Well Management (Pengelolaan Sumur Bor)

Oleh Istiqomah Shariati Zamani Hakim

Saat ini air semakin langkah diperoleh. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain karena semakin banyaknya industry yang membutuhkan pasokan air sebagai bahan baku komponen pendukung serta makin pesatnya laju pertumbuhan manusia yang mengakibatkan makin cepat juga laju eksplorasian air tanah.
Akibatnya air menjadi barang yang sulit diperoleh lagi, bahkan terkadang air menjadi barang yang mahal karena keterbatasaan ketersediaanya. Ini semua berakibat dari recharge area yang tidak seimbang dengan discharege area. Ketidakseimbangan ini terlihat dari jumlah air tanah yang dieksplorasi semakin tinggi dibandingkan air tanah yang meresap sebagai titik pengisian akuifer tanah.
Akhirnya dengan seiring berjalannya waktu, pasokan air yang ada di dalam akuifer terutama akuifer bebas atau (unconfined) akan semakin berkurang mengakibatkan terkadang sumur-sumur menjadi kering dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lagi. Dengan kemajuan ilmu yang dimiliki dan dengan dilihat dari factor ekonomi sehingga beberapa orang membuka jasa untuk membuat sumur bor. Sumur bor sendiri dibuat dengan langsung mengambil air tanah yang terletak jauh di akuifer dalam tanah. Pengambilannya dengan pipa dan umumnya menggunakan daya listrik sehingga energy yang dgunakan dapat menyedot air naik kepermukaan. Akibannya makin banyak energy yang terbuang percuma dari system pengambilan ini.
Karena alasan penggunaan air permukaan yang kurang dari segi kualitasnya maka banyak masyarakat beramai-ramai mulai menggali sumur bor demi mendapatkan air yang jumlahnya lebih banyak dan kualitasnya masih lebih baik dibanding air permukaan.
Dalam proses pengambilannya sering kali masyarakat lupa akan debit yang diambil. Akibatnya jumlah pengeksplorasian semakin tinggi dan tentunya dapat mengancam ketersediaan air tanah.

Urgensi Organisasi dan Tipe-Tipe Kepemimpinan

Oleh Istiqomah Shariati Zamani Hakim Asy’ari

Apa sih organisasi itu???
Untuk mengenal sesuatu kita harus tetap berpatokan pada konsep 5W+1H. Kenapa??? Jawabannya adalah karena untuk mengenal lebih lanjut.
a. What :
Apa organisasi itu???
Dalam ilmu biologi organisasi dapat dikatakan suatu hubungan antara satu dengan yang lainnya menjadi satu kesatuan dengan fungsi yang sama dan keseluruh bagian itu saling berkaitan. Demikianlah juga organisasi, adalah suatu wadah berkumpulnya orang sebagai sarana tempat terhubungnya satu visi dan misi yang sistematis dan rasional.
b. Who :
Siapakah pelaku-pelakunya???
Pelaku disini tentunya orang. Beberapa orang yang memiliki kemauan, tujuan, cita-cita, dan ide yang satu serta mau bekerja sama. Karena organisasi adalah system yang saling bekerja sama dalam menyatukan konsep untuk tercapainya visi dan misi.
c. Why :
Kenapa harus ada organisasi???
Kodrat manusia sebagai makhluk social, yang tentunya tak lepas dari hubungan dengan sesama manusia. Setiap manusia mempunyai satu keinginan, satu harapan dan satu tujuan. Tidak menutup kemungkinan jikalau dari ribuan orang yang ada di dunia ini. Ada 5 hingga 10 atau ratusan orang yang memiliki keinginan, harapan dan tujuan bersama. Sehingga dengan adanya organisasi ini, diharapkan agar terwujudnya konsep yang sama itu lebih efesien dan efektif terjadi karena adanya hubungan saling kerjasama.

d. When :
Kapan terbentuknya organisasi???
Organisasi dapat terbentuk kapan saja, asal dengan surat pengesahan dari pihak yang berwenang. Misalnya di kampus, ada sekelompok mahasiswa mau membuat organisasi ini-itu asal jadi, mereka tidak dapat bergerak menjadi organisasi jika tidak mendapat izin dari pihak kampus.

