Rose Gane : galerii 4 "Teorema Dominan"

“Kamu sudah kerja tugas kimia belum, Fi???”
“Belum, entarlah kita belajar bareng, toh malem ini aku nginep di rumah kamu kan???”
Malam ini, Fia nginap di rumahku. Dia sangat disambut baik oleh bapak dan ibuku. Berasa seperti keluarga sendiri. Karena aku adalah anak tunggal tanpa seorang kakak atau pun adik. Sepupu??? Mereka semua jauh beda kota bahkan ada yang beda provinsi. Adik bapak juga seorang PNS di Kalimantan. Sedang kakak ibu berada di Surabaya ikut suaminya dan bekerja sebagai pegawai kantoran. Adik Ibu masih tinggal di rumah nenek dan kakek di dusun kecil kabupaten Bojonegoro. Dan aku beserta keluarga harus tinggal di kota kecil ini. Karena terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Bapak ibu saja yang bisa. Hal ini menjadi lelucon unik bagi Fia. Bapak Jawa tulen Ibu Jawa tulen. Dalam rumusnya:
Dominan + Dominan = Dominan2.

Padahal yang betul itu jika :

Dominan + Dominan = 2Dominan
Dan Jika:
 Dominan x Dominan = Dominan2.
.

Sedang Fia sendiri asli Jakarta, tidak tau juga kenapa anak ini tiba-tiba nyasar di kota kecil. Mungkin dia telah bosan dengan kehidupan bising ibu kota. Ataukah ia artis yang nyasar dari Jakarta??? Seperti sebuah lelucon modern dalam film-film cerita artis kabur dari Jakarta. Jadi ingat aku akan cerita-cerita FTV yang selalu tayang tiap siang. Kisah sang artis ibu kota yang terdampar di kota kecil. Kisah artis ibu kota yang ingin kebebasan. Kisah artis ibu kota yang berseteru dengan managernya. Atau kisah artis ibu kota yang mencari kekasih. Aiih.... kenapa aku malah pusingkan kisah artis-artis. Padahal itu semua banyak fiksinya. Kisah hidupku sendiri tak jelas. Mungkin untuk diriku bisa berjudul “Kisah Gadis Aneh yang Tidak Tahu Bahasa Daerahnya Sendiri”, atau begini “Kisah Gadis Bodoh yang dibodoh-bodohi”. Agrhh... terserahlah..
Aku tertawa sendiri di kamar.
...

