#JalanRandom : Ciao, Italy!

*) Agak seperti cerpen, biar kalian berasa baca wattpad

Akhirnya tanggal 11 Juli pun tiba, saya bergegas untuk ke stasiun Ede-Wageningen. Waktu itu, saya pikir saya harus berjalan kaki terlebih dahulu ke shelter Houvestein, syukurlah ketika menggeret koper saya melihat dari kejauhan bus syntus 86 yang melewati shelter Nobelweg (dekat rumah). Waktu itu pukul 7.30, masih sangat pagi. Saya janjian bertemu dengan Laila seharusnya pukul 8.30an di stasiun karena kami akan mengambil kereta sebelum pukul 9 pagi.



Lama saya menunggu Laila, ternyata dia baru berangkat sekitar pukul 8.30an. Namun akhirnya kami mendapatkan kereta tepat waktu. Ini pertama kalinya kami berdua pergi ke Eindhoven, jadi dengan berbekal googling dan mengecek aplikasi 9292 kami berdua sampai tepat waktu di Bandara Eindhoven. Oh ya, pesawat kami saat itu akan berangkat pukul 13.00, dan berhubung kami tidak memiliki bagasi dan hanya membawa cabin luggage, kami pun langsung masuk ke antrian. Hal yang penting untuk diingat ketika melakukan penerbangan dengan RyanAir (mungkin pesawat lainnya juga) khusunya dengan barang bawaan cabin adalah : Pastikan maksimal liquid yang dibawa adalah 1 liter dengan di masukkan di botol-botol kecil ukuran 100ml. Saya harus merelakan sabun mandi baru yang saya baru beli untuk persiapan travelling ini diambil oleh petugas, selain itu ada sampo yang sudah saya pakai, namun karena ukuran botolnya terlalu besar akhirnya tidak diijinkan untuk dibawa. Nyaris pula pasta gigi saya tidak bisa menemani hari-hari saya di perjalanan, alhamdulillah, dia dijinkan setelah melewati serangkaian pemeriksaan. 

Pisa, awal dari cerita ini



Nah perjalanan pun dimulai! Kami dimanjakan oleh pemandangan hijau hamparan perbukitan dari langit negara yang terkenal dengan menu Pizza ini. Akhirnya pukul 15.00 kami mendarat dengan sangat mulus di Kota tempat salah satu keajaiban dunia, Menara Pisa, berada. Kami langsung menghubungi airbnb tempat kami menginap, kami mengatakan bahwa kami ingin terlebih dahulu mengunjungi Pisa sebelum pergi ke tempat tinggal kami selama semalam tersebut. Namun, pemilik rumah nampaknya akan ada urusan pukul 19.00 malam dan menyarankan kami untuk datang lebih awal sebelum jam dia pergi. Akhirnya, kami  dengan berbekal ke-soktahu-an menggeret koper ke arah shelter Pisamover untuk menuju ke Pisa Centrale dan akhirnya ke Livorno Centrale. Kami menginap di salah satu rumah warga di Provinsi Livorno, sekitar 15 menit naik kereta dari Provinsi Pisa. 

pemandangan dari jendela perjalanan Pisa - Livorno, hamparan kebun bunga matahari yang menawan

Setelah menaruh semua barang bawaan, kami pun mandi bersiap dan menuju Pisa Centrale. Dari Pisa Centrale sendiri kami memilih untuk berjalan kaki sekitar 2 kilo meter. 


Oh ya, saya tiba-tiba teringat perkataan teman ketika dia menanyakan tentang rencana summer break saya. 
"Isti, kamu akan kemana saja?" 
Saya menjawab, "Pisa." 
Dia merespon sembari menyerngitkan kening, "That's too bored if you just spend your time in Pisa!"

Iya, benar, kota ini hanya menawarkan menara Pisa saja sebagai tempat yang seharusnya dikunjungi. Beruntung sebelum pergi, Laila sudah membantu untuk memplot beberapa lokasi yang harus kami kunjungi selama di Itali. 


Puas menikmati senja di Pisa, kami pun beranjak pulang dan mampir sejenak untuk mencicipi pasta di salah satu tempat makan yang berada tak jauh dari Pisa Centrale. Sejujurnya saat itu saya tahu, Laila tidak begitu menikmati awal perjalanan kami. Teman terbaiknya, baru saja kehilangan satu-satunya orang tua yang dimiliki. Kabar itu tepat ketika kami baru saja menginjakkan kaki di Italia. 

Oh ya, kami juga sedikit tercengang dengan kamar yang kami dapatkan, kata Laila seperti bekas gudang dialihfungsikan sebagai kamar. Lokasinya di bagian lantai dua rumah tersebut, dan hanya ada ruangan itu dengan jendela yang berada di tepat di atap rumah. 



Malamnya kami habiskan dengan beristirahat sejenak karena besok pagi-pagi sekali kami harus bersiap ke Roma.

Memasuki Kota Peradaban Romawi, Roma

Pukul 07.45 hingga 11.48 adalah waktu yang kami habiskan untuk mencapai kota metropolitan, Roma. Kota yang sudah tersohor sejak jaman Romawi kuno dengan peninggalan-peninggalan sejarah yang masih dijaga hingga saat ini benar-benar terlihat berbeda dengan kota Livorno ataupun Pisa. Macet, bunyi klakson dimana-mana, panas, dan kendaraan yang mengantri untuk sekedar lewat menjadi pemandangan awal saat kami keluar dari Stasiun Rome Termini. 
Oh ya, sebelum kami keluar kami menyempatkan untuk membeli tiket oneday seharga 7 euro yang bisa digunakan untuk transportasi umum di kota ini. Kami kelaparan saat itu, kami pun membeli nasi biryani yang berada persis di depan Stasiun Termini. Ini adalah hasil dari searching halal restaurant near me. Kalian, khususnya muslim, harus mencoba memanfaatkan untuk menggoogling menu yang sesuai dengan kebutuhanmu. 


nasi biryani dengan dua potong ayam harga 6euro

Usai makan, kami menuju Koloseum terlebih dahulu dengan membawa koper-koper yang lumayan berat. Setelah itu baru kami beranjak ke hostel tempat kami menginap dan voilaaa ini apartment yang sangat cozy dan pemiliknya amat sangat ramah. 





