#JalanRandom : Bersepeda Wageningen-Arnhem-Wageningen


Setelah meneguhkan hati beberapa minggu, akhirnya saya pun meluncur dari Wageningen ke Arnhem dengan bersepeda. Sebenarnya bersepeda sendiri adalah metode saya belajar dalam banyak hal. Sebelum saya bercerita tentang belajar dalam banyak hal tersebut, saya ingin berbagi dulu tentang kenapa saya bersepeda.

#RandomFood : Korean Ginger Samgyetang

안녕하세요?

Halo semuanya! 
Nah saya mau cerita dulu, jadi saya pernah membuat korean Samgyetang, jadi chicken soup ala Korea yang umumnya menggunakan gingseng. Tapi, berhubung saat itu (jadi saya bikinnya sekitar bulan Oktober 2017) saya tidak menemukan gingseng, dan hasil kepo di beberapa sumber pun mengatakan bahwa pakai jahe bisa kok, maka berkreasilah saya.


Pertama kali tahu tentang menu ini karena nonton The Return of Superman, edisi Daehan Minguk Manse. Omo! Mereka makannya lahap sekali, maka berburulah saya resep menu ini. Sebenarnya masakan ini amat sangat mudah, jadi kalian semua bisa kok membuatnya, tinggal skip saja bahan yang tidak ada. Tapi yaa jangan skip ayamnya. Wk.

#RandomFood : Hungarian Chicken Goulash Soup


Dokumen pribadi

Memasak masakan luar negeri bukanlah hal yang baru saya lakukan. Ketika saya masih di Jogja, saya sering sekali bereksperimen membuat Japanese Curry, Korean Kimchi, Japanese Omurice dan lain-lain. Jika kalau ada yang bertanya kenapa? Yah, alasannya saya suka makan dan yang kedua saya ingin mencicipi menu-menu masakan luar negeri. Ketika kecil, salah satu mimpi saya adalah menjelajahi dunia, semakin bertambah usia, ternyata mengabulkan mimpi sendiri butuh perjuangan. Bahkan untuk mencicipi masakan luar negeri di restoran yang ada pun merogoh kocek yang tidak sedikit. Instannya, inisiatif membuat masakan sendiri adalah sebagai sarana saya menjelajahi dunia lewat salah satu ciri khasnya, menu tradisional.

#JalanRandom: Nyaris Seharian Tanpa Internet di Paris

Bonjour, people!



Sekitar bulan November, saya, Kak Amel dan Richa bersama-sama mengunjungi salah satu kota yang amat sangat terkenal akan romantismenya. Rencana ini terusul secara tiba-tiba sekitar dua minggu sebelum. Kebetulan saat itu, ada jasa tour untuk student yang bisa dibilang cukup amat sangat murah, kami cuma membayar sekitar 40euro Paris, tapi ini cuma untuk perjalanan saja, makan dan minum di tanggung sendiri. Btw, sebenarnya kalo bisa mengatur sendiri perjalanan, bakal lebih murah, tapi namanya kita cuma mau senang-senang saja saat itu jadi ya ikut-ikut aja.

Awalnya saya dan teman-teman semua sudah membeli paketan internet supaya kami bisa main apalah disana, instagram, whatsapp, fesbuk, dan lain-lain. Kami berangkat jam 8 malam dari housing menuju ke stasiun Ede dengan bus. Oh ya, tidak lupa juga kami membawa bekal, saat itu kami membawa nasi, mie goreng, ayam goreng, kerupuk, dan roti tawar isi. Oh ya, kami juga bawa bantal untuk tidur di bus. Dari stasiun Ede, kami menuju Stasiun Utrecht karena disanalah tempat kumpulnya, sekitar pukul 10an akhirnya kami semua berangkat ke Paris. Sepanjang perjalanan, bus yang kami tumpangi selalu berhenti untuk menjemput penumpang lainnya di titik-titik kumpul lainnya. Akhirnya pukul 6 pagi kami tiba di Paris!

Suhunya ternyata lebih dingin dari pada Wageningen! Ketika berhenti sejenak disalah satu pom bensin untuk ke toilet atau ke supermarket, saya baru sadar kalau hape tidak bisa terkoneksi dengan internet, akhirnya saya pun bertanya disalah satu kasir swalayan, dan doi kagak bisa bahasa Inggris. Saya pun bertanya bagaimana caranya agar bisa mengubah settingan hape sehinggga bisa digunakan di Paris, tapi doi juga kagak ngarti. Oke. Sooo sad!

Kami diturunkan disalah satu tempat yang saya tandai adalah adanya Ferris Wheel, kak Amel menyuruh saya untuk memoto supaya sebagai tanda kalau nanti kami akhirnya nyasar bisa kembali ke tempat ini dengan menunjukkan foto. Dan, sata itu ternyata hape kami bertiga tidak ada yang bisa digunakan untuk internetan. Berbekal dengan peta gratisan yang diberikan oleh pihak tournya, kami pun berkeliaran.

Museum de Louvre

dokumen pribadi
Sebenarnya lokasi kami turun sangat dengat Museum de Louvre, jadi dengan bersama rombongan kami berjalan kaki menuju tempat dimana lukisan Monalisa itu berada, sayangnya saat itu, kami tidak masuk karena ada yang usia lebih dari 26 tahun di antara kami. Wkwkw. Untuk masuk museum sendiri itu bisa dibilang gratis untuk pengunjung dibawah usia 26 tahun, saya kagum akan hal ini. Bagaimana pun museum adalah salah satu media untuk belajar, dan sekarang ini sangat jarang orang yang mau belajar ke museum, mereka cenderung mengandalkan kemudahan seperti adanya google. Kami menghabiskan waktu sekitar sejam disini untuk foto-foto.