#JalanRandom : Bersepeda Wageningen-Arnhem-Wageningen


Setelah meneguhkan hati beberapa minggu, akhirnya saya pun meluncur dari Wageningen ke Arnhem dengan bersepeda. Sebenarnya bersepeda sendiri adalah metode saya belajar dalam banyak hal. Sebelum saya bercerita tentang belajar dalam banyak hal tersebut, saya ingin berbagi dulu tentang kenapa saya bersepeda.

Sebenarnya, naik sepeda bukanlah hal baru untuk saya. Ketika saya SD, saya menghabiskan perjalanan pergi dan pulang dengan kayuhan sepeda. Pun demikian ketika saya memasuki perkuliahan di S1, dari saya tiba hingga kuliah saya selesai, saya tetap setia dengan moda transportasi sederhana ini.

Nah untuk perjalanan kali ini, saya sudah niatkan sejak beberapa minggu sebelumnya. Mempertimbangkan untung ruginya. Bayangkan perjalanan yang akan saya tempuh kurang lebih 40KM pp. Itu bukanlah jarang yang singkat dan langsung asal main jalan. Saya butuh waktu lama berpikir dan akhirnya mantaplah untuk menempuh rute yang termasuk cukup jauh untuk saya ini.

Seminggu sebelum hari ini, saya sudah mengecek prakiraan cuara, berhubung beberapa hari terakhir Wageningen selalu dibasahi oleh hujan. Dan voila! Tepat hari Jumat dan selama beberapa hari kedepan adalah Easter Day yang artinya libur, maka saya pun menjatuhkan hari Jum'at 30 Maret 2018 sebagai tanggal saya berangkat bersepeda ke Arnhem. 

Arnhem sendiri merupakan Kota yang menjadi salah satu destinasi melengkapi kebutuhan pribadi seperti pakaian untuk teman-teman di Wageningen. Dengan bus, biasanya hanya menghabiskan waktu 30 hingga 45 menit. 

Persiapan Sebelum Berangkat

Hal yang paling utama saya persiapkan adalah kesehatan. Tentunya ini sangat penting, bagaimana mungkin mau bersepeda dengan jarak segitu tapi kondisi tidak prima. Tentunya, bukan hanya kesehatan fisik tapi juga pikiran. Tugas kuliah, deadline, dan beban-beban pikiran lain harusnya segera diselesaikan sebelum pergi. 

Kemudian, pastikan peralatan dan barang bawaan yang kamu bawa sudah lengkap. Saya sendiri biasanya membawa;
  • Makanan (berat atau snack)
  • Minum
  • Charger hape (kalau perlu powerbank)
  • Alat sholat
  • Mantel hujan (berhubung cuaca di Belanda sendiri terkadang berganti dengan cepat, sehingga amat sangat penting membawa payung atau mantel hujan)
  • Nomor telepon darurat yang bisa dihubungi. Nah, kenapa saya masukkan ini? Alasannya sederhana, terkadang hape kita mati, ditambah daya powerbank habis, plus tidak ada tempat mencharger. Sebenarnya bukan hanya nomor, kalau mau sederhana gunakan sosial media. Saya pernah terpisah dengan teman-teman ketika #WinterBreak, cara yang saya gunakan untuk menghubungi teman saya adalah dengan berkomunikasi lewat ig messanger.
Sebelum berangkat, khususnya jika ini adalah rute yang amat sangat baru untuk kamu jelajahi, maka coba baca petanya terlebih dahulu. Setidaknya tahu mana arah mata angin juga sangat penting. 

Ketika diperjalanan

Oke, sekarang kita bahas ketika kamu diperjalanan. Pastikan kamu tahu arahnya itu jelas, selain itu jangan lupa berdoa. Oh ya, bawalah suasana bahagia ketika bersepeda. Kamu bisa bernyanyi juga loh!
wajah saya ketika sudah masuk perbatasan Arnhem : BAHAGIA

Cerita Perjalanan Wageningen - Arnhem - Wageningen

Saya sendiri sudah bersiap berangkat sejak pukul 10 pagi, tapi alhasil karena  mageran saya pun menunda-nunda hingga saya berangkat sekitar pukul 11.30. Saya mengambil jalur atas (lihat peta) sejauh 20km, sedangkan ketika pulang saya melwati jalur bawah 18km.




Awal perjalanan saya sangat semangat sekali, namun lama-lama rasanya perjalanan yang saya tempuh terasa mulai berat. Padahal bangunan tempat tinggal saya pun masih terlihat ujungnya. Memang jalanan yang saya lewati terlihat datar, tapi ternyata itu adalah pendakian, sehingga saya merasa mengayuh sepeda dengan posisi ban dijepit.

Melewati Wageningen-Hoog, pemandangan pedesaan dan hutan-hutan menjadi panomara di sisi kiri dan kanan. Sesekali ada terlihat rumah-rumah penduduk dengan ukuran yang lebih luas. Yah, konon katanya orang Belanda yang tinggal di desa apalagi mereka petani pasti adalah orang kaya.

Sampai akhirnya saya pun sampai di Renkum. Sesekali saya berhenti sejenak untuk sekedar minum air, mengambil gambar lalu kembali melanjutkan perjalanan. Hal yang paling menantang adalah ketika saya melewati jalan yang mendaki, karena terasa begitu susah hingga akhirnya saya memutuskan untuk menuntun sepeda.


Dunia milik mereka berdua,saya numpang lewat aja
Sampai di Arhnem sekitar 1 siang. Saya berkeliling kota Arhnem dan bertemu dengan beberapa orang yang saya kenal. Mereka adalah Indah Andesta, Dita dan Rahma. Oh ya, saya juga singgah ke Media Markt untuk membeli memori kamera baru.




