Anak Tinggal, Anak Rantau, Anak Sekolah!

Halo, lama tidak menulis di blog ini. Saya ingin cerita kepadamu tentang bagaimana saya dulu bisa sekolah. Sebenarnya, alhamdulillah saya diberkahi kedua orang tua yang amat sangat mengedepankan pendidikan (well, kalo ada yang tanya: agama kok enggak? Bagi saya urusan agama menjadi konsumsi saya pribadi, bukan berarti saya tidak mengedepankan agama loh ya.) Untuk urusan pendanaan, orang tua saya akan baik-baik saja asal saya meminta untuk beli buku dan uang kursusan, jelas akan beda ketika saya minta sejenis elektronik pendukung seperti hape, saya teringat ketika saya ingin membeli handphone samsung yang qwerty and touchscreen, butuh waktu setahunan minta, dan tiga bulan baru searching harga, akhirnya saya hanya dikasih duit sejuta dan mau tidak mau saya pun beli hape bekas. Tapi bagi saya tidak apa-apa, hape bukan suatu hal yang amat sangat penting asal bisa berkomunikasi. Saya tidak akan membahasnya lagi.


Jadi, ketika saya kelas 6 SD dimana sekolah saya jaraknya cuma sejam dari kota Kendari, saya sekolah di SD Tridana Mulya, salah satu sekolah favorit ukuran desa di Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan. Saat itu saya iseng bilang ke Umi, "Ingin sekali bisa SMP di kota, SMA di luar kota, dan kuliah di luar negeri." Sesimple itu saya bicara. Terus terang pada saat itu, Abah saya menjabat sebagai kepala sekolah di MTs Swasta yang didirikannya sendiri, saya tidak lanjut di sekolah tersebut karena saya punya target tersendiri. Jadilah, saya merantau ke Kendari. Di kota tersebut, sebenarnya ketika saya kanak-kanan, kami tinggal di sebuah daerah yang tidak jauh dari Kantor Walikota, namun ketika menjelang SD, kami sekeluarga pindah di Landono, rumah kami di Kendari di jadikan rumah indekost. Tapi, saya tidak tinggal kembali di rumah tersebut, Abah dan Umi saya mengantarkan saya di sebuah rumah daerah Baypass yang ketika siang atau menjelang hari senja, biawak pun masuk ke dalam rumah, maklum begitu dekat dengan daerah teluk, tanah rawa. 
Jaman saya kecil, amat sering kami mendengar istilah anak tinggal, kalau kata teman sekarang itu istilah halus dari (maaf) pembantu. Anak tinggal berarti kamu tinggal di rumah orang, dapat kamar, tapi membantu pekerjaan rumah dan saya tinggal bersama guru Umi saya sewaktu beliau sekolah dulu. Orangnya sudah tua, saya terkadang memanggil Nenek. 
Kehidupan sebagai anak tinggal ternyata tidak begitu mudah, namun bukan berarti saya menderita. Saya menikmatinya, di rumah itu saya belajar dan berproses, saya tinggal bersama tiga orang anak tinggal lainnya yang notabene masih kerabat dengan saya, alhamdulillah mereka sudah menjadi orang sukses. Di rumah itu, saya pertama kali belajar memasak, masak air hangus karena saya tidak tahu bagaimana tanda air mendidih (kalau diingat ingin tertawa), tugas saya mulai subuh bersihkan rumah, menyapu dalam, satu orang menyiram tanaman, satunya menyapu luar rumah, dan satunya menyiapkan sarapan. Kami berbagi tugas. 
Jadi anak tinggal itu, sering sungkan, saya ingin sekali ikut kegiatan tapi harus tahu diri, jadi mau tidak mau saya berusaha untuk membagi waktu, meminta ijin ketika menginap di luar terutama acara kemah, kemudian lomba dan lain sebagainya. Oh ya, pemilik rumah memiliki usaha ketring meskipun tidak tiap hari, saya ingat betul ketika ada pesanan kami bahkan nyaris tidak tidur hingga pagi. Malam itu, malam menjelang besok saya ujian, bagaimana sebelah paha saya memanggu buku sebagai sandara untuk belajar, dan tangan bergerak mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan. Saya menikmatinya, itu adalah proses belajar, sekali lagi. Untuk uang bulanan, saat itu saya dapat jatah Rp 20.000 perbulan, sedikit bukan? Tapi cukup untuk kebutuhan saya. Saya tidak mengenal yang namanya ngemall, belanja macam-macam, bahkan masuk bioskop pun saya rasakan menjelang tahun 2014. 
