#IndonesiaBebasSampah2020

Halo teman,
Sudah lewat dari bulan Februari 2016 (emang ada apa di bulan Februari? Biasanya bulan Januari, seperti 11 Januari bertemu... atau kisah kita berakhir di Januari... Uwoooo oohh~~~ #falesss)

Jadi, teman-teman yang uptodate, bulan Februari 2016 kemarin ada agenda nasional loh, apa itu?
HARI PEDULI SAMPAH NASIONAL


Loh, kok sampah saja di peringati? Yaiyalah, masa hanya hari jadian aja yang diingat. Wkwkwk
Begini sejarahnya kawula muda Indonesia yang keren, pemilihan bulan dan tanggal untuk Hari Peduli Sampah Nasional tidak asal serta merta comot aja loh, ada latar belakangnya. Ayok, duduk yang anteng di depan layar sambil nyimak tulisan ini, oh ya jangan lupa ambil poin-poinnya yaaa~~~ Saya menulis ini berdasarkan hasil membaca beberapa berita yang terkait kemudian saya rangkumkan dengan menggunakan bahasa saya yaaa. (Salah satu sumber saya baca : TPA Leuwi Gajah)


Tahun 2005 tepatnya tanggal 21 Februari, sebagian masyarakat tentu melakukan aktifitas sehari-harinya, bangun, siap-siap kerja/sekolah/kemana aja, terutama salah satu aktifitas pagi biasanya yang kita lakukan adalah buang sampah.
Nah, lokasinya di Bandung, Jawa Barat (kumaha damang akang dan teteh? damang?), di TPA Leuwi Gajah. Kalian pasti tahu TPA sebagai salah satu tempat bermuaranya sampah-sampah kita. Nah, kejadian ini sekitar dini hari, saat orang-orang sedang beristirahat dari penatnya aktifitas di bawah terik matahari. Siapa yang sangka, dua desa menghilang, tersapu oleh gunungan sampah. Sekitar 150an nyawa pun akhirnya telah diada. Mungkin teman-teman selama ini berpikir bahwa sampah itu masalah kecil, toh buang aja deh di jalan, bakal ada bapak-bapak yang rajin nyapu kok tiap subuh hari. 
Sampah yang bagi orang banyak menganggap bukan masalah yang besar justru menjadi bom waktu yang siap-siap mengarah pada kita. Ini bukan cerita dongeng, nyata terjadi. Dari kejadian inilah, pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah, tidak serta merta menjadi salah satu tanggal nasional, namun di harapkan masyarakat lebih peduli lagi terhadap sampah yang dihasilkan. 

Kalau mau dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Jepang, sebenarnya mereka bukan negara zero waste, bukan negara yang dari jaman dinasti dahulu kala sudah cinta kebersihan, cobalah kalian baca kasus minamata, kasus pembuangan limbah ke badan air dan manusia kembali menerima akibatnya. Berkaca dari situ, pemerintah mereka membuat peraturan lebih ketat tentang pengolahan sampah dan limbah baik secara domestik melibatkan warganya, industri dalam hal ini beberapa produsen kebutuhan manusia pun dilibatkan untuk mengolah sampah, dan pemerintah.


Nah, dari situlah sejarahnya teman-teman. Di blog ini juga saya ingin berbagi cerita, jadi di 21 Februari 2016, teman-teman kursusan mengadakan kegiatan #IndonesiaBeasSampah2020. Ini kegiatan nasional loh, di Jakarta dan Jogja juga mengadakan. Kegiatan kami sendiri di Pare meliputi jalan santai dari kursusan sampe di Kili Suci (salah satu tempat hits di Kampung Inggris, Pare). Sepanjang jalan santai teman-teman memunguti sampah yang berserakan di jalan maupun di selokan. Di Kili Suci acaranya lebih santai dan akrab, ada juga sesi berbincang dengan narasumber mengenai sampah dan #IndonesiaBebasSampah2020 buka web disini.










Kenapa 2020?
Sebenarnya, kegiatan ini bentuk ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk peduli terhadap sampah, dan tentunya masyarakat ingin tinggal di lingkungan yang nyaman, bersih dan bebas sampah, dan disini harus ada bentuk kolaborasi antara masyarakat, LSM peduli lingkungan, pemerintah untuk sama-sama turun tangan mengolah sampah. 
Tahun 2020 merupakan target bersama bahwa masyarakat Indonesia sudah mampu mengurangi dan mengolah sampah yang dihasilkan, sehingga Indonesia bisa bebas dari sampah lagi. (baca juga ini)

Ini adalah sebuah kerja yang berat jika dilakukan seorang diri. Tentu besar harapan pemerintah Indonesia agara masyarakat dapat kembali merenungkan bahwa tugas mengelolah sampah bukan serta merta urusan pemerintah, masyarakat bisa mulai belajar diet kantung plastik seperti :
  • Kalau belanja dikit macam sabun dan sikat gigi gak usah dibungkus kantungan. Meskipun si penjual bilang 200 rupiah buat plastik yaa, usahakan nolak. Saya sendiri lagi berusaha diet kantung plastik, jadi kemana-mana bawa tas ransel entah ke I-mart atau A-mart, atau toko kelontong, semuanya saya masukkan ke dalam tas hehe.
  • Oh yaa, saya juga lagi berusaha diet sampah kertas makanan hehe, maklum anak kos yang dikosan tidak diijinkan masak, jadinya harus makan di luar. Ada dua hal nih, pertama bisa kita makan di tempat, kan pakai piring biasanya, atau yang pewe makan di rumah bungkus kaaan. Ini juga saya sedang coba, membeli sejenis wadah makanan dan minuman seperti jaman TK dulu loh. Nah, kalau mau bungkus tinggal minta Ibuk penjual masukin aja dalam wadahnya, jadi makan bekal deh.
  • Kemudian mulailah belajar budaya "malu membuang sampah sembarangan", mungkin karena saja jurusan berbasis Lingkungan, sejak saat itu saya mulai agak risih buang sampah, pas awal-awal ada beberapa teman yang bilang kayak gini pas saya lempar sampah sisa bungkusan minum, "Anak Lingkungan tapi gak cinta lingkungan," Nah itukan jadinya kayak gimana, setelah itu saya mulai hati-hati lempar pembungkus apa pun (bukan maksudnya sepi baru nyampah loh yaa), jadi kalau saya makan permen atau apa biasanya bungkusnya saya masukkan dalam tas, jadi tas isinyaa yaaa sampaaah, nanti nemu tong sampah baru dibuang hehe. 


Saya sadar, saya manusia biasa, masih suka khilaf, bukan manusia yang zero waste, tapi saya berusaha untuk mengurangi dan lebih peduli terhadap sampah yang saya hasilkan. Misalnya, taruhlah sampah pada tempatnya :D

Semoga bermanfaat.

Komentar

BACA JUGA