Menukar

Yang namanya perasaan itu tidak bisa ditukar-tukar. Dalam urusan cinta pun demikian. Aku tidak dapat menukar perasaanku dengan apapun...

Juna, sahabatku. Dia lebih dari itu. Kehadirannya mampu memberiku semangat untuk hari ini. Kami sudah lama berteman. Sejak semester satu. Awalnya, aku tak begitu banyak tahu temanku ini. Kami sama-sama di fakultas Psikologi. Cukup jarang di jurusanku mahasiswa, jurusan yang sangat didominasi oleh kaum hawa. Dan Juna berbeda. Dia mampu menjadi teman cerita bagi siapa saja. Sosoknya yang tinggi, rambut ikal hingga bawah daun telinganya, mata almond berwarna coklat lebih muda dari pada warna kebanyakan, serta hidungnya yang bangir. Ah, sayang Juna hanya sahabatku. Sudah berapa rekan perempuan yang mendekatiku hanya untuk menanyakan Juna. Yah, kuakui bahwa aku mungkin buka tipe Juna. 


Aku ingat benar percakapan hari itu di kedai tempat kami sering menghabiskan sore usai kuliah. Matahari baru saja tergelincir dari ubun kepala, panas benar-benar menyengat kulitku. Siang itu sudah selesai satu mata kuliah, dan Juna berinisatif untuk mengajakku sekedar melepas dahaga di kedai tersebut.

"Pesan apa, Kuni?" Juna bertanya, melirik menu yang kupegang. 
"Ice cream strowberry aja," jawabku asal, bingung hendak memilih apa.
"Mbak, ice cream dan es lemon tea, ya?" Suara Juna benar-benar bersahaja pada pelayan yang menguncir rambutnya ke belakang.
Juna menggulung lengan bajunya hingga siku kemudian menyisir rambut dengan jemarinya sebentar.
"Eh, Na ada salam dari Angel, tuh!" godaku saat Juna mulai ke aktifitas yang biasanya dilakukan, apa lagi kalau bukan membaca.
"Salam balik deh," balasnya, tersenyum sekilas padaku.

Aku memanyunkan bibir. Ini sudah dua perempuan cantik yang menitipkan salam untuk Juna. Tadi pagi, aku bertemu Angel teman di psikologi hanya saja beda jurusan. Anaknya cantik, rambut pirang kemerahan, bulu mata lentik, wajahnya kecil, dengan mata bulat. Sekilas benar-benar mirip barbie. Angel keturunan timur tengah, tidak heran wajah Cleopatra begitu kental, apa lagi hidungnya yang mancung. Aduh, Juna sayang banget kamu cuekin si Angel.
"Kamu udah tahu Angel kan?"
Juna menatapku,"Taulah Kuni. Dia mantan BEMkan? Mantan Iyankan?"
"Kamu kenal to? Eh, cantik ya...," Aku hendak melanjutkan ocehan sayangnya ada pelayan yang mengantarkan pesanan kami. Buru-buru aku menyambutnya dengan gembira. Kata Juna, aku dan ice cream seperti sepaket.
"Juna, kamu juga dapat salam loh dari Miranda. Anak transferan itu loh," kembali kugoda Juna usai menyendok es krim berwarna kemerahmudahan. Potongan strawberry di atasnya sudah kucomot setengah.
"Bagaimana rasa ice creamnya?" Juna bertanya, mengalihkan pembicaraan. Ia tampak menyeruput es lemon teanya dengan tenang.
Aku mengendus pelan. Sudah seperti ini si Juna, akan mengalihkan pembicaraan."Kamu kok balik bertanya sih Jun?"
"Emangnya kenapa, Kuni? Oh, Miranda?" Juna berlagak seperti lupa dan tiba-tiba teringat kembali, "Aku tahu si Miranda itu. Sam lagi pedekate sama dia."
Keningku berkerut, Sam siapa? Aku tidak mengenal nama Sam di jurusan. Sebelum otakku menduga-duga. Juna menjawabnya, "Teman SMAku, dia mengambil jurusan Elektro."
Bibirku membentuk huruf o, aku baru tahu jika ada si Sam yang menyukai Miranda.
"Eh, Jun. Tapikan Miranda  sukanya sama kamu? Ya nggak apa-apa dong?"
Juna menarik bibirnya dari ujung sedotan, matanya menatapku serius.
"Aku tidak suka dijodoh-jodohkan. Kuni, berhentilah untuk menjodohkanku pada siapapun. Entah Miranda, Angel, Karen, Mila, dan Sandra. Semua perasaan ketertarikanku sama makhluk berwujud perempuan itu sudah ditukar oleh satu sosok."
Aku menelan ludah, Juna benar-benar marah padaku. Betapa bodohnya aku, kita semua memiliki keinginan demikian Juna, dan aku menghancurkan keinginan itu karena rasa tidak enakan atas penitipan salam dari mereka semua. Aku lupa, Juna sahabatku. Dia yang harusnya kudahulukan perasaanya.
"Maaf Jun," kataku lirih.
"Aku tidak bisa menukarnya pada kekasih seseorang, Kuni."
"Maafkan aku," Aku benar-benar merasa bersalah pada Juna.
"Berhentilah meminta maaf. Kuni, bisakah kau tukar persahabatan kita?"
Aku mendongakan kepala. Matapa Juna kebingungan, apa katanya? Menukar persahabatan?
"Maksudmu?"
Hening...

"Tukar persahabatan kita dengan rasa cinta. Aku menyukaimu, Kuni."

No comments:

Post a Comment