#RandomTalk: FlashBack Scholarship Hunter

Hai, nama saya Isti. Akhirnya setelah berapa lama saya ingin menulis chapter tentang beasiswa. Sebenarnya lebih ke perjalanan saya mendapatkan beasiswa. Saya ingin menekankan bahwa selama perjalanan berburu beasiswa hingga akhirnya saya mendapatkan beasiswa, tentunya bukan semata-mata karena usaha saya sendiri. Ada doa-doa yang mengalun pelan, ada ungkapan semangat yang tidak jenuh terdengar, ada mimpi yang seharusnya segera saya raih. 




Berbicara tentang beasiswa, awalnya saya ragu, apakah saya bisa melanjutkan sekolah dengan mendapatkan beasiswa? Alasan terbesar kenapa pertanyaan itu terbersit adalah : saya dari universitas swasta. Bukan berarti saya meng-underestimate kampus saya. Tidak sama sekali. Pertanyaan ini muncul selama saya mencari informasi tentang beasiswa, rata-rata tertera jelas disana bahwa hanya diperuntukkan untuk alumni kampus A B dan C khususnya beasiswa ke luar negeri. 

Saat itu, jujur, seperti sempat putus harapan saya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. 

Di tahun 2013-2014, ketika mulai gencar-gencarnya informasi beasiswa LPDP yang merupakan salah satu upaya Pemerintah Indonesia dibidang pendidikan, saya berkesempatan untuk ikut bergabung dengan para awardee angkatan awal LPDP. Bagi saya, mereka adalah kumpulan orang-orang luar biasa. Mereka mau berbagi dan bercerita tentang bagaimana proses PK itu, serunya bertemu teman-teman luar biasa lainnya dari penjuru Indonesia.
Saya memutuskan, bahwa salah satu impian saya adalah melanjutkan sekolah dengan beasiswa ini.

Jadi, ketika ada yang berkata : 
  • Pemerintah ngapain aja? Kok gak ada peningkatan dan suatu program di bidang pendidikan? Terlalu sempit kita menilai seperti itu. Saat ini sudah ribuan mahasiswa yang melanjutkan pendidikannya dengan gratis di berbagai penjuru dunia. 
  • Ih tapi kok ada syarat toefl ielts dan lain-lain??? Teman-teman, tentunya pemerintah ingin memberangkatkan orang-orang memiliki kualifikasi tertentu. Begitu juga di dunia kerja, tentu kita harus melewati berbagai seleksi dan proses, bukan?

Apakah saya hanya mendaftar beasiswa LPDP?

Tentu tidak. Memang LPDP adalah beasiswa pertama yang saya inginkan ketika saya melanjutkan sekolah nanti, alasannya sederhana : karena sejauh yang tahu bahwa alumni dan awardee LPDP memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat. Membentuk sebuah keluarga dalam komunitas yang besar. 
Ketika saya berhasil mendapatkan toefl yang bisa saya gunakan untuk mendaftar beasiswa, saya pun segera mensortir beberapa informasi beasiswa yang tengah dibuka. 

AAS (Australia Awards Scholarship)

Saat saya di Pare, teman-teman mengajak saya untuk mendaftar beasiswa ini. Tapi bukan asal daftar saja. Selain kesempatan, saya pun berarti harus berurusan dengan segala persyaratannya. Saya mengurus surat keterangan rekomendasi dari dosen selama kuliah, berurusan bikin motivation letter, mencari kampus yang sesuai dengan peminatan saya dan berkas lainnya. 
Hasilnya, saya tidak lulus seleksi berkas. 
Saya paham alasan sedernaha saya tidak lulus adalah : saya tidak benar-benar membuat motivation letter dan dokumen lainnya dengan sepenuh hati. 
NB : Rata-rata perkuliahan di Australia dibagi dua by Research dan by Coursework. Sebelum mendaftar pastikan betul program apa yang hendak kamu ambil nanti. Untuk informasi tentang beasiswa AAS ini bisa ke website Pak Made Andi

MEXT (Monbukagakusho/Monbuso)

Jepang adalah negara impian saya sejak kecil. Mendengar ada beasiswa ini, saya pun segera mempersiapkan lagi berkas-berkas yang ada. Kali ini lengkap dengan proposal penelitian dan timeline jadwal perkuliahan dari tahun pertama (belajar bahasa Jepang) hingga penelitian di tahun ketiga. Yang harus diketahui adalah, di Jepang rata-rata sistem perkuliahannya by Research. Beasiswa ini juga diperuntukkan untuk S1-S2 dan S3. 
Syarat-syaratnya meliputi :
  1. Usia maksimal 34 tahun pada tanggal 1 April tahun keberangkatan.
  2. Lulusan D4/ S1/ S2.
  3. Memilih bidang studi yang berada pada rumpun ilmu yang sama dengan bidang studi di jenjang pendidikan sebelumnya.
  4. Diutamakan IPK akhir jenjang pendidikan sebelumnya minimal 3.2
  5. Melampirkan salah satu sertifikat kemampuan bahasa Inggris atau bahasa Jepang, dengan skor diutamakan sbb:
    ● TOEFL-PBT/ITP minimal 570
    ● TOEFL-iBT minimal 80
    ● TOEIC minimal 820
    ● IELTS minimal 6.5
    ● Japanese Language Proficiency Test (JLPT) minimal level 2/ N2
    (TOEFL Like dan TOEFL Prediction tidak dapat digunakan. NAT-TEST tidak dapat digunakan. Sertifikat TOEFL/ TOEIC yang dapat digunakan untuk mendaftar adalah terbitan dari ETS.)
  6. Sehat jasmani dan rohani. Pelamar tidak diperbolehkan dalam keadaan hamil selama proses seleksi berlangsung hingga keberangkatan ke Jepang bagi yang lolos seleksi.
  7. Bersedia belajar bahasa Jepang bagi yang belum menguasai bahasa Jepang.
Alhamdulillah, seleksi berkas saya berhasil lalui. Kemudian saya pun berangkat ke Kedubes Jepang di Surabaya untuk seleksi bahasa. Dan ternyata susaaaah ada seleksi bahasa Jepang dan Bahasa Inggris seperti toefl tapi lebih advance! Hasilnya saya tidak lulus.
Info lebih lanjut tentang beasiswa ini bisa ke MONBUKAGAKUSO 

