Rose Gane : galerii 1 "Teori Labelling"

Pagi ini kukayuh sepeda tuaku bersama Fia sahabatku. Sepedaku yang merupakan barang rongsokan yang dibeli ibuku dari toko loakan beberapa tahun lalu. Aku bukan termasuk keluarga kaya raya, yang bisa seenaknya meminta ini dan itu barang serba mewah kepada bapak ibuku. Pun bapak ibu hanyalah seorang pegawai negeri sipil  yang amatlah sangat sederhana.
“Waduh, tasku ketinggalan”, ucapku dengan nada kaget bin bingung.
“Kok bisa, mana dah jauh ini kita jalan”
“Fi, kamu tunggguin disini, bentar aja aku pergi ambil dulu tasku”
“Apa??? Asal cepat kamu datang”, gerutunya sembari menaikkan kerutan diatas jidatnya, dengan bibir manyun semakin maju tak gentar.
Seketika, aku melesat bagaikan seseorang yang sedang diburu oleh anjing galak yang gong-gongannya mengalah suara petir. Dengan napas tersengal-sengal, aku tetap melaju kayuh sepedaku. Mungkin menggunakan kecepatan 100 km perjam. Dan akhirnya akupun kembali pulang di rumah. Ibuku heran melihatku baru pergi 15 menit eh sudah nongol lagi, dia menyodorkanku dengan pertanyaan plus beranjak ke meja tuk mengambilkanku air putih.
“Ada yang ketinggalan…”, jawabku sekilas dengan sedikit berlarian ke kamarku untuk mengambil tasku.
Ibuku dengan seragam PNSnya hanya bengong melihatku seperti orang yang kebakaran jengot yang mencari ai untuk memadamkan api di jenggot. Dan aku masih bingung kenapa hingga hari ini aku selalu terserang penyakit pikun secara mendadak. Usai ku mangambil tas, akupun langsung menyambar air putih yang disediakan oleh ibuku tadi. Bapakku telah menunggu ibu dengan motor vespanya di ruang tamu.
“ Bapak, Ibu aku berangkat dulu ya..”, seraya ku cium kedua tangan bapak ibu berseragam PNS tersebut.
“ Lain kali, coba jangan selalu ceroboh. Ingat-ingat sesuatu. Ini sudah yang ke puluhan kalinya kamu lupa bawa tas”, pesan bapak sambil memperbaiki kerah bajunya.
“Siap BOS!!! Assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikum salam”
Ku lanjutkan perjalanku menuju tempat Fia, sahabat sebangsa dan sejenisku yang sedang menanti kedatanganku di pinggir jalan. Terlihat dari jauh tampak panik plus takut diwajahnya sambil ia terus-terusan melihat jam tangan kuno tahun 1999 merk Alba.
Ganeeee… cepetan….”, teriak Fia
Aku mengayuh sepeda makin cepat. Sambil berhosa-hosa ria juga. Napasku sudah tak teratur.
 “Ayo lanjut”, pinta Fia tanpa mengasihiniku sedikitpun.
“Tunggu dulu dodol… gak liat apa ini napas aku semaputan”
“Ayolah….”, pinta Fia lanyaknya orang butuh dikasihani. Tapi jelas-jelas lebih kasihan aku. Setelah istirahat 3 menit kami pun langsung tancap gas dengan melajukan sepeda..
Mendekati wilayah sekolah, bunyi bel baru berdecak. nyaris kami terlambat. Untungnya nasib baik masih diberikan kepada kami.
Gane, gak bisa apa ingat-ingat tas kamu???”, keluh Fia dengan keringatnya yang membasahi wajah dari dahi turun keringat-keringat kecil.
“hmm….”
“dasar gadis aneh!!!”
“kamu juga aneh, inget donk!!! kita kan sejenis dan seperjuangan…”, celotehku sambil tersenyum simpul untuk meredakan amarah Fia.
“What ever lah… Ayuk ke kelas…”, ajaknya datar nada yang dia ucapkan. Dan kemudian kami menuju kelas.
Hari ini sebenarnya tak ada apel. Namun demikian, tetap saja jika terlambat maka sangsi bersihkan kamar mandi telah menanti. Aku telah membuat Fia menemaniku membersihkan kamar mandi sudah kesekian kalinya, jadi yaa… mau tak mau aku harus berusaha memahaminya jika sudah keadaan genting terlambat seperti tadi.
“Lihat, dua anak aneh datang…!!!”, teriak seseorang di pintu kelas, tanpa melihatnya pun aku sudah tau sapa dia. Sapa lagi kalo bukan Firman. Sedikit informasi, Firman memiliki kebiasaan dan hobi selalu menghinaku. Aku dikatakan manusia aneh. Sebenarnya apa yang aneh dalam diriku. It’s OK. I’m not beautiful. Saya Jilbaber. Mata bulat. Bertahi lalat di pipi kanan. Kata orang tahi lalat di pipi itu cantik, namun mana cantiknya???
“Eh orang aneh, mana tugasmu. Pinjem!!!”, sambil mengulurkan tangan kirinya kepadaku, jelas-jelas Firman meminta seperti komandan saja yang sedang minta laporan kepada anak buahnya.
“Emang ada tugas ya???”, balas Fia dengan cetusnya.
“Hoe manusia aneh bin gadis aneh!!! Masa bisa lupa tugas.. hihihihihi…”, celotehnya sambil tertawa cekikikan seperti ada suster ngesot versi cowok.
“Maaf ya Komandan Firman. Tadi anda mengatakan kalo kami ini manusia aneh… Tidak bisa ya bicara dengan sedikit kata-kata yang halus??? Atau didik sedikit bahasa kamu!!!
Fia mulai naik pitam. Kami memang sudah sering kali diperlakukan seperti ini. Mungkin setelah teman-teman merasa dan melabel kami sebagai manusia aneh. Labelling jadi ingat aku akan pelajaran Sosiologi waktu kelas X. Padahal teori labelling itu sendiri adalah penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/ label dari masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut. Aiih padahal teori ini tak sejalan dengan yang aku alami. Buktinya saya tidak menyimpang. Hanya sedikit aneh, tapi itu pun hanya pendapat bedebah satu sok tau ini. Dan akhirnya penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut “anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel”. Atau penerapan lain “anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh”. Bisa juga seperti ini “Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar”. Dan aku “Anak gadis yang dicap aneh, diperlakukan seperti orang aneh, akhirnya akan menjadi aneh...”.. Aiii seandainya cantik, pintar, cerdas, atau apakah yang setidaknya berbau bagus-bagus sedikit maka aku mau-mau saja.Nasib oh nasib...

...
Fia kemudian pergi berlalu meninggalkan Firman yang tampak jelas kerutan kekecewaan dan sakit hati karena Fia. Tak lama kemudian masuk pelajaran pertama. Aku dan Fia duduk d bangku pertama, ku tengok ke belakang muka asli super kawatir tingkat tinggi telah terukir di wajah Firman. Fia tak memperdulikannya ketika ku beritahukan, ia hanya berkata, “Sudah cukup lama kita diperlakukan seperti gadis aneh…”


Komentar

BACA JUGA