Kami menikmati salah satu Cafe Gelato yang cukup terkenal yang letaknya tak jauh dari tempat kami menginap
Setelah cukup beristirahat, kami pun bergegas menuju ke destinasi lainnya, yaitu Fontana di Trevi dan Piazza Novano.

Kami mengambil kereta ke Koloeum sebelum mengganti dengan bus untuk mencapai lokasi air mancur dengan eksotisme patung-patung yang terukir apik di tepi kolam. Fontana di Trevi, konon katanya ketika kamu melemparkan koin dengan membelakangi kolam, kamu akan kembali ke kota ini. Entah benar atau tidak, saya tidak melakukannya karena saya lebih memilih membeli air minum atau makanan dengan koin yang saya miliki. Dari membaca artikel tentang lokasi ini, uang koin yang biasa dikumpulkan bisa mencapai 3000 euro dan uang tersebut akan digunakan untuk donasi bagi orang-orang yang membutuhkan.

Air yang bening di dalam kolam menbuat koin-koin yang bergelimpangan terlihat jelas. Namun ketika disana, jangan pernah berharap kalian akan sendirian saja dan bisa mendapatkan momen foto yang bagus. Ada jutaan orang yang ingin ke sana dan ratusan orang mengantri untuk sekedar duduk di tepi kolam. Bisa dibayangkan betapa susahnya untuk sekedar berfoto di Fontana di Trevi.



Sebelum mentari berangsur pergi, kami pun bergegas ke Piazza Navona dengan menggunakan bus. Namun sayang, kami mengabil rute bus dengan arah berlawanan sehingga malam baru kita sampai.



Florence City of Renaissance

Kami meninggalkan kota Roma yang indah pukul 11.40, sebelum pergi kami meastikan juga terkebih dahulu untuk mengeprint tiket pesawat. Kami menggunakan RyanAir dan waktu check in itu dua hari sebelum berangkat, dan ngeprint tiket dan boarding pas adalah hal wajib sebelum kena charge 55 euro. Dengan berbekal bertanya dengan orang-orang dan dengan batuan google translate, akhirnya saya mendapatkan warung internet. Oh ya, hal yang lupa saya bilang di awal adalah; Tidak semua orang di Italia menggunakan bahasa Inggris, sehingga cukup menyulitkan saya untuk berkomunikasi. Dan hal lainnya yang saya senang dari negara ini adalah, mereka senantiasa mengatakan Ciao dan Gracias.
Pukul 14.48 kami tiba di Florence, kami menaruh koper kami ke jasa penitipan barang dan membeli tiket bus oneday dengan biaya 1.5euro. Kami pun memulai mengeksplore kota ini. Namun, karena kelaparan, langkah kami terhenti untuk mampir di salah satu restaurant pizza. Yap, saatnya menikmati menu khas negara Italia. Setelah pasta, es krim, saatnya pizza!





Puas mengisi perut, kami berjalan ke Duomo (Katedral Firenze), Piazza Vecchio dan Jembatan Vecchio. Semuanya kami tempuh dengan berjalan kaki, sejenak kami merasa bahwa sia-sia membeli oneday ticket.











Setelah itu, Laila ingin sekali melihat patung Michelangelo yang berada di atas bukit. Kami pun menunggu bus selama kurang lebih 30 menit, kemudian setelah itu kami harus berjalan mendaki untuk mencapai salah satu lokasi destinasi yang harus dikunjungi ketika berada di Florence.

Pemandangan yang terhampar benar-benar menjadi obat menghilang rasa lelah setelah mendaki. Nyaris matahari tergelincir, menyisakan sinar yang tidak begitu menyengat dan warna jingga yang perlahan membuat tampilan kota semakin indah dari atas sini.


 

Menjelang pukul 10 malam, kami segera turun dengan bus, dan kami menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh dan juga duduk santai di depan stasiun kereta. Kemudian, kami pun mengambil barang-barang yang kami titipkan. Alangkah terkejutnya kami ketika harga yang harus kami bayar yakni sebesar 18euro, biaya segitu cukup untuk tempat kami tidur atau juga untuk mengganjal perut.

Jam menunjukkan nyaris pukul 12 malam, kami pun meninggalkan Florence, kembali ke bandara. Sampai di Bandara sekitar pukul 2 pagi dan kami berencana untuk tidur karena pesawat kami akan lepas landas pukul 06.46 pagi. Awalnya kami di mengistirahatkan diri di dalam gedung, namun, kami akhirnya diusir dan kami pun terpaksa tidur di taman bandara. Sempat tidur dua jam dengan beratapkan langit Pisa dengan bintang yang bisa dihitung jari. Udara malam kota Pisa lumayan dingin saat itu. Negara ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

pisa mover (kendaraan dari Pisa Centrale ke Pisa Airport)

List food you should try in Italy : Pizza, Pasta and Gelato!!!


Grazie, Italy!!!



2 comments:

  1. Bagus ya foto-foto nya, xiamix. Sis total berapa hari di Italy?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari tanggal 11 sore udah di Pisa sampai meninggalkan Florence jam 11 malam tanggal 13.

      Delete