für Miftah

source : urukyu.wordpress.com


Saya selalu mendengar lagu, ah salah lagi, maksudku bukan lagu tapi instrumen. Judulnya für Elise. 
Yang menjentikkan tinta dengan pemikiran seni berpadu perasaan itu adalah Beethoven. Sudah berapa lama aku mengenal lagu yang mengalun indah dan bodohnya tidak pernah kucari siapa pengarangnya. Barusan kali ini, beberapa hari silam. Saya lupa tepatnya.
Konok katanya, für Elise adalah instrumen lagu yang diciptakan untuk orang spesial dalan hidupnya. Mungkin istrinya, yang tidak diketahui itu adalah yang terspesial. Beethoven pernah berkata bahwa anak dan istrinya sangat berharga sehingga ia tidak ingin mempublikasikan pada siapapun

Hadiah apa yang kalian berikan untuk orang terspesial? Jawablah dahulu baru saya kasih tahu apa kado spesialku.
...
...
...
He is my brother. Satu-satunya saudara laki-lakiku. Dia tidak sepertiku.
Bulan Agustus dan September esok adalah bulan lahir Ummi dan dia. 
Untuk mereka, apa yang sudah kuberikan? 
Harta? Janganlah dulu suruh saya membalas dengan harta, selesai kuliah bahkan makan pun masih butuh sokongan dana dari malaikat Allah.
Benda pun apa? Yang menjadi kenyataanya adalah mereka selalu mengingat dan membuat kejutan untukku, sedangkan saya pun tahu diri. Otak berpentium jaman bahuela ini susah mengingat-ngingat tanggal-tanggal lahir keluarga dekat. 

Janganlah jauh-jauh, pada saat umurku 21 kemarin, tepatnya 12 Desember 2012, ada seseorang yang luar biasa spesial datang jauh-jauh ke sini. Menyebrang lautan dengan benda besi terbang. Butuh waktu berapa jam ia menelan kelelahan. Uang? Sudahlah, saya malas membahasnya. Kalian tahu juga bukan? Benda besi yang terbang itu memang cepat, dan cepat pula membuat kantong tipis.
Dia tak peduli. 

Malam itu, saudara laki-lakiku tersebut membuat kejutan tentunya dengan bantuan sepupu tercantikku yang akan menjadi dokter empat atau lima tahun akan datang. Kudoakan semoga ia betah bermain kadaver.
Satu rumah makan yang tak dinding menyanyikan lagu. Pengunjung berwajah rama dan bahkan kami pun tak mengenalnya ikut tertawa bernyanyi. Para pelayan berbaju seragam juga gembira. 

Itulah dia, saudara laki-lakiku dan sepupu perempuanku.
Lantas apa yang kuberikan? 
Kuperkecil ruang lingkupnya. Adikku. Itu saja.
Apa yang kuberikan? Harta tak punya. Benda apa yang kuakan berikan juga tak tahu.
Mungkin hanya ini.
für Miftah. Itu judul yang tepat.
Bismillah, semoga dapat kuberikan untukmu. Menjadi hadiah terindah. 
Dan yang tahu ini semua hanya dia. 

No comments:

Post a Comment