Rose Gane : galerii 2 "Juni"

Waktu bel istirahat berdering…
Terputarkan waktu, aku mulai memutar-mutar kaset kusut memori setahun lalu ketika awal mula aku dicap sebagai gadis aneh.
Juni, awal aku masuk di sekolah ini. Pada saat itu masa orientasi sekolah. Sebetulnya sekolah ini bukanlah di dusun terpencil. Malah di sebuah kota dan kami tinggal dipinggiran kota itu. Aku berasal dari SMP di Bojonegoro pindah ke kota ini karena bapak ibuku pindah tugas dan bertepatan dengan awal tahun ajaran baru.
Ketika itu, aku tak tau aturan MOS, pada saat technical meeting aku juga terlanjur sok kepinteran dan sok tau. Mana aku tau kalau disuruh menggunakan pakean daerah adat sekolah, yaitu baju batik khusus sekolah. Bodohnya aku malah menggunakan kebaya. Emang hari Kartini, dasar gadis aneh!!! Celetukan itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Taukah siapa yang mencapku itu??? Firman!!!. Betapa malunya aku, bayangkan tampil beda sendiri. Semua orang pake baju khas masing-masing asal sekolahnya. Hanya aku yang beda. Aku sumpahi diriku, aku kata-katai diriku, “Bodoh kamu. Kamu bodoh. Sok tau. Tau sok!!!”, aku tak bisa menahannya sampai-sampai aku menangis, tak ada seorang pun yang menghiraukan tangisanku, mereka terus-terus menertawaiku. Semakin lama aku menangis semakin keras tawa mereka. Aku terisak, napasku tersengal-sengal. Basah sudah jilbabku karena menangis malu. Aduh bodoh aku, sudah berumur hampir 16 tahun tapi masih menangis. Aihh tambah menjadi-jadi mereka tertawa. Lama juga aku menangis, mereka takut. Aku tak berhenti menangis. Aku kesulitan bernapas. Diam. Wajah pucat. Semua yang menertawakanku bingung.
Sebuah sapu tangan tersodor di hadapanku. Warnanya hitam, laki-laki barang kali yang memberikannya. Aku tak mau mengambilnya. Setelah lama aku tolak dengan tak menggubrisnya. Dia tetap disitu. Memegang tanganku lalu menyimpan sapu tangan itu di tanganku. Aku kaget. Aku toleh. Seorang gadis. Cantik tapi tak berjilbab. Dia tersenyum.
Ketika MOS berlangsung, ada materi tentang bimbingan psikologis. Spontan aku bertanya, bagaimana seandainya ketika kita dicap atau diberi label sebagai anak aneh???
Taukah apa yang diresponnya??? Pematerinya tertawa, teman-teman tertawa puas dalam terbahak-bahaknya mereka. Aku malu, malu sekali. Saat itu pun mungkin aku sadari bahwa mungkin aku memang hanya anak yang aneh… Nampaknya teori labeling mulai mempengaruhi otakku.
Setahun berteman denganku, dia merasa enjoy-enjoy saja. Dan akulah yang terus-terusan merasa bersalah. Dia harus membelaku ketika aku dikatai sebagai gadis aneh. Fia gadis manis berambut hitam lebat sebahu, dia memang tidak menggunakan jilbab, tinggi semampai,tidak ku pungkiri dia beda denganku. Di sudah berasal dari kota ini. Sedang aku, gadis jilbaber, selalu menggunakan rok, hobi membaca buku, tapi aku tak berkaca mata tebal, mungkin di kelas aku jarang berbicara. Aku masuk organisasi madding, karena Fia suka dengan tulisan-tulisanku, sehingga dia mendaftarkanku ke dalam grub mading. Sedang dia masuk OSIS dan karate, dia gesit dan cakap dalam berbicara. Duh… betapa bahagia orang tua Fia.
“Heh, lamunin sapa sih???”, teguran Fia membuatku kaget.
“Tidak ada kok…”
“Dasar oon, cerita gih kalo ada masalah”
“Hm… Hanya lamunin kisah hidup kita berdua”
“Hah… emang kamu kisah hidup kita ini menarik apa???”
“Hahahahaha…..”
“Dasar aneh, yuk pergi ke kelas”
Kami pun beranjak ke kelas, hingga pelajaran usai. Aku selalu bersama Fia. Meninggalkan kisahku yang belum selesai ku ingat.

Komentar

BACA JUGA