#Travelling : Nyaris Seharian Tanpa Internet di Paris

Bonjour, people!



Sekitar bulan November, saya, Kak Amel dan Richa bersama-sama mengunjungi salah satu kota yang amat sangat terkenal akan romantismenya. Rencana ini terusul secara tiba-tiba sekitar dua minggu sebelum. Kebetulan saat itu, ada jasa tour untuk student yang bisa dibilang cukup amat sangat murah, kami cuma membayar sekitar 40euro Paris, tapi ini cuma untuk perjalanan saja, makan dan minum di tanggung sendiri. Btw, sebenarnya kalo bisa mengatur sendiri perjalanan, bakal lebih murah, tapi namanya kita cuma mau senang-senang saja saat itu jadi ya ikut-ikut aja.

Awalnya saya dan teman-teman semua sudah membeli paketan internet supaya kami bisa main apalah disana, instagram, whatsapp, fesbuk, dan lain-lain. Kami berangkat jam 8 malam dari housing menuju ke stasiun Ede dengan bus. Oh ya, tidak lupa juga kami membawa bekal, saat itu kami membawa nasi, mie goreng, ayam goreng, kerupuk, dan roti tawar isi. Oh ya, kami juga bawa bantal untuk tidur di bus. Dari stasiun Ede, kami menuju Stasiun Utrecht karena disanalah tempat kumpulnya, sekitar pukul 10an akhirnya kami semua berangkat ke Paris. Sepanjang perjalanan, bus yang kami tumpangi selalu berhenti untuk menjemput penumpang lainnya di titik-titik kumpul lainnya. Akhirnya pukul 6 pagi kami tiba di Paris!

Suhunya ternyata lebih dingin dari pada Wageningen! Ketika berhenti sejenak disalah satu pom bensin untuk ke toilet atau ke supermarket, saya baru sadar kalau hape tidak bisa terkoneksi dengan internet, akhirnya saya pun bertanya disalah satu kasir swalayan, dan doi kagak bisa bahasa Inggris. Saya pun bertanya bagaimana caranya agar bisa mengubah settingan hape sehinggga bisa digunakan di Paris, tapi doi juga kagak ngarti. Oke. Sooo sad!

Kami diturunkan disalah satu tempat yang saya tandai adalah adanya Ferris Wheel, kak Amel menyuruh saya untuk memoto supaya sebagai tanda kalau nanti kami akhirnya nyasar bisa kembali ke tempat ini dengan menunjukkan foto. Dan, sata itu ternyata hape kami bertiga tidak ada yang bisa digunakan untuk internetan. Berbekal dengan peta gratisan yang diberikan oleh pihak tournya, kami pun berkeliaran.

Museum de Louvre

dokumen pribadi
Sebenarnya lokasi kami turun sangat dengat Museum de Louvre, jadi dengan bersama rombongan kami berjalan kaki menuju tempat dimana lukisan Monalisa itu berada, sayangnya saat itu, kami tidak masuk karena ada yang usia lebih dari 26 tahun di antara kami. Wkwkw. Untuk masuk museum sendiri itu bisa dibilang gratis untuk pengunjung dibawah usia 26 tahun, saya kagum akan hal ini. Bagaimana pun museum adalah salah satu media untuk belajar, dan sekarang ini sangat jarang orang yang mau belajar ke museum, mereka cenderung mengandalkan kemudahan seperti adanya google. Kami menghabiskan waktu sekitar sejam disini untuk foto-foto.

Notre Dame de Paris

Setelah cukup puas dengan Museum de Louvre, kami melanjutkan perjalanan. Nah, mulai saat ini kami berpisah dengan rombongan. Kami berjalan kaki melewati jalanan di tepi Sungai Seine, sesekali kami mengambil gambar dan saya juga merekam beberapa momen yang menurut saya bagus untuk diabadikan. Tidak lupa kami mampir sejenak disalah satu jembatan yang tepiannya dihiasi oleh gembok-gembok cinta yang berwarna-warni. Mungkin karena terbiasa dimanjakan oleh google map, sehingga awlnya kami sedikit kesusahan menggunakan peta asli. kami sempat bertanya-tanya pada beberapa orang jembatan manakah yang harus kami seberangi dan bagaimna kami agar bisa tiba di Notre Dame. Kami bertemu dengan salah satu turis perempuan muda yang kebetulan memiliki tujuan yang sama dengan kami. Akhirnya kami berempat pun berjalan bersama dan tiba ditujuan.


Berdasarkan hasil bergugling ria, sebenarnya Notre Dame de Paris sendiri berarti Bunda kita di Paris. Unik ya artinya. Notre Dame de Paris sendiri merupakah salah satu gereja dengan gaya gotik dan sekarang menjadi destinasi para turis. Gereja ini merupakan gereja untuk penghormatan ke Bunda Maria. Oh ya, karena kami tidak masuk, jadi kami hanya mengambil beberapa gambar di bagian depan Gereja.