LPDP

Akhirnya setelah gagal dibeasiswa itu, saya pun mendaftar beasiswa LPDP dipertengahan tahun 2016. Menyiapkan berkas-berkas, memperbaiki essay, latihan wawancara dan LGD dengan teman-teman komunitas Pare, hal tersebut rutin saya lakukan beberapa minggu menjelang seleksi. Saya menyiapkan essay LPDP sejak 6 bulan sebelum, latihan wawancara tiga bulan dan LGD dengan teman-teman seminggu sebelum nampaknya.

Oh ya, saya rasa peraturan beasiswa LPDP selalu mengalami perubahan tiap tahunnya, sehingga penting bagi teman-teman untuk senantiasa mengecek persyaratan beasiswa ini. Up to date itu penting! 
Sering sekali saya mengalami pertanyaan mengenai beasiswa ini. 
Pernah seseorang hendak mendaftar beasiswa ini diperiode depan, saya pun bertanya apa sudah lengkap semua berkas yang disyaratkan. Dan dia pun bertanya balik : Emang syaratnya apa saja?

Dear teman-teman, ketika kamu hendak bercita-cita mencari beasiswa maka rajin-rajinlah untuk mencari informasi sendiri, bisa membuka website resmi atau membaca blog orang lain. Bertanya boleh, tapi pertanyaan soal persyaratan yang semua orang bisa akses dengan cepat lewat website nampaknya kurang elegan untuk dipertanyakan. Selain itu karena beberapa beasiswa biasanya mengalami perubahan-perubahan baik proses seleksi dan persyaratan, tentu bertanya pada orang yang telah menerima beasiswa kurang menjadi solusi atas pertanyaan seputar persyaratan. 
Misalnya seperti ini, sebelum tahun 2016 belum ada seleksi LGD dan Essay on The Spot (CMIIW) tapi ditahun di 2016 saya melewati seleksi LGD dan EotS. Ketika saya bertanya ke awardee sebelumnya, mereka pun yang sebatas hanya bisa berbagi pengalaman akan kebingungan untuk menjelaskan apa itu LGD dan EotS.
Untuk persyaratan teman-teman bisa membuka website LPDP 
Penting: Baca syarat dan apa saja kewajiban kamu selama study hingga kamu selesai study.

Dan saya bersyukur saya diterima beasiswa ini, meskipun saya gagal dibeasiswa-beasiswa lainnya, saya rasa Tuhan sengaja memberikan jawaban atas mimpi saya dibulan pernikahan orang tua saya. Saya pun memberikan kado mereka dengan pengumuman lulusnya beasiswa ini. Alhamdulillah! 


Video singkat perjalanan saya bisa lihat di sini :


Poin Penting!

Baiklah saya rangkumkan sekarang tips dan trik dari saya pribadi:
  1. Kembali luruskan niatmu untuk study. 
  2. Perbaiki hubungan dengan orang terdekat untuk mendapatkan restu khususnya orang tua.
  3. Bentuk komunitas yang saling mendukung impianmu. (Karena saya pernah mengalami masa dimana diunderestimate ketika berkata : saya ingin kuliah di kampus A B C)
  4. Jika tujuanmu hendak melanjutkan studi keluar negeri maka belajarlah bahasa Inggris dari jauh-jauh hari. Waktu 1 tahun merupakan yang tersingkat ketika kamu masih belum ada basic. Tapi apakah kamu hanya ingin menghabiskan waktu 1 tahunmu hanya untuk belajar bahasa Inggris? Btw kalau mau ke Pare bisa baca Ini
  5. Seleksi kampus, peminatan jurusan dan beasiswa tujuanmu. Perhatikan juga syarat-syaratnya. Bisa cek ke INFO BEASISWABEASISWAINDOBeasiswa Pascasarjana, atau situs resmi dari beasiswa tersebut.
  6. Buat essay motivation letter dan essay pendukung lainnya bahkan kalau bisa dengan thesis proposal.
  7. Jangan lupa bikin Time schedule daftar beasiswa, deadline, syarat dan lain-lain.
  8. Tulis besar-besar target IELTS, kampus, dan tahun kamu melanjutkan sekolah (Bikin Poster Impian besar-besar di kamar). Untuk mendapatkan beasiswa LPDP, saya membutuhkan waktu 2 tahun lebih persiapan termasuk memperbaiki niat dan lain-lain.
  9. Berusaha semaksimal mungkin, kalian bisa lihat saya seleksi beasiswa sampai 3 kali
  10. Jangan lupa, semuanya adalah dari kehendak Tuhan, minta semoga dimudahkan segala. Ketika saya wawancara LPDP saya selalu meminta agar dilembutkan hati para pewawancaranya, dan alhamdulillah!!!
  11. Segala yang terjadi adalah yang terbaik untuk kamu. Semangat dan optimis. 
Demikian cerita singkat tentang beasiswa saya, kalau ada pertanyaan silahkan bertanya ke email saya : ishariatiz@gmail.com

Semoga berhasil mengejar impian masing-masing!

Wageningen, 23 April 2018
Salam,

Ishariatiz




No comments:

Post a Comment