Selain itu, when juga dapat kita masukkan ke dalam arti, kapan pelaksanaan suatu program kerja organisasi. Jawabannya, suatu kegiatan dari program kerja dapat terlaksana pada waktu yang telah direncanakan, dimusyawarhkan bersama, serta hasil kesepakatan bersama.
e. Where :
Dimana pelaksanaan system organisasi itu???
Organisasi dapat berlangsung dimana saja, baik instansi, lembaga, unit-unit kegiatan, dan berbagai tempat. Namun yang perlu digaris bawahi adalah organisasi memiliki suatu surat pengesahan, dan ada sistematikan pembentukannya.
Dimana juga dapat diartikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan yang telah direncanakan di dalam organisasi. Misalnya, mau mengadakan makrab, LDK, dan lain lain. Tentunya harus ada tempatnya. Tidak mungkin tanpa tempat. Tempat dapat berupa desa ini, desa itu, disana, disini, dan disitu.
f. How :
Bagaimana???
Bagaimana ini, diartikan dulu sebagai bagaimana cara organisasi bekerja. Kembali pada konsep wadah satu konsep dari makhluk social. Dari situ, kita dapat mengambil makna bahwa, organisasi dapat bekerja dengan cara kerjasama antar tim atau anggota.

Apa bedanya antara Pemimpin dan Kepemimpinan???
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain.
Arti kepemimpinan adalah sikap seseorang yang dapat memengaruhi orang lain atau kelompok, serta dapat mengatur keadaan kelompok atau organisasi yang dipimpinya.
Tipologi Kepemimpinan
Berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
a. Tipe Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
1. Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi;
2. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
3. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata;
4. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
5. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya;
6. Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
b. Tipe Militeristis. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
1. Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;
2. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya;
3. Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan;
4. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan;
5. Sukar menerima kritikan dari bawahannya;
6. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
c. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
1. menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
2. bersikap terlalu melindungi (overly protective);
3. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan;
4. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
5. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya;
6. dan sering bersikap maha tahu.
d. Tipe Karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.



e. Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;
2. selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya;
3. senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya;
4. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan;
5. ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain;
6. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya;
7. dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.


a. Pertama, memiliki sifat seperti matahari atau sang surya. Setiap pagi selalu terbit dari sebelah timur dan sore akan tenggelam sebelah barat tepat pada waktunya. Dia memberikan kekuatan, energi, semangat, dan harapan untuk hidup. Dari sifat atau watak sang surya itulah, manusia dapat mencontoh sifat kedisiplinan dalam menjalani kehidupan, selalu memberikan kekuatan, semangat, dan harapan bagi dirinya dan kemudian ditularkan kepada semua yang ada di sekelilingnya, terutama keluarga dan masyarakat. Selain itu, matahari pelita dunia dan diharapkan manusia juga dapat berperan sebagai penerang kehidupan bermasyarakat. Jangan sebaliknya, menimbulkan ketidakdisiplinan kinerja, menciptakan situasi panas, tidak bersemangat kerja, dan menumbuhkan permusuhan satu sama lain.

b. Kedua, watak bulan atau sang candra. Saat malam, sinar matahari sudah tidak lagi menerangi sebagian bumi sehingga sinar bulan akan menggantikan kedudukan matahari, yaitu penerang malam. Makna filosofisnya, pemimpin harus bisa mencontoh bulan yang dapat menerangi diri sendiri dan orang lain saat dalam kegelapan hati dan pikiran.
Pengertian penerangan adalah memberikan nasihat, penjelasan, pendidikan, dan memberikan suri taudalan bagi orang yang belum mengerti atau yang sesat. Bukan sebaliknya, malah tidka memberikan contoh yang baik, mudah sekali berkata bohong dan bertindak diktator, serta membiarkan masyarakat tetap hidup dalam kegelapan.

c. Ketiga, bintang atau sang kartika. Bintang dapat dijadikan sebagai pedoman para nelayan atau pelaut yang fungsinya dapat menggantikan peralatan kompas jika ingin bepergian berlayar pada malam hari. Filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa memberikan pedoman atau petunjuk cara melangkah ke arah yang benar supaya tidak tersesat, menjadi teladan bagi orang lain, dan hendaknya dapat menampilkan diri dengan baik dan benar serta tidak mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari aturan.