Berangkat menuju Arc de Triomphe, kami singgah dengan bantuan seorang ibu-ibu menuju kereta bawah tanah. Hmmm. Apa yaa namanya? Kendala bahasa menjadi salah satu tantangan bagi kami, ternyata orang Paris jarang yang tahu bahasa Inggris gengs! Akhirnya dengan menggunakan bahasa isyarat kami pun berhasil menuju lokasi yang dimaksud. Kami membeli tiket one day trip, dan ini bisa dibilang sangat murah karena bisa digunakan untuk berkeliling kota Paris.



Arc de Triomphe

Mengunjungi Arc de Triomphe memberi kesan tersendiri untuk saya, mungkin untuk kak Amel juga. Kami berdua pernah sama-sama belajar bahasa Inggris di Pare, dan landmark Pare, Kediri adalah simpang lima gumul yang nyaris mirip dengan gapura megah di tengah jalanan kota Paris ini. Saya pernah iseng membuat cita-cita akan ke Paris dan berfoto di lokasi ini. Oh ya awal ke Pare pun saya pernah ke gumul juga dan berfoto disana. Benar-benar nostalgia.


Di sini, kami menemukan kejadian yang benar-benar tidak terduga. Ketika kami melewati jalan bawah tanah dan menaiki tangga, kami dihampiri oleh beberapa gadis-gadis remaja dengan kertas dan alat tulis ditangan mereka. Saya menolak mereka, sementara Rika tidak bisa menolak sehingga perempuan-perempuan tersebut menempel dan membuntuti Rika, meminta untuk mengisi nama dan sejumlah uang persis seperti yang biasanya terjadi di Indonesia. Hingga, ketika Rika menepis mereka, salah satu dari mereka sudah nyaris merogoh kantung jaket Rika sehingga beberapa koin dan kartu atm dan lain-lain pun jatuh. Otomatis saat itu Rika tidak bisa menahan emosi dan marah kepada mereka semua. Tapi hal yang lebih mengesalkan adalah, mereka justru mengejek kami dan tertawa terbahak-bahak. 
Untungnya insiden tersebut tidak membuat hari kami menjadi buruk selama di Paris.


Saat kami tiba di sana, salah satu sisinya sedang direnovasi.

 Eiffel Tower



Dan, tibalah kami di tempat yang sangat terkenal yaitu Menara Eiffel. Menara yang tersusun dari besi-besi yang benar-benar memanjakan mata ketika malam menjelang. Gemerlap lampu menambah cantik, kami tidak hanya berfoto di bawah menara saja, kami juga pergi menyebrangi Sungai Seine agar untuk mendapatkan gambar Eiffel dari jauh juga.

Setelah puas dengan keindahan Eiffel, kami memutuskan untuk pergi lagi di tempat selanjutnya. Nah, saat kembali menyebrangi Sungai Seine, tiba-tiba lampu Eiffel berkelap-kelip dengan sangat indah. Beberapa orang terlihat mengabadikan dengan video dan segera mempostingnya di sosial media.

Sedangkan saya, kak Amel, dan Rika, tidak bisa memposting apa-apa karena kami tidak memiliki paketan  data untuk memamerkan situasi yang kami nikmati saat ini. Walau begitu kami juga tetap mengabadikan kerlip lampu tersebut.

Oh ya sebagai penutup, kami juga mengunjugi ..

White-domed basilica of the Sacre-Coeur

Untuk mencapai puncak halaman gedung putih ini, kami haru melewati beberapa anak tangga. Padahaaal, sebenarnya kami bisa saja menggunakan tiket yang telah kami beli. Saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik napas panjang sebelum melanjutkan kembali menapaki anak-anak tangga yang jumlahnya... bisa jadi mencapai seratus? Sampai di puncak, kami dihidangkan dengan panorama Kota Paris yang begitu indah. Saya bisa melihat Eiffel dari kejauhan, lampu-lampu gedung-gedung dengan arsitektur khas Eropa menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.


Saya membuat video singkat selama di Paris. Kalian bisa nonton di youtube saya di atas.
Sebenarnya kalau boleh jujur, kota Paris yang romantis meninggalkan beberapa hal yang kurang mengenakkan untuk saya pribadi. Sebagai salah satu kota destinasi dari penjuru negara, beberapa stasiun bawah tanah menjadi jorok dengan bau pesing ketika melintasi koridor antar koridor, sampah yang bertebaran di beberapa jalanan bahkan di salah satu tempat ngopi hits yang suka salah nama pun begitu jorok di toiletnya.

Oh ya ngomong-ngomong soal berpergian tanpa konektifitas dengan internet benar-benar menjadi pengalaman luar biasa. Banyak hal yang bisa ambil positifnya:
  1. Saya benar-benar bisa memanjakan mata saya dengan pemandangan yang ada tanpa harus risih instastory dan update sosial media.
  2. Saya bisa menghabiskan percakapan hampir seharian bersama kak Amel dan Rika.
  3. Saya benar-benar menggunakan map yang disediakan oleh tour guide.
  4. Saya tidak berketergantungan terhadap google, saya dan teman-teman bertanya kepada penduduk lokal dan polisi yang ada untuk menanyakan lokasi destinasi tujuan selanjutnya.
"Bermimpilah. Berusahalah. Niscaya Tuhan mendengar semua impianmu, dan mengabulkannya."

Salam,

ishariatiz



Komentar

BACA JUGA