Saya suka sedih ketika mendengar omongan orang, "Kok tega anak seusia saya disuruh jadi anak tinggal?" Saya sering teriris ketika orang tua saya di bilang kejam. Saya tidak merasakan apa  yang saya lakukan memberatkan saya. Di sini saya belajar, untuk anak usia SMP saya bisa ikut lomba sampai nasional dengan jadwal padat, untuk saya anak yang dari desa, saya bisa jadi ketua organisasi di sekolah dengan begitu rasa sungkan saya meminta ijin. 
Akhirnya, menjelang ujian, saya keluar dari rumah tersebut, bukan karena tidak betah, bukan! Saya ingin fokus mengikuti ujian nasional. Saya dan adik saya akhirnya menempati sepetak kamar kosan kami sendiri, berkat menjadi anak tinggal, saya tahu bagaimana memasak. Saya bisa mandiri untuk urusan kebutuhan perut sendiri sejak saya SMP, makanya ketika sekarang teman bilang: kok bisa masak? Saya ingin berterima kasih kepada Umi Abah dan Nenek. 
Hidup perantauan saya berjalan selama 2 tahun hingga menjelang kelas 2 SMA. 
Dan saya terhenti di kota yang sama. Mimpi saya sekolah di luar kota pun tidak berjalan seindah yang saya harapkan. Tapi, dari situ bukan berati saya benar-benar gagal, saya bertemu dengan banyak orang dalam lingkup organisasi yang lebih besar dari organisasi ketika SMP. Di SMA, saya belajar berorganisasi dengan lebih baik, mengakrabkan diri dengan para senior, (jujur ketika saya SMP masih terasa gap antara senior dan junior) tapi ketika di SMA, suasana kekeluargaan benar-benar terasa, terhadap guru layaknya orang tua, terhadap senior layaknya kakak dan begitupun pada adik tingkat. Hingga sekarang, kami masih berkomunikasi satu sama lain. Terimakasih atas skema yang berikan, saya tidak menyesal bertemu dengan mereka semua.
Mimpi saya untuk sekolah di luar kota pun terwujud ketika saya kuliah di Jogja, lagi, saya merantau. Tinggal di asrama daerah, berbagi aktifitas dan tugas bersama teman serumah. Di sini, saya merasakan kehidupan bersama housemates bahkan ada roomate, karena sekamar berdua. Jauh dari orang tua bukan berati jauh kontrol orang tua, dengan teman-teman sedaerah, saya merasa berada di rumah. Teman-teman begitu baik, mereka benar-benar berperan sebagai saudara, ketika saya butuh apa-apa mereka yang memberikan, ketika salah mereka segera menegur agar saya dapat memperbaiki. 
Dan disini kawan, setelah dua tahun perantauan di Pare, paska saya wisuda di Kota Istimewa itu, saya kembali merantau. Seperti mimpi, apa yang pernah saya katakan pada Umi saya menjelang saya menjadi anak berseragam putih biru menjadi kenyataan. Apa yang saya tonton di televisi ketika negara lain memiliki empat musim, akan saya rasakan. Semuanya benar-benar nyata sekarang.  
Jika saya hitung, sepertinya sebelas tahun sudah saya lewati sebagai perantau, sebelas tahun merayakan ulang tahun sendiri, beberapa kali merayakan hari raya di kampung orang hingga bingung siapa yang hendak dikunjungi. Saya tidak menyesal, terimakasih atas pembelajaran yang telah diberikan kepada saya. Abah, Umi, Nenek, Adikku yang juga ikut saya merantau sejak SMP, semuanya. 
Di sini saya, 

Wageningen!
Saya sudah melewati dua musim, Summer dan menjelang Autumn.

Komentar

  1. Sangat imspiratif.... Ternyata Hal inilah yg membuat kakak menjadi pribadi yg mandiri... Sejak SMP hidup tanpa didampingi orang tua dan orang tua kakak orang tua hebat... Bukannya mengajar dengan kata kata, tetapi dengan menunjukkan bagaimana caranya dengan menyuruh kakak menjadi anak tinggal terlebih dahulu... Semoga menjadi inspirasi bagi yg ingin berhasil termasuk saya juga

    BalasHapus

Posting Komentar

BACA JUGA