d. Keempat, bumi, tanah atau kisma. Tanah atau bumi memiliki sifat sabar, welas asih atau murah hati. Biar bumi diinjak-injak, digali, dibom, bahkan diperlakukan apa saja, ia tidak akan bereaksi apa pun dan akan menerima apa adanya. Filosofisnya, seorang pemimpin hendaknya bisa mencontoh bumi, yaitu sebagai tempat berpijak, tumpuan bagi orang yang berkeluh-kesah dan pengayoman masyarakat. Bukan sebaliknya, tempat keresahan, kegundahan, dan ketidakpastian.

e. Kelima, laut, samudera tau baruna. Laut merupakan muara (hilir) semua sungai yang mengalir dari pegunungan (hulu), baik berasal dari sungai besar atau kecil, sungai bersih atau kotor (berpolusi), maupun sungai yang berkelo-kelok atau lurus. Filosofisnya, pemimpin hendaknya harus siap sebagai penampung berbagai kesulitan yang sedang dilanda masyarakat, penciptaan kehidupan, kesabaran, penyejuk, kehausan akan informasi, dan transformasi. Bukan menjadi penciptaaan bencana dalam kehidupan yang sulit dan tidak mau menerima keluhan masyarakat serta apatis.

f. Keenam, api atau dahana. Sifat api adalah melahap apa saja yang ada di dekatnya tanpa melihat siapa, apa, kapan, dimana, dan mengapa. Filosofisnya, seorang pemimpin harus berani bertindak tegas dan tanpa pandang bulu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai tempat penerang hati-nurani, pelita hidup dan kehidupan. Bukan sebaliknya, pemicu, provokator atau pembangkit nafsu amarah dan nafsu setan serta membiarkan ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam tata kehidupan bernegara.

g. Ketujuh, angin atau maruta. Sifat angin bis abertiup ke mana-mana dan ada di mana-mana yang tidak membedakan ruang, waktu, dan tempat. Nilai filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa masuk ke segala lini, tidak membedakan suku, bangsa, ras, dan agama yang bisa dirasakan sampai ke masyarakat tingkat bawah sekalipun.

h. Kedelapan, langit atau angkasa. Langit merupakan tempat bagi benda-benda langit, yaitu bintang, bulan, meteor, dan komet. Pada saat langit mendung dan terlihat hitam kelam disertai dengan suara gelegar guntur maupun kilatan petir yang akhirnya muncul hujan deras, langit tetap diam dan tidak pernah protes. Filosofisnya,
seorang pemimpin harus tetap tegar, perkasa, dan percaya diri dalam menghadapi suara masyarakat yang kencang, tekanan, dan berbagai tantangan lainnya.

Pada saat udara cerah, langitpun cerah. Sehingga seorang pemimpin haruslah memiliki sifat berwibawa dan selalu bermanfaat.



Sumber referensi:
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/01/tipe-tipe-kepemimpinan.html
http://infolab.uns.ac.id/wp-content/uploads/.../5a-kepemimpinanrevdes02.doc
http://muhamadalisaifudin.blogspot.com/2009/11/8-ciri-pemimpin-yang-baik.html

Sekilas Seluk-Beluk Sel


Di dunia terdapat tidak kurang dari 500 juta macam organisme. Organisme tersebut memiliki ciri – ciri yang beraneka ragam. Begitu beragamnya organisme ini sehingga di perlukan suatus sistem untuk mengenal dan mempelajarinya. Beberapa ahli biologi mencoba menciptakan suatu sistem untuk mempermudah mengenal dan mempelajari organisme melalui suatu cara pengkalsifikasian. Pengklasifikasian merupakan proses berdasarkan ciri tertentu.

Mengenal Pithecollobum Jiringa alias Jengkol

a.       Deskripsi Pithecollobium Jiringa
Jengkol atau jering dalam bahasa latin Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum adalah tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara, termasuk yang digemari di Malaysia, Thailand dan Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat yang seharinya dikonsumsi ±100 ton. Jengkol termasuk tanaman polong-polongan. Buahnya berupa polong dan bentuknya gepeng berbelit membentuk spiral, berwarna lembayung tua. Biji buah berkulit ari tipis dengan warna coklat mengilap. Jengkol dapat menimbulkan bau tidak sedap pada urin setelah diolah dan diproses oleh pencernaan, terutama bila dimakan segar sebagai lalap.