#RandomStory: Ramadhan di Belanda



Bulan Ramadhan, seperti biasa bulan ini sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam di belahan dunia manapun. Bulan dimana segala sesuatunya dilipatgandakan. Bulan dimana semua perbuatan baik akan bernilai pahala. 

Tahun ini memang ada yang sedikit berbeda. Kalau saya sudah terbiasa dengan Ramadhan di tanah rantau, mungkin ini benar-benar rantau yang sesungguhnya. Jauh dari Indonesia. Sukar menemukan sore dimana orang-orang berjalan bersama menunggu waktu beduk berbuka puasa. Sulit menemukan jajanan es buah dan aneka menu lainnya pelepas dahaga di sepanjang jalanan. 

Durasi Puasa

Dulu, dalam benak saya, selalu bertanya, "Masa iya di belahan dunia lain jam waktu siangnya bisa sangat lama?" Tiap bulan Ramadhan pun mulai banyak kiriman video menyambut dan melaksanakan puasa dari para perantau di negeri seberang. Kita mungkin terbiasa berpuasa 13 jam. Tahun ini saya merasakan harus berhenti menikmati menu sahur sebelum pukul 4 subuh dan menanti waktu maghrib pada pukul 21.30 malam. 


Ibadah

Hal yang menarik saya temukan dalam berpuasa di sini adalah : saya tidak sendiri. Teman-teman saya dari Indonesia bahkan muslim negara lain pun dengan kuat melaksakan ibadah puasa.Terkadang kami menyempatkan potluck iftar bersama, dilanjut solat maghrib dan tarawih. Oh ya ngomong-ngomong soal tarawih, biasanya pukul 9 malam sudah kelar kita melakukan ibadah sunnah di bulan Ramadhan ini, di sini??? Harus menunggu pukul 23.30 dan selesai biasanya pukul 00.30. Selama di sini saya tidak pernah ikut tarawih di mesjid, mengingat pulang akan cukup malam dan juga jarak yang saya harus tempuh adalah 15 menit bersepeda. Kalau ada teman yang meminjam ruangan untuk beribadah bersama, maka saya akan menyempatkan untuk ikut. 

Tentang makanan

Tidak susah menemukan sirup marjan. Sirup yang selalu juga dicari sebagai pelengkap menu berbuka puasa. Saya membeli sirup marjan di Ede, kota yang terdekat dari Wageningen. Kadang-kadang saya sering mendapatkan boardcast message di wasap group, teman-teman mengadakan buka puasa bersama. Biasanya di student housing Bornsesteeg 13A. Dari foto yang sering di sebar, biasanya mereka menyediakan martabak, es buah, nasi, olahan ayam seperti opor dan sop, maupun puding-pudingan yang segar.
menu iftar di bornsesteeg 13A. Source: group wasap

potluck iftar Asserpark building

Tanggapan non-muslim

Memang momen Ramadhan biasanya hanya dinikmati oleh umat Islam saja. Tapi ketika saya ditawarkan makan siang usai kelas pagi, saya pun mengatakan bahwa,"I am fasting." Teman-teman saya awalnya keheranan, tapi ada juga yang beberapa paham dan mengatakan, "Oh, it is Ramadhan." Dengan penasaran mereka pun menanyakan mulai jam berapa saya harus menahan tidak makan. "That is crazy!" ucap teman saya ketika tahu saya harus berpuasa nyaris 18 jam. Memang sangat berbeda jika dibanding dengan puasa di Indonesia. 
Oh ya hal menarik lainnya adalah ketika saya harus menjelaskan kepada teman-teman tentang puasa itu. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang berpuasa hanya dituntut untuk tidak makan, mereka pikir untuk minum masih dibolehkan. Pemahaman ini yang pelan-pelan saya beritahu bahwa no meal, no drink, bahkan no gossip. Selain itu, ada juga beberapa teman yang ingin mencoba berpuasa suatu saat. Saya pun menyarankan kalau untuk latihan waktu pendek mungkin dimusim dingin bisa menjadi pilihan, namun ada yang merespon, "I'll not do that. It's cheating." Karena menurut mereka berpuasa yang umumnya adalah dimusim semi atau panas yang durasi mataharinya cukup panjang.
Pernah ada teman yang menanyakan bagaimana dengan orang yang tinggal di daerah utara? Bahkan tanpa saya menjawab, ada yang menjelaskan, "Mereka bisa mengikuti waktu negara terdekat atau Arab. Benarkan Isti?" 
Ada perasaan haru juga ketika banyak teman-teman non-muslim bahkan atheis pun yang paham dan setidaknya tahu tentang Ramadhan dan Islam. Dan mereka pun ketika tahu saya puasa, mereka berkata, "Happy Ramadhan, Isti!"

Woo Hyun (Leo) dan William, kebetulan ketemu di Jumbo langsung suruh bikin video

Opini saya

Ada yang luar biasa yang saya rasakan dalam berpuasa kali ini. Sepertinya memang Allah mengatur bahwa tubuh kita mampu untuk berpuasa selama lebih dari 13 jam. Ada teman yang tanya, "Apa kamu lapar?" Tentu saja tidak ada rasa lapar. Segala sesuatunya berjalan biasa saja, tanpa tantangan sedikitpun. Bahkan melihat teman mengadakan potluck lunch di kampus pun dan makan di depan saya sudah menjadi hal yang amat sangat biasa bagi saya. 

Selamat berpuasa untuk semua teman-teman :)

Oh ya, saya akan berpuasa hanya 17 jam karena sedang berada di Porto, katanya cuaca disini akan panas. Tapi alhamdulillah sejak semalam berasa adem. 

Oh ya kalian bisa lihat video Ramadhan saya disini, btw hidup saya tidak semenyedihkan di video ini wkwkw. Alhamdulillah 2 minggu puasa beberapa kali ada teman sahur dan buka puasa bareng. Nah, dua minggu di Porto ini benar-benar saya akan sendiri melaksanakan ibadah puasanya, sahurnya, buka puasanya. 



Salam, 

ishariatiz 
di tulis di Bandara Schipol menuju Porto (betewe ini dipostingnya di Porto) 


No comments:

Post a Comment