#StudentLife : Enam Bulan Menjadi Mahasiswa Wageningen University


Hallo hoe gaat het met je?
Silahkan cari artinya di google translate, saya juga pake google translate kok.
Taken : @adlienerz Location : Uniwageningen

Wow, ternyata saya di Wageningen sudah sekitar 189 hari cuy! Ini berdasarkan database dari Aldita. Oh ya, Aldita sendiri adalah salah satu aplikasi dari Kedutaan Republik Indonesia di Belanda untuk mendata para mahasiswa yang sedang melanjutkan study di sini. Hmmm, saya sendiri lupa ini juga digunakan oleh anggota keluarga yang menemani atau tidak. 

Dalam aplikasi ini tersedia biodata, tanggal kedatangan, berapa lama kita di Belanda, tanggal kepulangan, dan juga masa berlaku pasport.


Tampilan awal Aldita


Perjalanan Menuju Negara Kincir Angin

Banyak up and down yang saya alami selama disini. Penuh drama, penuh suka dan suka. Karena saya berusaha tak ada duka yang boleh saya alami disini.
Saya mengawali perjalanan ke Belanda dengan penuh drama, tidak seperti kisah Cinta dan Rangga. Well, sebenarnya saya itu... ketinggalan pesawat pas menuju kesini. Jadi, ketika saya sampai di bandara dan mau check in eh ternyata meja check in pesawat yang saya akan tumpangi udah tutup. Alhamdulillah, dengan bantuan orang-orang baik saya dimudahkan oleh petugas untuk diganti penerbangan pada keesokan harinya. Saat itu, saya sudah janjian untuk sama-sama berangkat bersama Rika dan Kak Amel, dan akhirnya saya pun berangkat sendiri karena insiden ini. Saya bilang ke orang tua dan keluarga bahwa pesawat saya delay agar mereka tidak kuatir memikirkan saya gimana nasib keliaran di bandara. Padahal saat itu saya udah mayan kuatir banget haha.

Pada hari berikutnya, saya pun datang 3 jam sebelum counter check in dibuka agar saya tidak ketinggalan pesawat lagi. Saat melewati security check, saya diiringi lagu Chrisye - Pergilah Kasih, yang dinyanyikan dengan begitu syahdu oleh petugas, macam backsound Rangga dan Cinta aja ya??? Eh, masa?

Setelah masuk, saya tiba-tiba mewek sendiri dipojokan. Kemudian dihampiri oleh ibu-ibu yang hendak berangkat untuk menjadi TKW di Arab, nampaknya. Kudipuk-puk dan makin nangis aja. Melow sekali ya, sembari ingat kemaren saya itu ketinggalan pesawat dan pas saya berangkat pas 17 Agustusan kalo gak salah deh.

Drama selanjutnya berlangsung, ketika saya di ruang tunggu dan I feel alone, gak ada teman ngobrol. Cuma mainan hape aja. Terus sampai masuk ke dalam pesawat, disampingku ada pasangan yang sengaja mengompori kesendirianku kala itu. Buset mesra pula di pesawat, minum wine, bercengkrama. Saya? Nonton film berulang-ulang, minum jus dan air putih, ngecek map. Di sepanjang perjalanan, saya pun gak ketoilet sama sekali karena gak mau mengusik kemesraan mereka berdua. Wew!
Hingga keesokan subuhnya Alhamdulillah kumendarat dengan sempurna di Turki. 
Uyeaah! Turki cuy, tempatnya Kebab cuy!!!

Dan ternyata lapor pindah pesawat dan lala lala di bagian internasional itu lamaaaa dan panjaaaang pula antriannya, jadi dari semua penerbangan untuk maskapai ini dijadikan satu. Kalian tahu lah nasib saya diantara orang-orang yang tinggi, ku bahkan gak terlihat nampaknya.
Sekitar jam 6, akhirnya saya pun bisa berangkat menuju Belanda dan tiba di Belanda sekitar pukul 9 pagi.

Housing

Part housing akan saya ceritakan tersendiri, jadi tunggu saya. Ini juga penuh drama perjuangan cuy!

Kehidupan Perkuliahan

Saya sudah melewati tiga periode perkuliahan, yang berarti ada 30ects (credit/sks) yang seharusnya telah saya selesaikan. Banyak sekali juga dramanya, saya benar-benar kaget dengan model pembelajaran yang super cepat sampai kepala saya gak sanggup untuk memahami pada awal-awal. Setiap menjelang ujian saya tiba-tiba menjadi malas untuk dikamar sehingga saya kebanyakan menghabiskan nginap dikamar orang padahal yaaa cuma housing yang sama, hanya beda lantai saja. Tapi tujuannya untuk belajar sama-sama sih. Dan setelah ujian, rasanya jiwa raga tak berdaya bahkan saya bukannya lega setelah ujian tapi semakin deg-degan menunggu hasilnya.