Sebelum berangkat, saya dibekali nasi dan lauk rendang tempe, dan di salah satu sudut kota Arhnem saya duduk menikmati makanan tersebut. Puas dengan menikmati kota Arhnem, saya pun beranjak pulang. Sayangnya baterai hape saya sudah 30% yang artinya sebentar lagi akan mati. Tapi, berhubung hape saya akhir-akhir ini sedikit sensitive, ketika saya baru saja keluar kota Arhnem hape saya mati. Berulang kali saya berusaha menyalakan dan berharap setidaknya ada berapa persen daya sehingga saya bisa melihat sekilas peta, tapi nihil. Tidak ada cara lain, saya pun tetap melaju. Kembali ke Arnhem dan menemui teman-teman saya bukan solusi yang tepat saat ini. Apalagi waktu sudah menunjukkan nyaris pukul 4 sore. Meskipun gelap akan dimulai pukul 8 malam, tapi saya berusaha agar tiba sebelum pukul 6.

Sepanjang jalan saya sebenarnya kuatir juga dengan diri sendiri, apalagi 18km perjalanan bukanlah jarak yang dekat. Meski bukan hutan belantara yang saya lewati, tetap ada perasaan was-was juga ketika melewatinya. Namun, dengan banyaknya mobil lalu lalang dan beberapa gerombolan pesepada memberi energi untuk terus berpikir positif. Sebenarnya ketika awal berangkat saya begitu gembira menyanyi mulai lagu nasional, lagu pop Indonesia, hingga lagu Korea. Seperti teguran, sepanjang jalan pulang mulut saya tidak berhenti untuk komat-kamit beristighfar. 

Sampai di Doorwerth, saya mulai bingung jalan mana yang saya harus ikuti. Untungnya, saya melihat dua perempuan lanjut usia yang memberi tahu arah jalan ke Wageningen. Awalnya mereka kaget, terlihat jelas dari wajahnya ketika saya bilang, saya dari Arnhem mau pulang ke Wageningen. Mungkin dipikiran mereka; Ini anak gak ada kerjaan banget ya?
Ketika saya pamitan, mereka pun mengucapkan, "Success!"

Selepas saya bertemu kedua perempuan tua itu, saya merasakan bersemangat lagi. Saya mengikuti jalan yang di berikan. Meski pun cuma jalanan secara garis besar. Nah sampai saya akhirnya melihat bus Wageningen-Arnhem. Tak lama kemudian, saya juga mengikuti arah papan jalan tertulis jelas Wageningen. Sebenarnya sebelum perjalanan, saya sudah mengingat dan berusaha menghapal posisi kota, deretannya dan lain-lain. Dan saat ini, saya masih di Renkum. Artinya sekitar 7-10 km lagi saya akan tiba di Wageningen.


Saking semangatnya saya melihat tulisan Wageningen 6km, saya terus saja jalan sampai-sampai tidak sadar saya masuk ke arah jalan tol. Beberapa mobil mengklakson saya dari belakang, setelah 1km, saya pun sadar dan putar arah kembali dengan berjalan kaki.
Nyasar dijalur tol
Di perjalanan pulang, saya juga melihat ada bunga berwarna pink nyaris putih yang tengah mekar di ranting tanaman. Danpukul 17.30, saya tiba dengan selamat di kamar saya!


akhirnya sampai!

Nah, saya juga ingin berbagi tips ketika kamu jalan sendiri dan merasa tersesat.

Tips diperjalanan khusus ketika nyasar dan tersesat

  1. Jangan panik. Ingat bumi bundar, kamu akan pulang kok. Selalu berpikiran positif.
  2. Jangan malu bertanya. Jika kamu cewek, mungkin akan merasa aman ketika bertanya kepada perempuan juga.
  3. Gunakan sosial media untuk menghubungi teman yang bisa dihubungi dan kiranya bisa membantu kamu. Tapi kamu harus berani pinjam hape orang yang kamu temui dulu. Saya pernah pakai cara ini. Namun untuk ke Arnhem ini saya tidak menghubungi siapapun karena .... kayaknya gak ada juga mau jemput saya hahaha.
  4. Lihat shelter bus! Ini yang saya lakukan. Ketika bus lewat, saya berusaha untuk mencari tahu dimana shelternya, karena itu adalah point-point terhubungnya jalur yang ingin kamu tempuh.

Alasan dan Hikmah saya bersepeda sendiri untuk perjalanan jauh

  1. Dengan sepeda, saya berusaha melatih diri saya untuk lebih bersyukur. Mengurangi penyesalan ketika sudah melakukan sesuatu. Dan mengurangi perkataan : Seadainya saya gak di sini, pasti saya sudah ...
  2. Saya juga tidak mengajak teman lainnya untuk ikut, karena ini adalah cara saya mengurangi rasa menyesal dan bersalah. Ketika ada teman ikut dan mereka terlihat keletihan, mohon maaf, pasti akan timbul rasa bersalah di diri saya sendiri.
  3. Saya bisa mengomeli diri sendiri dengan sepuas hati.
  4. Lebih menikmati perjalanan karena saya adalah orang yang suka tidur diperjalanan.
  5. Banyak spot asyik yang saya temui.
  6. Bersepeda jauh adalah hobi saya. 
Bukan belanjaan saya. Ada yang nitip!
Demikian cerita saya. Silahkan ambil yang baik-baiknya! Silahkan juga ditonton videonya.


Salam,

ishariatiz

Komentar

BACA JUGA