Rose Gane : galerii 5 "Rose Story"

Kamarku, entah apa yang membuatnya betah. Sprei berwarna biru langit. Lantai hanya keramik-keramik yang murahan berwarna putih, gorden menutupi jendela sebagai sirkulasi masuk cahaya dan aku sering melamun di sudut jendela. Kadang-kadang gordennya melambai-lambai tertiup angin. Syahdu dan menawan. Siang ketika letih datang aku terkapar di tempat tidur, disapu-sapu oleh angin dari jendela sehingga tak perlu AC atau kipas angin. Di ruangan 3x4 ini hanya ada tempat tidur kecil susun di kolong ranjang, meja belajar yang telah di penuhi buku-buku serta lampu belajar. Di sampingnya ada lemari pakaianku, plus baju-baju Fia yang telah menambah volume isinya. Ada sebuah bunga mawar terpampang di sudut sisi jendela, ku biarkan ia di sana agar merasakan sinar matahari yang tentunya sangat bermanfaat baginya. Dari pada ku letakkan di dalam kamar, dia pasti akan merasakan hidup dalam kesakitan. Aku menyukai mawar. Mawar memberikan suatu inspirasi dan suatu kenangan dalam hidupku. Kenangan akan seseorang yang sangat memberi arti sepintas dalam hidupku.

