bandara. Dan esok hari pukul 07.00 pagi kami pun meninggalkan hostel, pukul 10.00 pagi pesawat kami lepas landar dari tanah Maroko yang sangat berkesan ini. 

Oh yaa, sebelum masuk Maroko dan keluar Maroko, semua orang diwajibkan untuk mengisi selebaran ini yang berisi : Nama, tempat tanggal lahir, Negara asal, Nomor Paspor, Alamat di Maroko, dan tujuannya apa ke Maroko.




Untuk beberapa tips, silahkan baca di Tips Jalan Random ala Hijaber Nekat


Salam, 


Isti dan Onta!







2 comments: