Rose Gane : galerii 3 "Sepeda Tua dan Lelaki..."

Sepeda tuaku yang berwarna ungu. Sudah usang namun selalu ku rawat sehingga tak merepotkan dan merongoh kocek uang bulanan ibu untuk memperbaikinya. Untungnya juga aku bersahabat dengan seorang anak lelaki yang hampir beda setahun denganku. Sayang. Ia tak bersekolah. Bukan tak sempat bersekolah namun ia harus putus sekolah semenjak beberapa bulan. Untungnya ia sekolah di kelas otomotif, jadi setidaknya ia memiliki kemampuan dalam hal otak atik sepeda minimal. Ia pun bekerja pada orang Cina di bengkel yang berada di ujung jalan aspal. Sambil mengumpul-ngumpulkan uang tuk melanjutkan sekolahnya. Mau tak mau dia harus menunggu setahun atau bahkan dua tahun mungkin pula tiga tahun agar keinginannya lanjut sekolah bisa terlaksana.

                                                                               
Sebelumnya kisahku sampai berkenalan dengannya itu kira-kira... Ketikaku sedang berjalan-jalan ria dengan sepeda ini untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba rantainya lepas, aku tidak bodoh dalam hal beginian. Sebenarnya bisa ku benahi sendiri jika rantainya tanpa penutup. Namun, rantainya masih terbungkus dengan penutup entah terbuat dari besi. Harus memerlukan obeng untuk membuka baut-baut pengeratnya. Aku hanya bisa mengendar suara rantai-rantai lepas yang sengau saat ku memaju dan mundurkan sepda ini. Akupun terduduk nampak layaknya orang gila bin aneh yang terkapar di pinggir jalan. Mau berbuat apapun akan sia-sia. Pakai apa aku membuka penutup ini? Sepi tak ada orang disekelilingku, sesekali hanya terdengar suara angkutan kota yang lewat tak memerdulikanku. Aku terduduk lemas. Celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, tak ada bayang-bayang orang yang dapat menolongku. Terlihat di ujung jalan hanya kakek tua yang setengah bungkuk menunggu mikrolet berikutnya yang akan lewat. Di sebelah ujung jalan pula. Ada ibu-ibu dan anaknya yang kepanasan menunggu angkutan pula.
“Huft… sial banget sih ah !!!”, gumamku sambil ku lihat sepeda ini.
“Kenapa kau tak lepas di saat yang tepat. Di rumahkah???”
Tiba-tiba, aku dikagetkan dengan bunyi rem motor dengan mendadak berhenti tepat di depanku. Ia tersenyum. Dan aku??? Hanya terdiam. Menunduk.
“Kenapa sepedanya???”, ia memulai pembicaraan.
“Rantainya copot”
“Boleh saya lihat???”
“Hmm… Boleh”, jawabku dengan kerutan kerutan di kening seperti bukit berbaris-baris.
“Tidak usah takut. Walau ini jalan sepi namun masih ada penduduknyakan??? Kalo ada apa-apa tinggal teriak saja”
Ternyata pemuda ini tahu ketakutan yang sedang melandaku. Ku amati sekitar. Memang jalan ini sepi. Namun masih ada atap-atap rumah yang muncul dari balik celah rimbunan daun-daun pohon besar.
Segera ia menurunkan tas sampingnya. Terlihat tak itu berat. Mungkin buku isinya karena ia seperti sebaya denganku. Tapi bajunya. Begitu kumal penuh oli di ujung-ujung jahitan. Keringat dari tadi telah tampak di dahinya. Diseka sesekali. Tak ada sapu tangan, punggung tangan pun jadi. Aku hanya memerhatikan ia berkerja. Mungkin bagi kalian ini adalah pekerjaan mudah. Bagiku??? Harus berurusan dengan obeng dan oli-oli. Sangat tidak ada minat.
Aku melamun sejenak dengan posisi duduk sekitar beberapa meter darinya. Jaga jarak gitu. Jadi kalau dia macam-macam saya bisa lari secepat-cepatnya. Urusan sepeda biarlah.
“Sudah…”, suaranya membuyarkanku.
“Hah….”
“Ini dek sudah selesai”
“Oh… iya iya… makasih. Berapa ongkosnya???”
“Tidak usah pake ongkos, yang beginian masa harus diongkosi juga”, kata ia sambil tersenyum dan menyeka keringat di dahinya. Seketika dahinya hitam, tergurat cap dari sisa oli mungkin.
“Itu di dahi kamu…”, sambil ku tunjuk-tunjuk dahinya dari jauh.
“Oh… item ya???”
“Pake ini saja…”, ucapku sambil ku cari-cari sapu tanganku dalam tas.
“Ini…”
“Iya makasih..”, ia menerima dengan hangat sapu tanganku.
“Anggap saja ongkos benerin rante ya…”
“Maaf, kalo begitu nanti saya kasih kembali”
“Loh kenapa???”, aku sedikit kecewa. Sombong sekali sih ini orang.
“Saya bantu tadi bukan minta dibayar”
“…”, aku hanya diam. Ih… tak mau dibayar. Jaman sekarang masih ada orang yang mau bantu tanpa pamrih. Kayak pahlawan tanpa jasa saja. Aku mulai memujinya “Begitu baik hati pemuda ini”.
“Tapi kalo hanya sebagai pemberian saya terima”, ucapnya santai.
Deg… Hatiku berhenti sejenak. Sepertinya ia tau kalau hatiku sedikit kecewa dengannya tadi. Bagaimana cara menerimanya tak diduga-duga. Pertama bikin kesan sombong, kedua sok
“Okelah.. Hmmm begini saja. Sapu tangan itu saya kasih sebagai pemberian. Oke???”, saranku.
“Iya…”, jawabnya datar dengan senyuman.
Setelah itu ia memberikanku alamat dimana aku bisa memperbaiki sepeda dengan gratis. Dan dia anggap jasa ini adalah sebagai pemberian. Tulisan tinta hitam di atas kertas kecil bekas sobekan kertas nota pembelanjaan nampaknya.
Kemudian. Dia pergi meninggalkan aku dan sepedaku dengan senyuman dan salam sebelum beranjak. Hal terbodoh yang mungkin aku dan dia lakukan untuk kebiasaan orang yang ditolong dan diberi pertolongan adalah tak ku sapa siapa namanya. Dan julukanku untuknya adalah lelaki penolong. Mungkin aku pun mendapat julukan darinya sebagai gadis yang patut tuk dikasihani.
Aku sangat menyesal bersikap jutek dan judes padanya. Perkataanku datar tanpa ekspresi berterima kasih. Kenapa aku bisa sekasar itu pada orang yang membantuku? Seharusnya ku berikan ucapan terima kasih dengan senyuman. Bukan kejutekanku. Betapa tak berterima kasihnya aku ini.
Dan sejak itu, ketika sepeda usang ini mulai menunjukkan gejala. Aku mampir sejenak ke bengkelnya. Lelaki penolong dengan kemurahan hati dan senyuman, Haris.
...

Komentar

BACA JUGA