Percakapan Dua Ekor Sapi

source : andrearment.com

Dua ekor sapi itu duduk berhadapan. Matanya terpejam. Mereka tak tidur, perut dan giginya masih menguyah santapan alam hari ini. 


"Sapijo, kamu lihat dua orang itu. Tamtam dan Pak Tua sedang asyik di bawah pohon." Sapiyem menggerakan kepalanya, membuat lonceng yang menggantung di leher berbunyi.
"Mwoo." Sapiyem malas menggubris perkataan rekannya.
"Enak saja mereka duduk berteduh di bawah pohon sedangkan kita harus berpanas-panasan di bawah terik matahari." Sapiyem berceloteh, menggerak-gerakkan kepalanya lagi.
"Kunyah dulu makananmu, baru berbicara Sapiyem." Sapijo mengendus sebal. Ia bosan mendengarkan celoteh sahabatnya yang hanya akan membahas tentang perbandingan dirinya dan manusia.

Sapiyem menatap sinis. Menguyah dengan cepat rumput-rumput yang berbentuk bolus dari retikulum yang dimuntahkan kembali dalam mulutnya.

"Mwooo. Aku sudah selesai makan, tak berselera."

Sapijo menggelengkan kepala. "Harusnya kau bersyukur Sapiyem. Lihat kulitmu, walau terus-terusan di bawah terik toh tetap tak berubah. Bandingkan dengan mereka, sejam saja di bawah matahari, akan memerah terpanggang." Sapijo mengerakkan telinganya, mengusir lalat-lalat yang mengerubungi di bagian tersebut. "Kita punya gudang makanan dalam, kalau pulang masih bisa makan. Sedang mereka tidak. Lapar ya lapar, harus keluar mencari makan. Dalam hal lain, kita lebih bisa bermanfaat, tenaga kita untuk membajak sawah. Sebagai balas budi para petani dan penggembala tiap hari menyediakan kita makan, membersihkan kotoran kita. Bagaimana jika kotoran itu menumpuk di kandang. Tidak dibersihkan. Sungguh bau busuk dan pesing yang tercium setiap hari."

Sapiyem menoleh. 
"Ada lagi, Pak Tua yang punggungnya bungkuk rela pagi-pagi menemani kita makan. Perut kita kenyang, dia hanya meminum air dan goreng-gorengan. Lihat si Tamtam, pulang sekolah harus terbirit-birit ke ladang, menemani Pak Tua menjaga kita." Sapijo mendehem pelan. "Satu hal yang wajib kita banggakan, dari kita terangkat citra kotoran. Siapa yang tidak jijik dengan kotoran? Dari kita dapat bermanfaat. Mari kita menghitung bulan, umurmu sudah siap belum untuk dikorbankan?"

Sapiyem menggeleng. "Aku belum siap, Sapijo. Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah sangat siap. Itu yang kutunggu-tunggu. Akan lebih mulia dagingku jika dimanfaatkan oleh orang banyak, apalagi dihari yang istimewa."
"Mungkin tahun depan aku siap, Sapijo."
Sapijo mengunyah bolus-bolusnya yang masih tersisa hingga tandas."Baguslah. Hei lihat, Pak Tua menuju ke arah kita."
"Hari ternyata sudah petang."
Pak Tua melepas ikatan sapi-sapi itu. Menggiring mereka pulang ke rumah.
"Sapijo. Terimakasih nasehatmu."
Sapijo tersenyum. 

No comments:

Post a Comment