Perbedaan dalam memahami materi ditambah dengan language barrier benar-benar menjadi tantangan utama saya. Saya pun ingin mengaku pada tulisan saya kali ini bahwasanya saya pernah mengalami kegagalan-kegagalan selama perkuliahan.

Saya menerima kenyataan bahwa saya gagal disalah satu ujian periode pertama, namanya Research Method (6ects). Saya akui pada awal itu, saya termasuk orang yang menghindar. Saat itu saya memang betul-betul tidak paham tentang apa ini research method, saya juga benar-benar tidak membagi porsi belajar saya dengan course lainnya yakni, Principle of Environmental Sciences (6ects) yang alhamdulillah lulus, karena saya cuma fokus belajar di course ini.

Memasuki periode kedua, saya mengalami yang namanya terombang-ambing akan thesis track jurusan yang diinginkan. Untuk free choice pun saya memilih Thermodinamic (2ects) dan Fundamental of Technology (4 ects), dan course wajibnya adalah ESA : Method and Application (6ects). Alhamdulillah, saya lulus di ESA: Method and Application tapi gagal untuk dua matakuliah free choices. Saat itu saya benar-benar sedih, tapi kayaknya pas gagal periode pertama juga saya sedih sih.
Dokumen pribadi
Beruntung periode ketiga, saya memiliki teman-teman kelas baik yang mau belajar bersama. Saya lulus untuk periode tiga dimatakuliah Environmental Assessment for Pollution Management (6ects). Sebenarnya usai ujian diperiode ketiga, ada libur dua minggu yang bisa dinikmati oleh teman-teman yang tidak ada jadwal resit exam (reexam), tapi berhubung saya memiliki tiga exams yang harus saya tuntaskan, maka saya harus tahu diri bahwa usaha saya masih kurang dan diberikan kesempatan untuk memperbaikinya saat resit exam ini.

Selama menuju resit exam, saya berusaha juga untuk belajar mata kuliah yang gagal tersebut dan membaginya. Daaan, jadwal ujian yang saya dapatkan pun di minggu kedua tiga hari berturut-turut. Beruntung ada Gita dan Rika yang mau menemani belajar. Kuterharu!

So bagaimana hasil resit examnya?

Alhamdulillah saya lulus untuk courses Fundamental of Technology dan Research Method dengan nilai yang Alhamdulillah. Untuk Termodinamika sendiri, yap saya masih gagal. Saya harus segera memutar otak apakah mengambil course lain dengan kredit 2 ects atau persiapan ujian lagi untuk Termodinamika. Jadi total ects yang peroleh hingga saat ini adalah 28 ects. Oh ya, fyi jadi untuk mahasiswa international sendiri memiliki standar ects yang harus diselesaikan yakni sebesar 30ects/tahun. Kalau tidak, kabarnya bisa dideportasi.

Jadi itu saja rangkuman belajar dan pengalaman khususnya menjadi mahasiswa disini. Memang belajar di sini banyak tantangan, tapi bukankah kita sendiri yang memilih untuk tantangan tersebut. Dan ingat, meskipun gagal ujian adalah suatu ujian khususnya buat mahasiswa tapi ingat Tuhan selalu memberikan ujian sesuai kemampuan kita. So, semangat!



Hikmah gagal ujian?

Bagi saya sendiri, gagal ujian ternyata benar-benar menyadarkan saya akan beberapa hal;
  1. Saya gagal karena memang periode pertama saya terlalu santai
  2. Saya gagal karena saya "menghindar" padahal saya sendiri tahu saya tidak bisa, tapi tidak mencoba untuk mencintai pelajaran tersebut
  3. Saya gagal karena saya sudah belajar namun saya belum memaksimalkan usaha saya
  4. Saya gagal karena saya salah ambil free choices. Wkwkwkw
Oke, mungkin itu dulu rangkuman singkat bagaimana nasib saya belajar disini selama enam bulan. Semoga untuk 18 bulan kedepan hingga saya lulus thesis, saya senantiasa diberi kemudahan dan saya juga bisa belajar dari kegagalan-kegagalan yang telah saya alami tersebut. Pun demikian juga untuk teman-teman lainnya.

"Kembali ingat, apa tujuanmu berada di tempat asing ini."



Salam,

ishariatiz






Komentar

  1. hai,, ketemu tulisan ka isty disini^^
    ga nyangka di pesawat mellow... lain kali bekel marshmallow ka buat obat mellow ya? :D

    BalasHapus

Posting Komentar

BACA JUGA