Alangkah Unyunya, Pocong Ini

Sebelumnya minta maaf jika postingan hari ini sedikit menyimpang dari #ceritabersambung seperti postingan-postingan sebelumnya.

Hari ini dimulai dari jam tiga pagi, ketika saya baru mau tidur. Yah, tampaknya perubahan iklim mempengaruhi perubahan jadwal tidur saya, dan beruntung hanya terjadi hari ini.
Baru saya bermimpi ketemu para vampir di dunia Twilight sana, saya merasakan hawa dingin. Dalam mimpi diceritakan lagi musim salju gitu. 


Nah, samar-samar terdengar suara yang memanggil. Lembut dan mendayu-dayu, "Is? Is...,"
Pandangan saya rabun, dikejauhan sana beberapa orang berjubah putih berjalan mendekati saya. Si vampir-vampir kece menjauh, mereka meninggalkan saya di sini. Sendiri.

"Is...." Suara itu terdengar lagi, bahkan terasa di dekat saya. Lama-lama makin keras. 
Saya kaget, wah ternyata mimpi. Yang bangunkan saya adalah kakak-kakak asrama saya yang kece sedang mengenakan alat solat berwarna putih. Dan saya tergeletak sejam jam tiga di lantai tanpa alas kasur.
Pantas saja terasa kayak tidur ditumpukan salju, gumamku dalam hati.
Setelah itu, saya menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah, dan tepar lagi setelah beberapa menit. Hingga telinga saya menangkap gelak tawa misterius.

Saya terbangun untuk kedua kalinya, bertanya malas. "Jam berapa kak?"
"Jam setengah tujuhmi, dek."
"What? Matimi sa kuliah jam delapan."

Dengan malas-malasan, mengusap ujung mata dan duduk di sudut kamar beberapa menit. Tidak lama kemudian, beranjak dari sudut nyaman tersebut ke samping kak Y.
"Jam berapa kak?" tanyaku, kesadaranku saat ini sudah 98%.
"Hampirmi jam delapan. Jam berapa kuliahmu?" 
"Jam delapan kak." Saya menjawab malas.
"Mohamma, cepatmi ko mandi."
Saya pun berdiri, kemudian di depan pintu menoleh lagi ke arahnya. 
"Atau janganmi sa kuliah di?"
Kak Y menatapku tajam. "Bisamu, pi ko mandi sekarang. Pigi pigi."
Disusul kak Y satunya juga yang menasehati saya dengan sedikit tertawa. "Jangan kamu malas adek."
Saya berdebat dengan tertawa bersama mereka. Alangkah anehnya pagi ini...

Baru sampai di balkon, saya bertemu kak A. Dia sedang melaksanakan tugas negara yaitu mengepel asrama. Saya berjinjit melintas di lantai yang basah. Ada dua hal yang saya pikirkan sehingga saya berjinjit : Takut kotor karena sudah dipel dan takut terpeleset, tidak lucu sekali saya terpeleset pagi-pagi. 
Saat saya melewati kak A, dia terlihat sedih entah capek mengepel atau gundah yang tengah dirasakannya.
"Dora tidak ada," katanya lirih.
"Hah? Dimana dia?" Saya memasang wajah bingung. Pantas asrama sepi, tidak ada si makhluk satu itu.
"Dia lagi di UGM sekarang?"
"Hah???" 
La Dora bisanya da pergi menginap di UGM, dapat pacar anak sanakah itu makhluk, pikirku dalam hati.

"Da dibawa sama Sri."
Sri, saya mengingat-ingat nama itu. Membuka klise foto-foto orang yang saya pernah temui dan akhirnya ditemukanlah wajah anak temben, pakai jilbab dan periang. 
"Oh, Sri... Kemarin sa dengar ribut-ributkan Dora. Buat apa dia bawa Dora kak?"
"Untuk bahan praktekannya."
Memang benar, Sri mahasiswa kedokteran hewan. Ternyata pilihannya jatuh pada Dora, karena Dora "sedikit" bersih dari pada kucing yang lain di jalanan.
Dalam otakku, saya membayangkan Dora lagi di letakkan dalam sebuah tempat tidur, di atasnya ada lampu sorot. Beberapa orang mengenakan masker, dengan kaca mata yang mengkilat diterpa cahaya. Tangannya memegang gunting dan suntik.
Oh Dora, bagaimanakah nasibmu? Apa perutmu dibedah? Kau digunduli? Atau jangan-jangan pulang nanti bulu-bulumu berwarna-warni.

Setelah ini dan itu, saya balik ke kamar. wajah tertekut, guratan sedih terlihat di wajahku. 
"Kak... Dora....,"
"Kenapa Dora?" tanya kak Y.
"Da dibawa..."
"Sama siapa? Dimana dia?"
"Wa Sri yang bawa. Dijadikan bahan praktek..."
"Hah?" Mata kak Y membulat. "Bisanya???"
"Soalnya Dora cantik bela, makanya dia terpilih."
Kak Y tidak terima, tapi saya mencoba menguatkan dia. Membuatnya agar percaya bahwa Dora akan aman  bersama Sri.

Tidak lama kemudian, nama saya dipanggil-panggil sama adek maba yang mirip dengan Kak Um. 
"Kak, kita dicari."
Keningku naik. Siapa pagi-pagi mencari saya. Jam 8.09 saat itu.
Saya melompat keluar dari kamar, tepat di depannya dia bertanya lagi. "Kita kak yang namanya kak Yuni to?"
Wajahku langsung tertekuk.
Ternyata yang datang adalah kakak cantikku, namanya kak Qeenun (baca : Kenun). Paras kak Qeenun cantik, tinggi, wajah kayak arab-arab gitu. Orangnya asyik, dan yang pasti dia selalu bertanya, "Kenapa kamu tidak datang wisudaku, dek?" 
Padahal dia wisuda sudah setahun yang lalu.

Jam menunjukkan pukul 8.20, baru saya ke kampus. Ternyata belum masuk kelas. 
Nah, pas siang ternyata saya tidak bawa uang. Jadi biasalah minjem duit teman buat makan hari ini, dengan jaminan senyuman dari saya. 
"Ih lucunya," seru Kukur, teman saya yang suram sewaktu istirahat kuliah.
Saya penasaran."Apa?"
Coro yang sudah tahu pun menjawab pertanyaan saya, "Pocongnya mbak Teri,"
Wajahku berubah jadi aneh, khas ketika saya penasaran.
Coro memperlihatkan sekilas.

Jam 1 siang, setelah hujan reda kami ke lab untuk praktikum Teknologi Daur Ulang. Mengisi jam-jam luang, ternyata Mbak Teri membawa pocongnya.
Yang paling antusias akan kehadiran pocong itu adalah saya dan Coro, tentunya kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama pocong lucu itu. 
Ini ada beberapa foto si pocong :)
Pocong Unyuu


Coro dan Pocong

Coro Pocong dan Maru

Saya tidak kenal ini siapa...
Demikian, penyampaian dari saya. Adapun kalimat yang tidak masuk akal itu hanyalah kesengajaan semata. Mohon maaf kalau sedikit aneh, terimakasih sudah membaca tulisan tidak penting ini :)

Komentar

BACA JUGA