Gagal Negosiasi di Puskesmas

Halo, semuanya...
Selamat... karena sekarang baru menjelang malam, maksudnya yaah, selamat malam.
Saya lagi makan di ABM, tempat biasa nge-wifi dekat kursusan hahaha. 
Sambil makan, saya ingin cerita tentang pengalaman pribadi saya yang ingin saya ekspos, apa sih! Bahasa ini beribet.
Mita makasih udah dipinjamin sepeda

Lanjut.

Jadi, pas kapan hari itu, saya ke Puskesmas... Ini kali kedua saya ke Puskesmas dengan keadaan sehat wal'afiat. Alhamdulillaaah. Haha, jadi ngapain saya ke Puskesmas? Mejeng, Shopping, atau menambah relasi?

Hmmm, yang pertama kali saya datang temani si Dauti karena lagi sakit, kena herpesss... Kasian kaan? Iyalah. 
Kemudian, yang kedua minggu-minggu ini, jadi saya memiliki maksud terselubung untuk menghampiri dokter-dokter di sana. Uhuy! 
Jam 10an saya memburu waktu ke Puskesmas Pare, yap, karena saya sedang berada di Pare. Ngapain? Gak usah nanya. Sebenarnya saya sedang menambah daerah kekuasaan :D
Nah, kemudian ternyata loket pendaftarannya udah tutup. Kaaan syedddihhhhh. Udah ngos-ngosan belum makan juga cuma bawa botolan pulpi. Tapi, sudahlah memantapkan diri untuk bertanya, malu bertanya ntar nyesal. Eh, kata Ibunya yang baik hati nan cantik boleh kok kalau mau minta surat (surat untuk ngelamar #kamu). Eh kemudian, ada pasien, kan sebenarnya tidak boleh karena menurut peraturan udah bukan jam untuk berobat kan, tapiiii... di sini saya melihat mereka berdedikasi untuk kesehatan, si Ibu nyuruh saya panggil pasien yang sakit katanya boleh, mungkin karena memang gak tega namanya orang sakit...

Oke, lanjut yaaa...
Saya pun mendaftar sama si Ibu dan terjadilah conversation di antara kami, 
"Ini suratnya buat apa?"
"Buat ngelamar... bu?"
"Kok kamu sih yang ngelamar?"
"Karena gak mungkin dia yang ngelamar, Bu." 

Ingin nambahin kayak gini ke si Ibu "Saya yang butuh dia untuk mensubsidi kehidupan saya di masa akan datang." (eyaaah-eyaaah-eyaaah)

Lanjutlah, saya pun mengambil sepucuk surat yang nantinya daku harus berikan kepada bapak dokter. Ihirrr... Nah, pas masuk ruangan 13, yaap ini adalah ruang pemeriksaan, tempat dokter-dokter bertahtaaaa. 
Si Bapak mengulurkan tangan, saya pun memberikan minuman saya (karena pas itu saya sedang pegang minuman)
"Kamu mau ngapain ke sini?"
"Mau minta surat Bapak?"
"Yaiya, mana surat dari loketnya?"
Ooooh, saya pun menyodorkan pada si Bapak.
"Iya ini, siapa yang minta yang lain?"
Dalam hati saya berkata, maaf bapak saya gak peka, efek belum makan.

Saya duduk berhadapan dengan Bapak A, kemudian ada Bapak B yang datang dengan membawa semangkok bakso. Kasian yaa dokter, pantas aja mereka ada jam istirahat buat makan, buat bernapas sejenak, merenggangkan punggung dan sesekali bercengkerama sama sesama.

Nah,
Dimulailah komunikasi serius di antara kami, dan saya sudah berniat untuk bernegosiasi hahaha *tanduk mulai keluar

"Nama kamu siapa?"
"Istiqomah, Pak?"
"Tunggu, tunggu... I-s-t-...,"
Saya mengeluarkan KTP, "Ini Pak nama saya,"
"Oalah, Istiqomah biasa to?"
Emangnya ada yang luar biasa
"Lahir 199X, jadi usia duapuluh xxxx"
"Eh Pak, Pak setoppp, tunggu dulu, saya masih duapuluh xxxx, baru Desember kemarin Pak usianya nambah,"
Kemudian si Bapak mengoreksi usia saya yang telah bertambah setahun. Saya bernapas lega... hah huh!
"Tinggi badan berapa?"
"Sebenarnya tinggi saya itu 1x9 cm, tapi... bisa gak Pak tambahin 1 cm supaya genap 1x0 cm,"
Bapaknya natap sejenak, kemudian lanjut menulis,"Jelas gak bisalah. Bohong loh biar cuma 1 cm,"
Saya ketawa, bapaknya ketawa. Hahaha Kitapun ketawa bersama... tapi sebenarnya saya ketawa sedih karena gagal negosiasi masalah tinggi badan.
"Berat?"
"Terakhir itu cuma 42 kg,"
"Beneran ini? Jangan-jangan cuma mau kelihatan kurus,"
Yaelah Pak, untuk apa? Untuk apaaa aku bohong tentang berat. 
Saya malah ingin gemuuuuk tapi gak bisa gemuk-gemuk :(
"Tujuannya?"
"Buat ngelamar ..., Pak?"
"Oke,"
"Pak bolehkah saya minta dua surat Pak?"
"Loh buat apa?"
"Mau ngelamar dua, Pak?"
"Ckckckc...,"
Selesai itu, si Bapak A menuju Bapak B, "Ayo Pak darurat-darurat-darurat...,"
Si Bapak B ngelap bibir usai meletakkan sendok di pinggiran mangkok kemudian tanda tangan.

Lega, udah selesai semuanya, sayonaraan sama si Bapak-Bapak minta restu semoga lamaran sukses, si Bapak doakan juga. Dan back to dorm.

Buat teman-teman yang berada di Pare, jika merasa kurang sehat bisa ke Puskesmas Pare, lokasinya di daerah alun-alun Pare, jam berkunjung maksimal jam 10 yaaa~~~ karena kesempatan jarang datang dua kali, sapa tau pas kalian datang jam 10an ke atas di tolak. Ingat, mereka butuh waktu istirahat juga, dari pagi-pagi siapin diri untuk mengatasi masalah anda tanpa masalah. 

Buat yang ke sana, jangan lupa sampein salam saya yaaa~~~ semoga kelak bisa ke Puskesmas ketemu si Bapak-Bapak Dokter dan Ibu Loketnya, tetap tujuannya bukan berobat tapi mau mejeng memperluas wilayah relasi. Amiiiiin~~~ 
Ciao!!~
Saya selesaikan makan dulu yaa.
Bye-byeeee.

No comments:

Post a Comment