Ketika masih sekolah dasar dulu, ada seorang anak lelaki. Pindahan, dia sekelas denganku. Bahkan duduk di kursi seberang kursiku. Anaknya pendiam. Begitulah kesanku dulu saat pertama berjumpa dengannya. Ku lihat dia rajin belajar, selalu dia mencocokan pelajarannya dulu dengan pelajarannya sekarang. Rambut sedikit model cepak. Kulitnya putih bersih, matanya bundar hitam bagai mata elang. Pandangannya tajam, serta senyumannya yang menawan. Awalnya dia menarik perhatian lewat kepandaiannya dalam bercakap maupun dalam pelajaran. Meskipun demikian, kebandelan tetaplah menjadi salah satu ciri anak lelaki, semula dia yang selalu menganggu anak-anak cewek. Terkadang pula dia pacari. Lelaki kecil itu telah mengenal yang namanya pacaran. Tapi hanya bertahan beberapa hari saja dia pacaran. Tercepat adalah sehari dan terlama mungkin hanya 3 sampai 4 hari. Dia terkenal play boy. Wajah manis menjadi modalnya, senyuman, kepintarannya, dan kemantapannya dalam bermain bola menjadi nilai lebih untuknya. Hanya saja, aku tak pernah menjadi daftar nama pacar-pacarnya. Dia hanya selalu tersenyum kepadaku. Aku hanya membalas dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
Di suatu senja, aku berjalan ke taman-taman pekarangan samping rumahku. Ditumbuhi rerumput jepang, membuat rasa nyaman-nyaman saja ketika mau sambil terbaring di atasnya. Aku berbaring di sana, ku toleh ke kanan terlihat sedikit lagi bunga-bunga mawar ayah akan bermekaran. Aku menantikan saat itu. Saat semua bunga mawar menjadi suatu estetika yang menawan. Mimpiku ketika kecil, saat bunga itu bermekaran akan ada pangeranku yang akan datang. Impianku terbius karena aku sering membaca cerita putri-putri dalam dunia dongeng. Tak jarang sejak taman kanak-kanan, ibu hadir menemaiku dalam malam sebelum aku terhanyut dalam mimpi. Datang hanya untuk memberiku cerita-cerita dongeng.
Dan. Mimpi itu dapat ku katakan terwujud.
Sambil memejamkan mata dengan wajah menghadap ke langit. Cahaya matahari tiba-tiba meredup. Ku buka mataku.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh................”, teriakku histeris.
“Stt... Stt... Jangan ribut..”, suara anak lelaki putih.
Apakah dia pangeranku??? Kenapa harus dia??? Ada sedikit kekecewaan. Dia, Aris anak lelaki pindahan yang sudah mendapat gelar playboy cap kencur. Dengan sekejap dia berpindah haluan berbaring di sebelahku. Takut. Rasa itu tiba-tiba datang. Aku heran kenapa dia bisa tahu rumahku dan seenaknya masuk ke pekarangan rumah. Tanpa ku ungkapkan tiba-tiba dia yang memaparkan kenapa dia ada di sini.
“Ternyata orang tua kita berteman ya???”, ucapnya sambil memejamkan mata. Aku takut menoleh. hanya menhadap ke langit saja yang kulakukan.
“Sebenarnya, aku sih males ya tadi pas di ajak ma mamah. Katanya hanya ke rumah temannya. Eh pas sampe di ruang tamu, aku lihat foto putri manis dengan baju daerah jawa. Aku cari-cari putri itu. Ternyata sedang tertidur. Dan aku pangeran yang membangunkannya... hahahaha”, tambahnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Aku gak tiduran tau... Hanya ini tempatku bermain...”, jawabku ketus sambil ku tolehkan wajah menghadap bunga mawar. Mungkin mawar lebih indah dipandang dari pada Aris. Seketika ia bangkit. Berjalan di depanku, aku hanya melihatnya. Dia mengjongkok sedikit. Taukah apa yang dilakukannya. Dia mengambil bunga mawarku yang sebenar lagi akan lebih cantik mekarnya. Aku langsung berdiri dan memukulnya. Mencoba meraih bunga itu. Dan ouhh...!!! tanganku tertusuk duri mawar yang tajam. Aris tak tinggal diam, dia raih jari manisku dan mengisap darah yang keluar. Geli rasanya. Aku memintanya berhenti. Dia tak memerdulikanku. Di robek sedikit baju kemejanya, dan mengikat jari manisku. Manis sekali perangainya. Seperti pangeran sesungguhnya dalam angan-anganku. Meski tanpa kuda putih.
Kami duduk lesehan di atas alas rerumput jepang. Saling berhadapan. Aku masih meringis hampir menangis. Rasanya lumayan sakit. Aris terbaring kembali di sampingku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya memerhatikannya.
“Cewek itu harus kayak bunga Mawar”, ucapnya.
“Hah..??? Maksudnya??”
“Harus kuat, tidak mudah di remehkan orang. Jika ada orang yang mau melukai kita harus kita siap melukainya juga dengan cara halus. Seperti bunga mawar. Cantik namun halus jika kau tertusuk durinya. Bukan dia yang inginkan tuk melukaimu”
Aku terdiam. Masih bingung dengan makna dari perkataanya. Mungkin kelak ketika ku dewasa akan ku mengerti maknanya.
Aku memang anak yang selalu diremehkan di kelas. Layaknya orang yang dijadikan bahan lelucon. Hingga suatu saat, ada anak lelaki yang berbadan besar tiba-tiba mendorongku hingga aku terjatuh. Alasannya karena aku duluan membeli snack kesukaanya yang tinggal sebiji di kantin sekolah. Aku menangis. Sikuku tergores. Perih sekali rasanya. Aku tak bisa membalas, karena ku tak memiliki kemampuan dalam hal beda diri. Biar saja mereka menindasku. Masih tertunduk dalam rintihan kesakitan. Anak berbadan besar itu tiba-tiba jatuh. Aris meninju perutnya. Di tarik leher kerah bajunya. Sambil menghardiknya.
“Jangan kau ganggu gadisku lagi!!!”
“Iya, Iya... Maafkan aku”, kata anak lelaki itu dengan tertatih-tatih.
Aris melepaskan anak itu, dan membiarkannya lari pontang-panting. Aris menekatiku, lalu membalut sikuku dengan sapu tangannya. Dia menggendong belakang aku, seperti yang ayahku lakukan ketika bersafari ke kebun binatang. Dia membawaku ke UKS. Sembari menggendongku, semua mantan-manta pacar kilat Aris mendongkol. Sebagian lagi menghindar. Takut dengan muka Aris yang sangar dan habis nonjokin orang. Biarlah aku juga masih anak-anak yang malas berurusan dengan cinta-cinta monyet. Di sana dia menemaniku hingga selesai tugas petugas UKS mengobatiku.
“Sudah ku bilang, jadi cewek harus tidak mudah di remehkan”, ucapnya sambil menyapu-nyapu kepalaku. Aku terdiam. Bingung mau menjawab apa. Masalah gadisku, kata itu ingin ku mintai pertanggungjawabannya.
“Maaf, dengan kata-kata gadisku”
Dia terdiam sejenak dengan menundukkan wajahnya seperti orang yang amat sangat bersalah.
“Hmm... Aku suka kamu Putri Salmanisya. Aku sayang kamu Pipit”, diucapkannya kalimat itu dengan bersimpuh. Hayuu... Mampus aku. Aku masih anak bau kencur, sudah ditembak ma cowo ini. Mana aku tau tentang cinta. Dia sebatas teman titik.
“Hah...???”
“Jawab gih. Atau kasih respon. Masa hanya Hahh....???”
“Aku gak mau jadi daftar gadis-gadismu.. Maaf!!!”
Dia terdiam dan melihatku dengan wajah yang sangat meyakinkan.
“Aku suka kamu beneran. Mereka hanya iseng-iseng doang kok.. Kalo kamu gak terima. Aku akan tunggu kamu sampai kapan pun. Ini...”, ucapnya dengan ambisius memberi penjelasan lalu memberiku bunga mawar. Tidak tau juga sejak kapan bunga itu ada dengannya. Nampaknya bunga itu tidak ada. Selama menggendongku juga aku tak melihatnya. Dasar anak aneh si Aris.
Akhirnya Aris tak memaksaku tuk menjawab pertanyaanya. Aku hanya diam. Diam. Dan diam!
“Jangan sampe kau menjadi bunga mawar yang mudah tuk di petik. Seperti yang ku lakukan pada bunga ini. Namun jadilah mawar seperti yang telah dia lakukan pada jari manismu...”, bisiknya sambil pergi. Dengan bahasa tubuhnya aku tahu dia mengajakku juga untuk pergi.
Aku pulang tentunya dengan si Aris. Sedikit phobia aku sekarang dengannya. Entah sejak di taman ataukah sejak di UKS tadi. Aku hanya bisa terdiam. Masih kecil bagiku untuk urusan cinta dan sayang. Kami belum juga menamatkan sekolah dasar. Mungkin sekitar empat bulan lagi kami berganti seragam menjadi putih biru. Aku sekarang bingung. Bingun dengan isi hatiku sendiri. Apakah Aris betul-betul akan menepati janjinya??? Ataukah dia hanya akan menjadikanku sebagai list bekas pacarnya. Ah... Buat apa ku pusingkan. Aku hanya tak bisa berkata tidak untuk menjawab pertanyaannya. Mau berkata iya juga ada keraguan. Dasar anak-anak. Aku hanya menganggapmu sahabat Ris, untuk saat ini.

Komentar

BACA JUGA