Kami berdua rebahan sambil menatap langit-langit kamarku. Menerawang jauh kemasa depan. Mungkin Fia pun demikian. Menerawang jauh ke masa depannya yang sudah menantikan kedatangnya. Sedang aku??? Mungkin masa depan tak meyambutku. Mungkin masa depan berkata, “Jangan kau pikirkan aku, aku tak pernah menantikanmu”. Sedangkan Fia, “Wahai Fia, cepatlah kau jamah aku. Aku menantikanmu Fia. Aku ingin melangkah bersamamu Fia. Biar kita berhasil bersama Fia.”. Irinya diriku...
Aku dan Fia gemar pelajaran Pengetahuan Alam. Cita-citanya menjadi seorang dokter. Aku pun demikian. Itu cita-citaku masih kecil, apalagi ketika aku juara 1 Ilmu Pengetahuan Alam tingkat sekolah dasar di sebuah desa. Semakin menggebu-gebu keinginanku itu. Namun, hanya keinginan yang tertancap dalam hati. Tak pernah terlontar dalam lisanku. Yang sering ku katakan hanyalah, “Aku ingin menjadi editor atau jurnalis” padahal tak ada niatku semacam itu. Aku mengisi mading sebagai hobi saja. Mengusir label gadis aneh. Biarlah mereka menganggapku gadis aneh. Tapi mereka juga harus mengacungiku jempol, sebiji saja untuk menghargai karya-karyaku.
“Ayo kita kerjakan tugas Kimia”, ajakku.
“Entar lah.. Males nih...”, jawab Fia sambil menggulungkan badannya dengan guling. Dia pun menarik selimut dan mengurung diri di dalamnya.
“Ayo...ayo..”, renggekku.
“Hmm................”
Aku manyun. Dia yang mengajak mengerjakan tugas Kimia bersama, dan dia pula yang terpulas duluan. Lama aku tak digubrisnya.
“Udah gak usah manyun and menggerutu”, suara kecil samar-samar terdengar dari dalam selimut. Di keluarkan kepalanya dengan kerudungan pakai selimut, mirip orang eskimo yang sedang kedinginan kira-kira 10o C. 10o C??? Aihh mendekati titik beku. Aku berjalan menuju meja belajar.
Ku ambil buku-buku yang sudah menggunung di atas meja. Mereka tampak bahagia karena sudah berana menit aku tak memperdulikannya. Buku yang berwarna biru berkata : Ambil aku, aku punya rumus-rumus Kimia praktis loh. Kembali. Sedang buku LKS berkata: Pilih aku, kumpulan soal-soalku sangat menantang. Pasti seru. Rumus-rumus dalam diriku sangat lebih singkat padat and jelas. Sedang buku tugasku berkata: kenapa kau menyambilku duluan? Aku yang akan kau gunakan dalam menyoret-nyoret hasil  tugasmu tuk dikumpulkan kepada gurumu. Ku biarkan mereka saling berdebat dan membanggakan diri mereka masing-masing. Aku pun mengambil mereka semua. Ku selonjorkan di atas tempat tidur.
“Sini... Kamu bagian 1-5... aku 6-10.. Gimana???”, Fia mencoba memberi saran dan mengambil buku-buku itu tuk dipilhnya.
“Ikut aja dah...”
“Hmm Fi, sambil cerita-cerita ya???”
“Iya”
Sembari mengerjakan tugas, kami tetap berkelakar. Terkadang berpantun ria. Untuk mengurangi kejenuhan selama mengerjakan tugas. Kan bosan juga kalau hanya berhadapan dengan soal-soal dan soal. Aku sering menyerang Fia dengan pantun dan pantun. Fia yang tak terlalu pandai bersastra hanya bisa ketawa jika mendengarkan pantunku. Mungkin logat tak melayu. Pantun pun asal nyambung. Kadang kala tak tersambung. Aku pandai bersastra karena ibuku guru Bahasa Indonesia. Aku kadang-kadang membaca buku-buku tentang pantun dan kesastraan.
Akhirnya. Tugas kimia itupun selesai. Kami letih. Otak pun ingin beristirahat. Deru jam menunjuk ke angka 11. Sudah larut. Tak ada kebisingan yang terdengar. Kami tertidur. Pulas, bergumuh dalam mimpi-mimpi.
Pagi itu, terik telah menyengat. Pertanda sang surya telah meninggi. Sebetulnya hari ini adalah hari minggu. Rasa malas pun meniup-niup dalam diri. Ingin tidur terus-terusan. Tanpa melakukan suatu aktifitas. Malas. Namun mendekati jarum jam dipukul 8, ibu membangunkanku dan Fia. Dengan wajah masih penuh cap tidur garis dan kerutan, kami berjalan lunglai menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Terlihat samar-samar ibu tengah memasak. Seperti ada tamu agung yang akan datang. Padahal hanya Fia seorang. Ku sampiri ibu, dia hanya tersenyum. Bau aroma masakan ibu sudak meyuntik-nyuntik dalam hidungku. Sedaaaap!
“Bantu ibu, ada tamu mau datang”, bisik ibu padaku
“Sapa bu???”, tanyaku lirih.
“Fia”, ucap ibu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Aku terbohongi untuk kesekian kalinya. Kalau Fia seorang, nasi tempe pun pasti dia makan. Setelah itu, ku sampiri bapak yang sedang mengurusi taman bunga kesayangannya. Fia hanya mengekor di belakangku. Menelitik dengan seksama apa yang dikerjakan bapak. Membongkar bunga-bunga yang ada dalam pot, memisahkan tanaman-tanaman yang hidup saling berkoloni namun terlihat tak rapi, menambahkan pupuk serta menggemburkan tanah. Bapak mempraktekkannya semua. Terteguh Fia seperti melihat suatu hal yang takjub. Mana mungkin juga Fia pandai dalam hal praktek mengurusi tanaman. Meskipun ia tahu bahwa tanaman butuh kasih-sayang denga tulus. Butuh ketelatenan. Butuh tanah yang gembur dan mengandung humus. Butuh kelembaban, intensitas cahaya matahari, air dan sebagainya. Itu semua hanya teori belaka. Tak pernah terealisasikan dalam prakteknya.
Tengah asyik duduk jongkok sambil melihatku dan bapak kerja tiba-tiba ia menjerit, ketika ada seekor cacing tanah terlempar pada saat ayah menggembur-gemburkan tanah. Antara takut, malu, jijik, dan ingin tertawa. Rasa itu mungkin saling tindih menindih saling menonjol dalam diri Fia. Tapi pasti rasa takut bin jijiknya lebih berkuasa. Karena dia berteriak kencang sekali. Sementara rasa ingin tertawanya dia tunjukkan dengan simpulan senyum tahan tawa di wajahnya.
Dengan cekatan bapak mengambilnya. Ku raih kembali ketika bapak membuangnya di seberang badannya. Sengaja. Ku pegang, dan ku perlihatkan di depan Fia. Alhasil, menjeritlah ia sekuat tenaga dan lari ke dapur. Mungkin sekarang ia lebih memilih membantu Ibuku di dapur.
Aroma sedap makan ibu semakin menyengat. Perut tak mampu tertahankan lagi. Bangun tidur, setelah tertidur lagi usai solat subuh. Tak sebutir nasi menyentuh tenggorokanku. Langsung aku membantu bapak. Fia pasti tengah asyik menghilangkan laparnya dengan sedikit mencicipi masakan-masakan ibu. Ibuku pandai memasak, masakan apapun dapat diraciknya menjadi super lezat di lidahku. Sehingga tak perlu kami merongoh kocek untuk memenuhi nafsu makanan. Meskipun hanya masakan tradisional, namun itulah yang terlezat. Tak perlu pizza karena ibuku mampu membuatkanku roti bakar, atau burger, ibu pun mampu hanya menambahi danging, sayur dan tomat walau roti yang dipakai hanya toti jajanan di kios-kios kecil. Ataupun spagetti, mie ayam buatan ibuku jauuuh lebih lezat. Atau mie terus disiramkan beraneka saus-saus rumus masakan ibuku sendiri. Sedap! Untuk kesekian kalinya ku bilang sedap masakan ibu.
Hingga siang, kami telah disibukkan dengan kesibukan masing-masing seperti yang kami lakukan sejak pagi. Kami makan siang. Menikmati bertapa lebih nikmat habis bekerja lalu makan.
Akhirnya, Fia pun harus tahu diri, telah tiba saatnya ia kembali pulang. Mungkin orang tuanya yang paling memerlukan tenanganya. Ia pulang, berpamitan dengan bapak dan ibuku dengan menyalami kedua tangan kanan. Dia sudah seperti seorang kakak bagiku. Tapi malam, pasti ia akan kembali lagi. Entah kenapa dia merasa rumahku adalah kamarnya. Aku pun demikian, kadang-kadang aku juga bermalam di rumahnya.

No comments:

Post a Comment