Forget Me Not

Tulisan ini terinspirasi dari video Forget Me Not. Sumber dapat dilihat di Forget Me Not Video


Setiap pagi, aku melakukan hal yang sama. Mengelap kakinya yang kulepatkkan di atas kakiku. Kakinya telah diselimuti kerutan-kerutan, bahkan sekujur tubuh kami berdua tanpa terasa telah menua. Aku bahkan melupakan waktu, sudah berapa lama kita bersama?
Kupasangkan kaus kakinya. Dia tengah duduk di kursi kesayangannya. Rambutnya telah kusisir rapi. Ia tetap cantik di mataku. Pertanyaannya setiap pagi hari selalu sama, "Siapa kamu?" tanyanya dengan begitu ketus. Dia tidak tersenyum, tapi satu hal yang aku sukai, dia tidak merasa risih setiap melihat orang asing baginya memasangkan kaus kaki. Dalam hati, sejujurnya aku sakit mendengar kalimat itu, namun rasa kecewa dan sakit itu perlahan-lahan menguap seiring dengan kasih sayang yang selalu tumbuh setiap hari untuknya. Bagaikan bunga kembang sepatu dan beberapa tanaman lainnya di halaman rumah kami, tak pernah mati karena aku tak pernah bosan menyiraminya dengan kasih sayang dan cinta. 

"You don't remember me. But, I remember you."

Setelah itu kita berlari pagi berdua. Kau selalu menolak untuk kusentuh. Kau tidak mau bergandengan tangan denganku. 

Setiap kali ia menanyakan hal yang sama, maka jawabanku selalu sama. 
Namamu adalah Wandee dan suamimu adalah Boonsong.
Kau menyukai tanaman dan pepohonan.
Kau juga suka warna biru, bahkan hampir seluruh ruangan kuberikan warna biru untuk membuatnya tersenyum.
Ukuran sepatumu - yang juga berwarna biru - enam.
Kau menyukai air putih yang dingin dan kari yang pedas.
Tapi sangat membenci kacang polong.
Dan... Apapun yang kau makan, kau harus mendengarkan musik ini.
Ketika kau mendnegarkannya, maka kau dengan gembira menggerakkan tubuhmu untuk mengikuti alunan lagu, sayangnya wajahmu tetap dingin. 

Karena kau sangat menyukai alam, maka setiap aku hendak pulang ke rumah kusempatkan untuk membeli satu pot tanaman baru khusus untukmu. Tahukah kamu? Aku bukan ahli dalam bidang ini, aku berusaha mencari yang terindah dari yang ada. Saat kulihat kau tertawa, hatiku sungguh bahagia, meski pun kau tertawa karena sebuah buku bukan aku. Sejujurnya, kau sangat periang dan mudah tertawa, itu salah satu sebab aku sangat mencintaimu. 

Kau sangat suka sekali menyuruh, bahkan satu hal... kau juga suka akan kebersihan. 

Setiap waktu keperiksa keadaan rumah dan kamar. Berharap tak ada kotoran yang terlihat oleh kedua matamu yang indah

Dulu kau yang membersihkan istana kita, namun aku sadari roda pasti berputar, kini aku menggantikan tugasmu. Kujadikan kau sebagai ratu yang harus kulayani. Aku mencintaimu, segala yang ada di dirimu, bahkan tingkah lucumu yang menari-nari ketika musik tertangkap oleh indera pendengaranmu. 

Love to complain and sulk

"Sayang, ada makanan yang menempel di pipimu", kataku saat kau makan dengan begitu sinis. Aku selalu tersenyum di hadapanmu dan tak pernah mengeluh.

Kita menikah tanggal 6 Juli. 

Saat itu, kau benar-benar tampak seperti putri dalam balutan gaun putih yang indah. Senyumanmu pada tamu-tamu. Kita bahagia, mengikat janji untuk saling mencintai dan mengisi kekurangan satu sama lain. Hingga saat ini, aku tetap memegang janjiku padamu. "Aku akan mencintaimu dan meyayangimu selama sisa usiamu." Ingatkah kau, kala aku mengatakan itu di depan podium, tidak sedetik pun mataku berpaling. Aku hanya melihatmu karena kau adalah masa depanku. 
Kemudian kau tersipu. Kutarik kau menuju lantai dansa, di sana kita berdansa. Menjadi ratu dan raja yang bahagia. Semua orang bertepuk tangan untuk kita. Kau berputar-putar dengan tertawa. 
Hari ini kita melakukannya lagi.
Kita berdansa berdua, kau hapal betul gerakan dansa itu. Kau menari dengan lincah. Aku tertawa bahagia.
Saat musik berhenti, tidak berhenti pula harapanku agar kau mengingatku.
"Kau siapa?" katamu lagi.
Aku tak kecewa. Kutahu, Alzhaimer lebih hebat membuatmu melupakanku, tapi ia tak cukup hebat membuatku menyerah. 
"Tidakkah kau lelah?" tanyamu dengan nada sinis.
Kukatakan dengan tersenyum, "Tidak."

Komentar

BACA JUGA