#RandomTalk: DITUNGGU AKSIMU UNTUK #INDONESIABEBASSAMPAH2020

Aloha semuanya.
Masih ingatkah postingan saya mengenai #INDONESIABEBASSAMPAH2020 ? Ya udah kalo belum boleh kok di klik dulu.


Video kegiatan #IndonesiaBebasSampah2020 oleh TEST English School Pare
Sorry saya jelek ngomongnya, maklum masih belajar saat itu sampai sekarang


Tidak terasa sudah setahun (dua tahun) sejak saya akhirnya tahu bahwa ada gerakan ini loh! Lantas apa sajakah yang telah saya lakukan? Memang sebenarnya tidak banyak, saya masih terus saja menjadi pribadi yang konsumtif, masih belum bisa hidup ala zero waste, tapi bukan berarti saya menyerah begitu saja bukan?

Ketika saya masih di Pare, saya sadar bahwa saya ini tinggal di daerah indekost tapi tidak bisa hmm maksudnya agak sukar untuk memasak demi kebutuhan perut sehari-hari. Pilihannya hanya beli makanan dari pedagang sekitar. Nah, setelah saya renungi, saya tahu aksi gerakan #IndonesiaBebasSampah2020 tapi saya masih gitu-gitu saja. Sehingga, terlintas dipikiran saya bagaimana caranya supaya saya bisa peduli juga dengan sampah yang saya produksi dari kegiatan sehari-hari dan yang paling nyata adalah membeli makanan ini. Umumnya, makanan yang saya beli akan dibungkus dengan kertas makanan, dilapisi lagi dengan koran, diikat dengan karet, dan terakhir dikasih bungkusan plastik. tentunya nyaris semua akan saya buang, kecuali plastik jika masih bersih bisa saya gunakan (reuse) untuk kepentingan lainnya. Kalau tidak? Wah bisa dibayangkan, saya makan 3 kali sehari otomatis saya akan memproduksi timbulan sampah 3 bungkusan makan perhari, nyaris seminggu dan selama beberapa bulan di Pare.
Oke, saya mulai memutar otak. Memasak tidak memungkinkan bagi saya, selain terhalang oleh aturan indekost Pare, saya juga akan kesulitan untuk membagi waktu belajar di Pare. Sebenarnya, bisa saja saya makan di tempat (warung makannya), tapi saya bukan tipe yang ingin berlama-lama diluar. Akhirnya, saya pun membeli wadah makanan.

Itu terdengar begitu simple, bukan? Saya menyediakan dua hingga tiga wadah makanan, dan ketika hendak ke warung makanan maka itulah pengganti bungkusan kertas dan plastik, saya melakukan hal ini nyaris enam bulan lebih selama di Pare. Saya tidak bisa mengkalkukasi berapa timbulan sampah yang berkurang oleh kegiatan saya, setidaknya saya tidak melihat sampah yang menumpuk begitu banyak di keranjang sampah pribadi saya.

Awal saya melakukan hal ini, banyak teman yang berkata remponglah, dan beberapa pedagang pun heran. Sebenarnya lucu juga kamu beli makanan dengan membawa wadah sendiri.

Harapan saya, semoga saja ide sepele ini bisa digunakan oleh teman-teman, bahkan inilah yang saya katakan kepada para interviewer saya di seleksi LPDP. Selain itu, saya juga mengurangi penggunaan plastik kresek dengan memasukkan barang belanjaan yang kiranya bisa masuk dalam tas saya. Ketika di Indonesia harga plastik kresek terkadang gratis, di sini, di Wageningen tempat saya belajar, bahkan kita harus mengeluarkan uang untuk membeli plastik belanjaan. Beberapa orang terlihat memilih untuk membawa sendiri plastik belanjaan mereka.

Nah sekarang di tahun 2018 ini, sebenarnya aksi mengurangi sampah lainnya ini saya lakukan di akhir 2017. Saya tinggal di negara yang sangat senang mengkonsumsi roti-rotian, otomatis mereka akan menghasilkan timbulan sampah botol selai sebagai pelengkap roti tersebut.

Entah dari mana, saya tiba-tiba kepikiran untuk membuat DIY pencil holder dari sampah botol tersebut dan saya jadikan sebagai kado ulang tahun untuk teman-teman saya. Bisa dibilang teman seangkatan saya yang dari Indonesia sebanyak 70an orang, berarti saya dan teman-teman saya bisa mengurangi sebanyak 70an botol dalam setahun. Saya membayangkan jika hal sepele ini dilakukan juga oleh orang lain. Maka, tentunya kita bisa bersama-sama lebih selektif dalam memilih sampah sebelum dibuang begitu saja ditong sampah. Kita juga bisa terlatih mengasah kreatifitas dengan pengolahan limbah menjadi benda yang lebih bermanfaat, bahkan kita bisa lebih cinta terhadap lingkungan, bukan?

Oh ya, untuk kegiatan membuat DIY pencil holder ini saya lakukan bersama teman saya Isnawati Hidayah dengan nama KRITI PROJECT. Konsep dari Kriti Project memang kami menjual agar kegiatan ini lebih sustain, dan dana yang kami kumpulkan tentunya digunakan untuk bahan-bahan mendekorasi botol-botol tersebut. Tapi tetap, kami juga memberikan produk ini secara gratis sebagai kado ulang tahun kepada teman-teman seangkatan. 

Mungkin kapan-kapan saya akan membagikan cara membuat pencil holder kepada teman-teman semuanya.
Selamat beraksi untuk #IndonesiaBebasSampah2020
Kalo bukan kamu, siapa lagi?
Kalo bukan sekarang, kapan lagi?





Salam,

Istiqomah Shariati Zamani

No comments:

Post a Comment